Maulana Ilyas Kandhlawi

Maulana Ilyas Kandhlawi adalah pendiri Jamaah Tabligh. Beliau adalah sosok yang sangat saleh serta memiliki kekhawatiran dan kepedulian yang mendalam terhadap Islam. Beliau lahir pada tahun 1885 dan wafat pada tahun 1944 di usia 59 tahun. Beliau memulai gerakan ini pada tahun 1926 setelah kembali dari haji keduanya. Tulisan berikut adalah biografinya yang diambil dari buku 'Life and Mission of Maulana Ilyas' karya Syed Abul Hassan Ali Nadwi (Unduh di sini)

Kata Pengantar

Klik di sini untuk membaca Kata Pengantar buku ini yang ditulis oleh Maulana Manzoor Nomani.

Bab 1: Masa Awal

Di pinggiran Delhi, dekat makam Khwaja Nizamuddin, tinggallah seorang yang saleh di rumah di atas gerbang merah bangunan bersejarah bernama Chaunsath Khamba. Namanya adalah Maulana Mohammad Ismail.

Ibadah, Zikir, melayani kebutuhan para musafir, mengajarkan Al-Qur'an dan memberikan pengajaran Agama adalah satu-satunya kesibukan dalam hidupnya. Beliau biasa menurunkan beban dari kepala para buruh yang kehausan yang lewat di jalan itu. Beliau kemudian meletakkannya di tanah, menimba air dari sumur dan memberikannya kepada mereka untuk diminum. Kemudian beliau melaksanakan dua rakaat Shalat sebagai ungkapan syukur kepada Allah karena diizinkan untuk melayani hamba-hamba-Nya meskipun beliau merasa tidak layak. Beliau telah mencapai keadaan Ihsan.

Maulana Mohammad Ismail menjalin hubungan dengan Mewat

Hubungan dengan Mewat terjalin semasa hidup Maulana Mohammad Ismail. Diceritakan bahwa suatu kali beliau keluar dengan harapan menemukan seorang Muslim yang dapat beliau ajak ke masjid untuk shalat bersama. Saat bertemu beberapa buruh Muslim, beliau menanyakan ke mana mereka hendak pergi. "Kami sedang mencari pekerjaan," jawab mereka. "Berapa yang kalian harapkan untuk didapat?" tanya Maulana Mohammad Ismail. Para buruh itu kemudian memberitahunya tentang upah harian yang biasa mereka terima. Maulana Mohammad Ismail kemudian bertanya, "Jika saya memberi kalian jumlah yang sama di sini, apa gunanya pergi ke tempat lain?" Para buruh itu setuju dan Maulana Mohammad Ismail membawa mereka ke Masjid dan mulai mengajarkan mereka Shalat dan Al-Qur'an.

Beliau kemudian membayar upah mereka setiap hari dan tetap membuat mereka sibuk dengan pelajaran mereka. Dalam beberapa hari, mereka mengembangkan kebiasaan melaksanakan Shalat. Demikianlah awal mula Madrasah di Bangle Wali Masjid. Para buruh ini adalah murid pertamanya. Setelah mereka, sekitar sepuluh murid Mewati senantiasa berada di Madrasah tersebut.

Wafatnya Maulana Mohammad Ismail

Maulana Mohammad Ismail wafat pada tanggal 26 Februari 1898. Maulana Mohammad Ismail memiliki tiga putra: Maulana Mohammad dari istri pertama, serta Maulana Yahya dan Maulana Ilyas dari istri kedua.

Masa Kecil Maulana Ilyas

Maulana Ilyas lahir pada tahun 1885. Masa kecilnya dihabiskan di rumah kakek dari pihak ibunya di Kandhla dan bersama ayahnya di Nizamuddin.

Warisan kesalehan Keluarga Kandhla

Pada masa itu, keluarga Kandhla adalah buaian kesalehan dan ketakwaan, sedemikian rupa sehingga laporan tentang tingginya keagamaan, ibadah malam, Zikir dan Tilawat para anggotanya, baik pria maupun wanita, akan terasa mengada-ada dan fiktif bagi orang yang lemah hati di zaman kita.

Para wanita biasa membaca Al-Qur'an sendiri dalam Shalat Nafl serta mendengarkan bacaannya dalam Tarawih dan shalat Nafl lainnya sambil berdiri di belakang kerabat pria. Bulan Ramadan, khususnya, adalah musim semi bagi Al-Qur'an. Al-Qur'an dibaca berjam-jam, hampir di setiap rumah. Batas peresapannya begitu dalam sehingga terkadang, para wanita lupa memperhatikan purdah dan tidak menyadari kedatangan orang luar ke rumah pada saat yang mendesak.

Al-Qur'an beserta terjemahan dan tafsirnya dalam bahasa Urdu, serta 'Mazahir-e-Haq', 'Mashoriq-ul-Anwar', dan 'Hisn-i-Haseen' menjadi batas pendidikan para wanita. Perbuatan dan pencapaian keluarga Syed Ahmad Shaheed dan Shah Abdul Aziz Dehlavi menjadi tema perbincangan yang paling populer, dan fakta-fakta tentang tokoh-tokoh Allah yang mulia ini ada di bibir semua orang. Alih-alih cerita raja-raja dan peri, para wanita di rumah akan menceritakan kisah-kisah ini kepada anak-anak.

Kesalehan Nenek Maulana Ilyas

Nenek dari pihak ibu Maulana Ilyas, Amtus Salam, adalah putri Maulana Muzaffar Hussain. Beliau dikenal dalam keluarga sebagai Ammi Bi dan merupakan wanita yang sangat saleh. Tentang Shalatnya, sang Maulana pernah berkata bahwa "Saya melihat kemiripan Shalat Ammi Bi dengan Shalat Maulana Gangohi"

Pada fase terakhir hidupnya, keadaan Ammi Bi adalah beliau tidak pernah meminta makanan dan hanya makan ketika seseorang meletakkannya di hadapannya. Itu adalah keluarga besar dan selalu ada banyak yang harus dikerjakan. Ketika pikiran untuk makan tidak terlintas di benaknya di tengah kesibukan rumah tangga, beliau begitu saja kelaparan. Suatu kali, seseorang berkata kepadanya, "Engkau sudah begitu tua dan lemah. Bagaimana engkau bisa bertahan tanpa makan?". "Saya mendapatkan kekuatan dari Tasbihat saya," jawabnya.

Kesalehan Ibu Maulana Ilyas

Ibu Maulana Ilyas, Bi Sofia, telah menghafal Al-Qur'an dan mencapai keistimewaan besar di dalamnya. Sudah menjadi kebiasaan rutin baginya untuk membaca seluruh Al-Qur'an dan tambahan sepuluh Para setiap hari selama Ramadan. Dengan demikian beliau menyelesaikan 40 kali khataman Al-Qur'an dalam bulan itu. Beliau begitu lancar sehingga tugas-tugas rumah tangganya tidak terganggu karenanya. Beliau umumnya tetap sibuk dengan suatu pekerjaan sambil melakukan bacaan tersebut. Selain bulan Ramadan, rutinitas ibadah hariannya meliputi: Durood Syarif 5.000 kali, Isme-Zaat Allah 5.000 kali, Bismillahirahmaan Nir Rahim 1.000 kali, Ya Mughnee 1.000 kali, La-ilaha illallah 1.200 kali, Ya Haiyu Ya Qayyum 200 kali, Hasbiallah wa Ni'mul Wakeel 500 kali, Subhanallah 200 kali, Alhamdulillah 200 kali, Allahu Akbar 200 kali, Istighfar 500 kali, Hasbunallahu Wa Ni'mal Wakeel 1.000 kali, Las ilaaha Illa Anta Subhanakan Inni Kuntu Minas Zalimeeen 100 kali. Selain itu, beliau membaca Manzil Al-Qur'an setiap hari.

Pendidikan Awal Maulana Ilyas

Seperti anak-anak lain dalam keluarga, sang Maulana memulai pendidikannya di Maktab dan sesuai tradisi keluarga, menghafal Al-Qur'an. Pembelajaran Al-Qur'an begitu umum dalam keluarga tersebut, sehingga dalam satu setengah baris jamaah di masjid keluarga, tidak ada satu pun yang bukan Hafiz kecuali sang Muazin.

Maulana Ilyas adalah cucu kesayangan Ammi Bi. Beliau biasa berkata kepadanya, "Ilyas, aku merasakan aroma para Sahabat pada dirimu." Kadang-kadang, sambil meletakkan tangannya di punggung Maulana, beliau berkata, "Bagaimana bisa aku melihat sosok-sosok yang menyerupai para Sahabat bergerak bersamamu?"

Sejak masa kecilnya, telah tertanam dalam diri Maulana Ilyas sentuhan semangat keagamaan dan gairah yang membara dari para Sahabat, yang membuat Syaikhul Hind Maulana Mahmood Hasan berkomentar: "Ketika saya melihat (Maulana) Ilyas, saya teringat pada para Sahabat."

Semangat dan antusiasme untuk Iman tertanam dalam wataknya. Bahkan di masa kecilnya, beliau kadang melakukan hal-hal yang jauh di atas tingkat umum anak-anak. Riazul Islam Kandhlawi, teman sekelasnya di Maktab, bercerita bahwa Maulana Ilyas pernah datang membawa tongkat dan berkata, "Ayo, Riazul Islam, mari kita berjihad melawan mereka yang tidak melaksanakan Shalat"

Masa Tinggal Maulana Ilyas di Gangoh

Pada tahun 1893, kakak laki-lakinya, Maulana Yahya, pergi tinggal di Gangoh bersama Maulana Rasheed Ahmad Gangohi. Maulana Ilyas biasa tinggal bersama ayahnya di Nizamuddin, dan kadang-kadang bersama keluarga kakeknya dari pihak ibu di Kandhla. Di Nizamuddin, pendidikannya terabaikan karena rasa sayang berlebihan sang ayah kepadanya serta kesibukan sang ayah dengan shalat. Maulana Yahya kemudian meminta kepada ayahnya, karena pendidikan Ilyas terbengkalai, agar diizinkan membawanya ke Gangoh. Sang ayah setuju, dan Maulana Ilyas tiba di Gangoh pada tahun 1896 (atau awal 1897), di mana Maulana Yahya mulai mengajarinya secara teratur. Gangoh, pada masa itu, adalah pusat para wali dan ulama sufi, yang manfaat kebersamaan dengan mereka senantiasa dapat dirasakan oleh Maulana Ilyas. Sebagian besar masa mudanya yang mudah terbentuk dihabiskan di sana. Ketika ia pergi tinggal di Gangoh, usianya 10 atau 11 tahun. Pada saat wafatnya Maulana Rasheed Ahmed Gangohi pada tahun 1905, ia adalah seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Dengan demikian, ia tinggal bersama Maulana Gangohi selama sekitar 9 tahun. Maulana Yahya adalah seorang guru dan pembimbing yang ideal. Ia menginginkan adiknya memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kebersamaan dengan orang-orang mulia tersebut. Maulana Ilyas biasa berkata bahwa ketika para Ulama yang merupakan murid atau pengikut kesayangan Maulana Gangohi datang ke Gangoh, kakaknya sering menghentikan pelajaran. Ia kemudian berkata bahwa pendidikannya adalah duduk bersama mereka dan mendengarkan percakapan mereka.

Maulana Ilyas Mengambil Bai'at kepada Maulana Gangohi

Biasanya, Maulana Gangohi tidak mengambil Bai'at dari anak-anak dan para murid. Hanya setelah mereka menyelesaikan pendidikan, ia mengizinkan mereka mengambil janji setia tersebut. Namun karena keistimewaan luar biasa pada diri Maulana Ilyas, atas permintaannya, ia diizinkan untuk berbai'at di tangan beliau.

Kasih Sayang Maulana Ilyas kepada Maulana Gangohi

Maulana Ilyas dilahirkan dengan hati yang penuh cinta. Ia mengembangkan keterikatan yang begitu kuat kepada Maulana Gangohi sehingga ia tidak merasa tenang tanpa kehadirannya. Ia sering bangun di malam hari, pergi melihat wajah sang Maulana, lalu kembali ke tempat tidurnya. Maulana Gangohi pun sangat menyayanginya. Suatu kali, Maulana Mohammad Ilyas berkata kepada kakaknya, Maulana Yahya, bahwa jika sang Maulana setuju, ia ingin duduk di dekatnya saat belajar. Ketika Maulana Yahya menyampaikan permintaan itu kepada Maulana Gangohi, beliau berkata, "Tidak ada salahnya. Kehadiran Ilyas tidak akan mengganggu privasiku, juga tidak akan memengaruhi ketenangan pikiranku".

Pada saat Zikir, Maulana Ilyas biasa merasakan semacam beban di hatinya. Ketika ia menyampaikan hal itu kepada Maulana Gangohi, sang Maulana tergetar. Beliau berkata bahwa "Maulana Mohammad Qasim pernah mengeluhkan perasaan serupa kepada Haji Imdadullah, yang kemudian ditanggapi oleh Haji Saheb bahwa Allah akan mengambil suatu pengkhidmatan khusus darinya"

Kesehatan Maulana Ilyas yang Bermasalah

Kesehatan Maulana Ilyas tidak pernah baik. Di Gangoh, kondisinya semakin memburuk dan ia mulai mengalami serangan sakit kepala hebat, yang membuatnya tidak dapat menundukkan kepala bahkan untuk melakukan Sujud di atas bantal selama berbulan-bulan. Putra Maulana Gangohi, Hakim Masud Ahmad, yang merupakan dokternya, memiliki metode pengobatan yang khas. Dalam penyakit-penyakit tertentu, ia melarang penggunaan air untuk waktu yang lama, yang sulit ditanggung oleh kebanyakan pasien. Namun dengan kekuatan tekad yang menjadi ciri khasnya, Maulana Ilyas mematuhi dengan ketat nasihat dokternya dan menahan diri dari minum air selama 7 hari penuh, dan selama lima tahun berikutnya, ia meminumnya dengan sangat sedikit.

Ada sedikit harapan bahwa ia akan mampu melanjutkan pendidikannya setelah terhenti karena sakit. Ia sangat ingin melanjutkannya kembali, tetapi orang-orang yang menyayanginya tidak mengizinkan. Suatu hari, ketika Maulana Yahya bertanya kepadanya apa gunanya belajar dalam keadaan seperti itu, ia menjawab, "Apa gunanya aku hidup?". Akhirnya, ia berhasil melanjutkan kembali pelajarannya.

Wafatnya Maulana Gangohi

Wafatnya Maulana Gangohi terjadi pada tahun 1905. Maulana Ilyas, yang berada di sisi ranjangnya pada saat-saat terakhir dan membacakan Surah Ya-Sin, begitu terpukul oleh peristiwa itu sehingga ia sering berkata, "Ada dua kejadian yang paling menyakitkan bagiku. Satu adalah wafatnya ayahku, dan yang lainnya adalah wafatnya Maulana Rasheed Ahmad Gangohi".

Maulana Ilyas Belajar di Deoband

Pada tahun 1908, Maulana Ilyas pergi ke Deoband di mana ia mempelajari Tirmizi dan Sahih Bukhari dari Maulana Mahmood Hasan. Beliau menyarankan agar Maulana Ilyas mendekati Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri untuk bimbingan dan pengajaran spiritual, karena gurunya, Maulana Rasheed Ahmad Gangohi, telah tiada. Dengan demikian, ia menyelesaikan berbagai tahapan Suluk di bawah bimbingan Maulana Saharanpuri.

Penyerapan Diri dalam Shalat

Selama masa tinggalnya di Gangoh, setelah wafatnya Maulana Gangohi, Maulana Ilyas umumnya tetap diam dan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam perenungan. Maulana Zakariyya berkata, "Kami belajar bahasa Persia dasar darinya pada masa itu. Kebiasaannya saat itu adalah duduk bersila, dalam keheningan total, di atas tikar kasar di belakang makam Syah Abdul Quddus. Kami menghadap untuk pelajaran, membuka buku, dan meletakkannya di hadapannya, menunjukkan dengan jari di mana kami harus mulai pada hari itu. Kami membaca dengan suara keras dan menerjemahkan ayat-ayat Persia. Ketika kami membuat kesalahan, ia akan menutup buku dengan gerakan jari dan pelajaran pun berakhir. Itu berarti kami harus kembali, mempersiapkan pelajaran dengan matang, lalu datang lagi. Ia sering melaksanakan Shalat Nafl pada masa itu. Dari Maghrib hingga sesaat sebelum Isya, ia mengabdikan diri sepenuhnya pada Nawafil. Usianya saat itu antara 20 dan 25 tahun.

Kontak dengan Guru-Guru Spiritual Lainnya

Kontak rutin dengan guru-guru spiritual lain dan para murid Maulana Gangohi tetap terjaga pada masa itu. Mengenai Syah Abdul Rahim Raipuri dan Maulana Ashraf Ali Thanwi, Maulana Ilyas biasa berkata bahwa mereka berdua bersemayam di dalam hatinya. Mereka pun sangat menghormati dan menyayanginya karena kualitas-kualitas luar biasa yang dimilikinya.

Semangat Jihad

Bersama dengan Zikir, Asyghal, Nawafil, dan Ibadah, Maulana Ilyas juga dipenuhi dengan semangat Jihad. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah lepas darinya dan telah mengambil janji Jihad di tangan Maulana Mahmood Hasan karena alasan itu pula.

Penilaian Para Elders terhadap Maulana Ilyas

Sejak masa mudanya, ia dijunjung tinggi oleh Para Elders keluarga maupun para pemimpin spiritual pada zamannya. Maulana Yahya bagaikan seorang ayah baginya, namun sikap sang kakak terhadap adiknya itu layaknya sikap Nabi yang mulia terhadap Hazrat Usman.

Penghormatan Tinggi Maulana Yahya kepada Maulana Ilyas

Kesehatan yang kurang baik membuatnya tidak dapat ikut serta dalam tugas-tugas yang melibatkan kerja fisik. Ia berkonsentrasi penuh pada studinya, Zikir, dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Maulana Yahya, sebaliknya, adalah orang yang sangat rajin. Ia memiliki sebuah toko buku yang dikelolanya dengan penuh perhatian. Toko itu bukan hanya sumber penghidupannya, tetapi juga sumber penghidupan saudara-saudaranya. Suatu hari, manajer toko itu berkata bahwa Maulana Ilyas tidak menunjukkan minat apa pun pada bisnis tersebut, yang tidak baik karena ia juga mendapat manfaat darinya. Ketika Maulana Yahya mendengar hal itu, ia sangat marah dan berkata, "Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa rezeki yang sampai kepadamu dan pertolongan yang kamu terima dari Allah adalah berkat keberkahan orang-orang yang lemah di antara kalian". Saya percaya bahwa saya menerima rezeki saya berkat keberuntungan anak ini. Tidak ada yang boleh dikatakan kepadanya di masa depan. Jika ada yang perlu dikatakan, katakanlah kepada saya.

Maulana Ilyas diminta untuk memimpin Shalat

Kadang-kadang, Maulana Ilyas diminta untuk memimpin Shalat di hadapan para Ulama dan pemimpin spiritual terkemuka. Suatu kali Shah Abdur Rahim Raipuri, Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri dan Maulana Ashraf Ali Thanwi kebetulan berada di Kandhla. Ketika waktu Shalat tiba dan Maulana Ilyas diminta untuk memimpinnya, seorang anggota senior keluarga, Maulana Badrul Hasan, dengan bercanda berkata bahwa "Mesin sekecil itu dipasang pada begitu banyak gerbong besar". "Itu tergantung pada tenaga (bukan ukuran) mesinnya", jawab salah satu dari mereka.

Karier Maulana Ilyas di Mazahirul Ulum Saharanpur

Pada tahun 1910, sejumlah besar orang, termasuk sebagian besar guru senior dari Madrasah Mazahirul Ulum, berangkat untuk menunaikan Haji dari Saharanpur. Hal ini membuat perlunya merekrut guru sementara untuk Madrasah tersebut. Maulana Ilyas dipilih sebagai salah satunya. Ia diberi buku-buku tingkat menengah untuk diajarkan. Setelah para guru senior kembali dari Haji, semua guru baru dibebaskan dari tugas mereka, tetapi layanan Maulana Ilyas tetap dipertahankan.

Di Mazahirul Ulum, Maulana Ilyas harus mengajarkan beberapa buku yang belum pernah ia baca sendiri. Karena metode pengajaran Maulana Yahya, tidak lazim untuk menyelesaikan buku-buku tersebut secara tuntas. Maulana Ilyas juga harus melewatkan beberapa buku tingkat menengah karena kesehatannya yang buruk. Selama masa mengajarnya, ia berusaha menutupi kekurangannya dan mempersiapkan pelajarannya dengan cermat. Misalnya, untuk mengajarkan 'Kanzul Daqaiq', ia mempelajari 'Bahr-ur-Raiq', 'Syaami' dan 'Hadaya', dan bahkan berkonsultasi dengan catatan dan komentar Hisami ketika ia mengajarkan 'Nurul Anwaar'.

Pernikahan Maulana Ilyas

Maulana menikahi putri dari pamannya dari pihak ibu, Maulana Rauful Hasan, pada hari Jumat, 17 Oktober 1912. Akad Nikah dilaksanakan oleh Maulana Mohammad. Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri, Shah Abdur Rahim Raipuri dan Maulana Ashraf Ali Thanwi hadir dalam acara tersebut. Ceramah termasyhur Maulana Thanwi, 'Fuwayid-us-suhbat', yang kemudian diterbitkan berkali-kali, disampaikan pada kesempatan itu.

Haji Pertama Maulana Ilyas

Pada tahun 1915, Maulana Ahmad Khalil Saharanpuri dan Maulana Mahmood Hassan memutuskan untuk pergi menunaikan ibadah Haji. Ketika Maulana Ilyas mengetahui hal ini, ia merasakan keinginan yang kuat untuk menunaikan Haji. Ia merasa bahwa keadaan akan menjadi gelap dan suram di India dengan kepergian mereka, dan ia tidak akan mampu tinggal lagi di Saharanpur. Namun, Maulana Ilyas tidak memiliki biaya untuk itu. Saudarinya, istri dari Moulvi Ikramul Hassan, melihat kesulitannya dan menawarkan perhiasannya untuk membiayai perjalanan haji tersebut. Di luar dugaan, ibu Maulana Ilyas memberikan izinnya, yang kemudian juga disetujui oleh Maulana Yahya. Maulana Ilyas kemudian menulis surat kepada Maulana Khalil Ahmad Saharapuri untuk meminta izinnya. Ia menjelaskan bahwa sejauh menyangkut perbekalan perjalanan, ada tiga pilihan yang tersedia baginya. Ia bisa mengambil perhiasan saudarinya, meminjam sejumlah uang, atau menerima tawaran uang dari beberapa kerabat. Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri lebih memilih pilihan ketiga.

Maulana Ilyas cukup beruntung dapat berlayar dengan kapal yang sama dengan Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Ia berlayar pada Agustus 1911 dan kembali pada Februari 1915 untuk melanjutkan mengajarnya di Madrasah.

Bab 2 – Tinggal di Nizamuddin

Maulana Yahya wafat pada hari Rabu, 9 Agustus 1915. Dua tahun setelah wafatnya Maulana Yahya, kakak tertua Maulana Ilyas, Maulana Mohammad juga wafat. Ia menghembuskan napas terakhirnya saat sedang melakukan Sujud dalam Shalat Witir pada tahun 1917.

Maulana Ilyas datang ke Delhi untuk merawat saudaranya yang sakit dan tinggal bersamanya di Masjid Nawan Wali di Qassab Para. Di sanalah Maulana Mohammad meninggal dan pemakamannya berlangsung di Nizamuddin. Ribuan orang menghadiri pemakaman tersebut.

Maulana Ilyas didesak untuk menggantikan saudaranya di Nizamuddin

Setelah pemakaman, orang-orang mendesak Maulana Ilyas untuk tinggal di Nizamuddin guna mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh wafatnya ayah dan saudaranya. Mereka juga menjanjikan sumbangan bulanan untuk Madrasah, yang disetujui oleh Maulana Ilyas dengan syarat-syarat tertentu yang ia patuhi sepanjang hidupnya.

Maulana Ilyas telah menegaskan bahwa ia akan datang ke Nizamuddin dan mengambil alih Madrasah hanya jika Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri menyetujuinya. Mendengar hal itu, beberapa orang menawarkan diri untuk pergi ke Saharanpur guna memperoleh izin, tetapi Maulana Ilyas mencegah mereka dengan mengatakan bahwa bukan itu cara yang tepat. Ia akan pergi sendiri, tanpa ditemani siapa pun.

Maulana Ilyas kemudian pergi ke Saharanpur dan menjelaskan seluruh permasalahannya kepada Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Yang disebut terakhir memberikan persetujuannya, tetapi menambahkan bahwa untuk pertama kalinya, hanya cuti selama satu tahun yang diambil dari Mazaahirul Ulum, dan jika masa di Nizamuddin terbukti bermanfaat dan diputuskan untuk menetap di sana secara permanen, ia dapat mengundurkan diri kapan saja.

Kepindahan Maulana Ilyas ke Nizamuddin

Namun sebelum Maulana Ilyas dapat pindah ke Nizamuddin, ia tiba-tiba jatuh sakit karena radang selaput paru-paru. Ia kemudian pergi ke Kandhla di mana kondisinya semakin memburuk. Suatu malam, penyakitnya berubah begitu parah sehingga semua harapan pun sirna. Denyut nadinya melemah dan tubuhnya menjadi dingin. Namun, Allah SWT telah merencanakan untuk mengambil pekerjaan darinya. Maka, secara tak terduga, kondisinya mulai membaik dan dalam beberapa hari ia sudah dapat bangun dari tempat tidur.

Setelah pulih kesehatannya, Maulana Ilyas datang ke Nizamuddin dari Kandhla. Pada masa itu, belum ada permukiman di kawasan Nizamuddin, dan di sekitar masjid hanya terdapat pepohonan lebat dan semak belukar. Maulana Ihtishamul Hasan, yang pada masa kecilnya pernah tinggal beberapa waktu bersama Maulana Ilyas, berkata, "Saya biasa keluar dan berdiri dengan harapan melihat seseorang datang. Ketika ada orang yang muncul, saya merasa begitu senang seolah-olah seseorang telah memberi saya hadiah yang berharga."

Kondisi Kehidupan di Nizamuddin

Sebuah Masjid kecil yang terbuat dari bata, sebuah gubuk, sebuah tempat tinggal, sebuah permukiman kecil bagi para penjaga makam di sebelah selatan, dan beberapa pelajar Mewati maupun bukan Mewati; itulah seluruh dunia masjid dan Madrasah tersebut.

Sumber daya Madrasah itu begitu terbatas sehingga terkadang mereka harus menahan lapar. Namun Maulana Ilyas menanggung semua itu dengan hati yang tetap gembira. Sesekali, beliau berkata terus terang bahwa tidak ada yang bisa dimakan. Siapa pun yang ingin tinggal boleh tinggal, tetapi siapa pun yang ingin pergi boleh pergi dan mencari penghidupan di tempat lain. Namun, pembinaan akhlak dan spiritual yang diterima para pelajar itu sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun bersedia pergi. Mereka sering hidup dari buah-buahan sisa. Para ulama sendiri membawa kayu bakar dari hutan untuk membuat Chapati yang mereka makan dengan sambal. Kemiskinan yang ekstrem itu sama sekali tidak berpengaruh pada Maulana Ilyas. Yang membuatnya khawatir justru prospek kelimpahan dan kemakmuran yang, ia yakin, pasti akan terbuka sebagaimana Allah SWT selalu melakukannya setelah suatu masa ujian dan kesulitan.

Maulana Ilyas Tidak Menghiraukan Kondisi Kehidupan di Nizamuddin

Penampilan luar Madrasah sama sekali tidak menarik perhatian Maulana. Beliau benar-benar tidak menghiraukannya. Suatu kali, saat beliau sedang tidak ada, beberapa tempat tinggal untuk para staf dibangun melalui usaha Haji Abdur Rahman, seorang sahabat lama sekaligus mantan pelajar Madrasah tersebut. Maulana Ilyas menjadi sangat marah atas hal ini sehingga beliau tidak menyapanya untuk waktu yang lama. Maulana Ilyas berkata bahwa hal yang sesungguhnya penting adalah pendidikan, dan, sambil menyebut sebuah Madrasah tertentu, beliau mengatakan bahwa bangunannya telah menjadi megah, tetapi standar pendidikannya telah merosot.

Suatu kali seorang saudagar terkemuka dari Delhi memohon kepada Maulana untuk mendoakannya kepada Allah dalam suatu urusan yang sangat penting, dan menyerahkan sejumlah uang kepadanya. Maulana Ilyas bersedia mendoakannya tetapi menolak menerima uang tersebut. Namun Haji Abdur Rahman menerimanya mengingat kesulitan keuangan Madrasah yang terus-menerus. Namun Maulana Ilyas tidak tenang sampai uang itu dikembalikan. Beliau biasa menegaskan kepada Haji Abdur Rahman bahwa pekerjaan Iman tidak dijalankan dengan uang, sebab jika demikian, tentu kekayaan yang besar akan diberikan kepada Nabi SAW.

Kekhusyukan Ibadah Maulana Ilyas di Nizamuddin

Maulana Ilyas pada masa itu benar-benar menyibukkan diri dengan shalat dan latihan-latihan spiritual lainnya. Beliau mewarisi kecenderungan itu dari para leluhurnya, yang kemudian berkembang selama beliau tinggal di Nizamuddin. Beliau mencari kesunyian dan melakukan latihan-latihan keras untuk penyucian jiwa. Menurut Haji Abdur Rahman, Maulana Ilyas berdiam diri dalam waktu yang lama di gerbang Arab Sara, yang merupakan tempat ibadah favorit Hazrat Nizamuddin Aulia. Tempat itu terletak di sebelah utara makam Humayun, dekat mausoleum Abdur Rahim Khan Khalwa dan makam Syed Nur Mohammad Badayuni, pembimbing spiritual Mirza Mazhar Jan-i-Janan. Biasanya, makan siangnya dikirim ke sana sementara makan malamnya di rumah. Beliau melaksanakan Shalat lima waktu secara berjamaah; Haji Abdur Rahman dan teman-teman sesama pelajarnya biasa pergi ke gerbang itu untuk membentuk jamaah dan untuk pelajaran mereka, terkadang mereka yang pergi ke sana dan terkadang Maulana Ilyas sendiri yang datang ke Masjid Chukkar Wali.

Maulana Ilyas melakukan Wudu dan melaksanakan dua Rakaat Shalat sebelum memulai pelajaran Hadis. Beliau menegaskan bahwa tuntutan Hadis itu bahkan lebih besar lagi. Beliau tidak berbicara dengan siapa pun, sepenting apa pun orang itu, ketika sedang mengajarkan Hadis. Beliau tidak pernah mengeluh jika makanan terlambat datang dari Nizamuddin, maupun mencela makanan yang disajikan.

Minat dalam Mengajar

Maulana Ilyas menaruh minat yang besar pada murid-muridnya dan secara pribadi mengajarkan semua mata pelajaran, baik yang dasar maupun yang lanjutan. Kadang-kadang terdapat hingga delapan puluh pelajar yang belajar langsung di bawah bimbingannya dalam kelas 'Mustadrak Hakeem' sebelum Subuh.

Penekanan utama dalam metode mengajarnya adalah pada penerapan akal pikiran. Beliau menginginkan para pelajar datang dengan persiapan yang matang. Maulana Ilyas tidak mengikuti kurikulum umum Madrasah-Madrasah dalam pemilihan buku. Banyak kitab yang tidak diajarkan di Madrasah-Madrasah lain justru diajarkan di Nizamuddin. Beliau memikirkan cara-cara baru untuk merangsang para pelajar dan mengembangkan daya imajinasi serta pemahaman mereka.

Bab 3 – Awal Mula Gerakan dan Reformasi Keagamaan di Mewat

Demi keringkasan, kami telah memindahkan kutipan mengenai kondisi masyarakat Mewati ke sebuah halaman terpisah.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kontak dengan masyarakat Mewati telah terjalin sejak masa hidup Maulana Mohammad Ismail (ayah Maulana Ilyas). Hal itu bukanlah kebetulan, melainkan takdir bahwa Maulana Mohammad Ismail datang untuk tinggal di Basti Nizamuddin yang merupakan gerbang menuju Mewat. Dengan demikian, jauh sebelum kedatangan Maulana Ilyas, benih kesetiaan dan pengabdian kepada keluarganya telah ditaburkan di tanah tersebut.

Para pengikut Maulana Mohammad Ismail dan Maulana Mohammad mengetahui bahwa penerus sejati mereka, yaitu putra dari Maulana Mohammad Ismail dan adik dari Maulana Mohammad, telah datang untuk tinggal di Nizamuddin. Sejak saat itu, mereka mulai kembali berdatangan ke Nizamuddin. Kadang-kadang mereka meminta Maulana Ilyas untuk berkunjung ke Mewat agar mereka mendapat kesempatan untuk memperbarui ikatan kesetiaan dan ketaatan spiritual.

Solusi Sejati

Maulana Ilyas merasa bahwa satu-satunya jalan menuju perbaikan dan reformasi keagamaan masyarakat Mewati adalah dengan mengembangkan ilmu agama dan pengenalan terhadap kaidah dan prinsip Syariah. Maulana Mohammad Ismail, dan setelah beliau, Maulana Mohammad telah menempuh metode yang sama. Mereka biasa menempatkan anak-anak Mewati bersama mereka dan mendidiknya di Madrasah mereka. Mereka kemudian mengirim anak-anak itu kembali ke Mewat untuk melanjutkan pekerjaan perbaikan dan bimbingan. Sedikit kesadaran keagamaan yang ada di sana adalah berkat usaha para perintis ini. Maulana Ilyas melangkah lebih jauh lagi dan memutuskan untuk mendirikan Maktab dan Madrasah-Madrasah langsung di Mewat itu sendiri agar pengaruh Iman dapat menyebar ke wilayah yang lebih luas dan laju perubahan dapat dipercepat.

Syarat Ketentuan

Maulana Ilyas mengetahui apa yang biasanya dimaksudkan ketika para pengagumnya mengundangnya sebagai seorang mursyid untuk datang ke tempat mereka. Ia tidak bersedia pergi ke Mewat hanya untuk memenuhi formalitas menghadiri jamuan makan yang diadakan untuk menghormatinya, menyampaikan beberapa ceramah, dan memberikan nasihat baik. Ia ingin memastikan sebelum melakukan perjalanan tersebut, bahwa akan ada kemajuan nyata sebagai hasil dari kunjungannya. Ia ingin membawa orang-orang Mewat lebih dekat kepada Islam dan memperbaiki kondisi moral mereka. Pada masa itu, pendirian Maktab dan Madrasah di Mewat tampak baginya sebagai langkah paling efektif ke arah itu. Ia pun menegaskan bahwa ia hanya akan menerima undangan tersebut dengan syarat mereka berjanji untuk mendirikan Maktab di wilayah mereka.

Bagi orang-orang Mewat, tidak ada janji yang lebih sulit untuk diberikan. Mereka menganggap pendirian Maktab hampir mustahil. Alasannya sederhana, tidak ada yang mau mengirim anak-anak mereka ke Maktab karena hal itu akan menghilangkan kesempatan mereka mencari upah harian dan menyumbang pada penghasilan keluarga. Semangat mereka yang datang untuk mengundang pun segera surut begitu mendengar syarat yang diajukan Maulana Ilyas. Namun dalam keputusasaan, seorang Mewati akhirnya membuat janji tersebut, menyerahkan sisanya kepada Allah SWT.

Pendirian Maktab

Maulana Ilyas kemudian pergi ke Mewat dan menuntut pemenuhan janji tersebut. Setelah bujukan yang besar, Maktab pertama akhirnya didirikan.

Maulana Ilyas biasa berkata kepada orang-orang Mewat, "Berikan saya murid, dan saya akan menyediakan uangnya untuk kalian". Orang-orang Mewat, yang sebagian besar adalah petani, sulit menerima gagasan bahwa anak-anak mereka belajar membaca dan menulis alih-alih bekerja di ladang atau menjaga ternak. Dibutuhkan banyak kebijaksanaan dan ketekunan untuk meyakinkan mereka.

Sepuluh Maktab dibuka selama kunjungan itu. Begitu kebekuan itu terpecahkan, kemajuan pun berjalan lancar. Terkadang, beberapa Maktab dibuka dalam satu hari. Dalam beberapa tahun, ratusan sekolah semacam itu telah beroperasi di Mewat.

Pengabdian Maulana Ilyas

Maulana Ilyas menjalankan layanan untuk Agama ini sebagai inisiatif pribadinya. Ia tidak merasa segan untuk membelanjakan seluruh miliknya untuk itu. Ia meyakini bahwa seseorang harus mengambil tanggung jawab atas pekerjaan agama dan mencurahkan waktu serta hartanya untuk itu.

Suatu ketika seseorang menyerahkan sebuah kantong uang kepadanya dengan permintaan agar digunakan khusus untuk keperluan pribadinya. Maulana Ilyas menjawab, "Jika kita tidak menganggap pekerjaan Allah sebagai milik kita sendiri, bagaimana kita dapat mengaku sebagai hamba-Nya?". Sambil menghela napas, ia menambahkan, "Sayang sekali! Kita bukanlah sekadar orang yang menghargai Nabi yang mulia. Kita tidak mengetahui nilai sejatinya."

Inilah prinsip hidup Maulana Ilyas. Ia akan lebih dahulu membelanjakan dari kantongnya sendiri untuk usaha-usaha keagamaan seperti di Mewat sebelum menerima bantuan dari orang lain.

Bab 4 – Usaha Massal

Seiring waktu, Maulana Ilyas menjadi tidak puas dengan kemajuan yang dicapai melalui Maktab. Ia mendapati bahwa Maktab itu sendiri pun tidak bebas dari dampak lingkungan kebodohan dan ketidaktaatan agama yang umum. Para murid yang lulus dari sana tidak mampu memberikan pelayanan nyata bagi Iman.

Tidak ada keterikatan sejati kepada Iman yang dapat mendorong orang untuk mengirim anak-anak mereka ke Maktab. Mereka juga tidak mengetahui nilai ilmu agama sehingga pengakuan dapat diberikan kepada mereka yang memperolehnya. Dalam keadaan seperti itu, Maktab hanya memberi pengaruh yang kecil terhadap pola kehidupan secara umum.

Selain itu, semua pengaturan tersebut ditujukan bagi anak-anak yang belum mencapai usia dewasa. Mereka pun dibebaskan dari penerapan perintah dan ketentuan Syariah mengenai kewajiban agama. Namun, tidak ada ketentuan bagi perbaikan dan koreksi orang dewasa. Orang-orang dewasa ini menuai kemurkaan Allah karena sikap acuh tak acuh dan kebodohan mereka.

Ketidakpuasan Maulana Ilyas terhadap Maktab

Bagaimanapun juga, pembinaan agama yang diperlukan tidak dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat melalui Maktab dan Madrasah, betapa pun banyaknya jumlahnya. Tidak semua orang dapat dibawa untuk menghadiri Maktab.

Suatu kali, dalam sebuah perjalanan, seorang pemuda diperkenalkan kepada Maulana Ilyas dengan pujian bahwa ia telah menyelesaikan pembelajaran Al-Qur'an di Maktab tertentu di Mewat. Sang Maulana terkejut mendapati bahwa jenggot pemuda itu dicukur dan tidak ada yang dapat mengenali dari penampilan atau pakaiannya bahwa ia seorang Muslim. Peristiwa itu terlalu berat bagi jiwanya yang peka. Hal ini membuatnya semakin kehilangan semangat terhadap Maktab.

Maulana Ilyas menyelesaikan perselisihan di Mewat

Selama kunjungannya ke Mewat, selain mendirikan Maktab, Maulana Ilyas juga berusaha menyelesaikan perselisihan lokal dan pertengkaran keluarga yang sangat umum terjadi di Mewat. Dengan kebijaksanaan dan kerohanian yang tinggi, ia meraih keberhasilan yang luar biasa. Orang-orang Mewat biasa berkata, "Orang ini begitu kurus dan ramping, namun ia selalu menemukan solusi atas masalah apa pun yang ia tangani, dan entah bagaimana, bahkan orang-orang yang paling keras kepala dan keras hati pun tunduk pada keputusannya tanpa perdebatan."

Ulama lain juga berusaha memperbaiki Mewat

Beberapa Ulama lain juga mengambil tugas pembaruan agama di Mewat. Para ulama Muslim biasa menangani praktik-praktik tidak Islami tertentu yang tersebar luas. Namun Maulana Ilyas merasa bahwa kondisi Iman pada masa itu seperti sekawanan domba; jika sang penggembala mencoba menggiring domba dari satu sisi, sebagian dari mereka akan menyimpang dari sisi lain. Karena itu, akan sia-sia untuk memperhatikan rincian setiap praktik yang tidak Islami. Yang kurang dalam hati adalah kesadaran akan Iman itu sendiri.

Pengalaman yang berulang telah meyakinkannya bahwa obat sejati bagi penyakit ini tidak terletak pada perbaikan individu atau membatasi pendekatan hanya pada kalangan atas masyarakat. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Mewati sederhana, "Tidak ada yang dapat dilakukan sampai Iman dibawa masuk ke tengah masyarakat luas."

Haji kedua Maulana Ilyas dan arah baru

Maulana Ilyas berangkat untuk Haji keduanya pada April 1925, ditemani Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Ketika masa tinggal di Madinah hampir berakhir, para sahabat Maulana Ilyas telah siap untuk berangkat. Namun, mereka melihat suatu kegelisahan yang khas pada dirinya. Ia tidak ingin pergi. Setelah beberapa hari, para sahabat itu melaporkan hal ini kepada Maulana Khalil Ahmad. Ia menasihati mereka untuk tidak memaksa Maulana Ilyas berangkat, melainkan menunggu hingga ia sendiri memutuskan untuk kembali bersama mereka. Atau, mereka bisa berangkat lebih dulu dan membiarkan sang Maulana tinggal selama yang ia inginkan. Para sahabat itu memutuskan untuk tinggal.

Maulana Ilyas biasa berkata:

"Selama masa tinggal di Madinah, saya diperintahkan untuk pekerjaan ini, dan dikatakan kepada saya bahwa Allah SWT akan mengambil pekerjaan itu dari kamu. Selama beberapa hari, saya sangat khawatir. Saya tidak tahu apa yang dapat dilakukan oleh orang lemah dan tak berdaya seperti saya. Saya kemudian menceritakannya kepada seorang yang saleh, yang berkata bahwa tidak perlu cemas. Apa yang dikatakan kepada saya bukanlah untuk melaksanakan tugas itu, melainkan bahwa tugas itu akan diambil dari saya. Jika Allah yang mengambil pelayanan itu, Dia akan memastikannya terlaksana dengan cara apa pun yang Dia kehendaki"

Maulana Ilyas merasa sangat lega dengan jawaban tersebut dan meninggalkan Madinah untuk pulang ke rumah. Beliau tinggal selama sekitar lima bulan di kota-kota suci Mekah dan Madinah dan kembali ke Kandhla pada bulan September 1925.

Catatan: Terdapat perbedaan mengenai tanggal kapan Maulana Ilyas memulai pekerjaan Dakwah. Di sini, tanggal yang disebutkan adalah 1925 yang didasarkan pada buku 'Life and Mission of Maulana Ilyas' karya Syed Abul Hasan Ali Nadwi. Namun, posisi kami adalah tahun 1926, mengikuti buku 'Sawanih Hadrathji Tsalits' (Halaman 31) karya Maulana Shahed Saharanpuri. Karena sebagian besar sumber kami berasal dari tulisan beliau, kami ingin konsisten dengan pendiriannya. Menurut pendapat kami juga, Maulana Shahed lebih teliti dengan tanggal karena bukunya menyajikan lebih banyak tanggal untuk berbagai peristiwa.

Awal Perjalanan Dakwah

Sekembalinya dari Haji, Maulana Ilyas memulai perjalanan Dakwah dan mengajak orang lain untuk turut maju dan menyebarkan ajaran dasar Islam, seperti Kalimah dan Shalat, secara langsung kepada masyarakat luas. Orang-orang pada umumnya tidak terbiasa dengan hal semacam itu. Mereka belum pernah mendengarnya sebelumnya dan enggan menanggapi seruan tersebut. Dengan susah payah, beberapa orang berhasil dibujuk untuk bergabung dengan Gerakan ini.

Pada sebuah pertemuan umum, Maulana Ilyas menjelaskan seruannya dan mendesak orang-orang untuk mengorganisir diri mereka dalam Jamaah dan pergi ke pedesaan untuk menyebarkan ajaran Islam. Mereka diminta untuk menghabiskan waktu satu bulan dalam Jamaah. Sebuah Jamaah kemudian dibentuk. Desa-desa yang akan mereka kunjungi selama delapan hari pertama ditentukan, dan disepakati bahwa mereka akan melaksanakan shalat Jumat berikutnya di Sohna di distrik Gurgaon, tempat program untuk minggu berikutnya akan ditentukan.

Jamaah tersebut kemudian melaksanakan shalat berjamaah pada hari Jumat pertama di Sohna. Maulana Ilyas juga hadir dan program untuk minggu berikutnya pun disepakati. Jamaah kembali melanjutkan perjalanan dan shalat Jumat berikutnya dirayakan di Tauroo dan yang ketiga di Nagina di Tehsil Ferozepur. Maulana Ilyas bergabung dengan Jamaah di setiap tempat. Rencana untuk minggu berikutnya disusun melalui musyawarah dengan beliau.

Selama beberapa tahun, upaya kerja Dakwah dilakukan dengan cara tersebut di Mewat. Seruan disampaikan kepada para Ulama oleh Jamaah-Jamaah untuk memberikan kerja sama aktif mereka.

Haji Ketiga Maulana Ilyas

Maulana Ilyas melaksanakan Haji ketiganya pada tahun 1932. Setelah menyaksikan hilal Ramadan di Nizamuddin, rombongan melaksanakan shalat Tarawih di Stasiun Kereta Api Delhi dan naik kereta menuju Karachi. Menulis dari Mekah, Maulana Ihtishamul Hasan, yang menemani Maulana Ilyas dalam perjalanan ibadah haji tersebut, menyampaikan dalam sebuah surat kepada Sheikhul Hadis Maulana Zakaria:

"Sebagian besar waktu Maulana Ilyas dihabiskan di Haram. Pertemuan dan diskusi Dakwah sering diadakan, dan Maulana Ilyas selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan sesuatu tentang usahanya di mana pun berada!'

Maulana Ilyas kembali ke India dengan semangat yang baru dan keyakinan yang lebih besar terhadap misinya. Beliau mempercepat laju kerja tersebut dan melakukan dua kali perjalanan ke Mewat bersama sekelompok besar sahabat. Setidaknya seratus orang tetap bersamanya sepanjang perjalanan tersebut. Di beberapa tempat, jumlah orang yang hadir jauh lebih besar. Perjalanan pertama berlangsung selama satu bulan sementara yang lainnya beberapa hari lebih singkat. Selama perjalanan tersebut, Jamaah-Jamaah dibentuk dan desa-desa dialokasikan kepada mereka untuk melakukan kunjungan dan Dakwah.

Mendorong Kunjungan ke Pusat-Pusat Keagamaan

Maulana Ilyas menyadari bahwa sangat sulit bagi para petani Mewati yang miskin untuk meluangkan waktu bagi pendidikan agama, dan tidak dapat diharapkan pula bahwa kehidupan mereka akan berubah dalam waktu singkat yang bisa mereka luangkan. Sungguh tidak masuk akal juga untuk berharap bahwa semua dari mereka akan bergabung dengan Maktab dan Madrasah. Namun mereka harus dikeluarkan dari kehidupan kebodohan dan diberi waktu untuk Islam. Satu-satunya cara untuk melakukan itu, menurut pandangan Maulana Ilyas, adalah dengan membujuk mereka untuk pergi dalam Jamaah ke pusat-pusat keagamaan dan menghabiskan waktu di sana untuk mendakwahkan Kalimah dan Shalat kepada masyarakat umum. Hal ini akan menyempurnakan pengetahuan Iman yang telah mereka peroleh. Mereka juga akan duduk bersama para Ulama dan pembimbing spiritual di tempat tersebut, mendengarkan percakapan mereka, serta mengamati sikap dan perilaku mereka. Dengan cara itu, Islam dipelajari melalui metode langsung dan secara alami. Selain itu, selama perjalanan ini, mereka akan memiliki lebih banyak waktu tanpa gangguan yang dapat mereka gunakan untuk membaca Al-Qur'an, mempelajari perintah-perintah Syariah dan mendengarkan kisah kehidupan para Sahabat. Mereka kemudian akan kembali ke rumah dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Tugas Maulana Ilyas yang Sulit

Tugas Maulana Ilyas adalah yang paling sulit dan rumit. Tidak ada pemimpin agama atau pembimbing spiritual yang pernah membuat tuntutan semacam itu kepada para pengikutnya. Membuat orang meninggalkan rumah dan pekerjaan mereka, meskipun sementara, bukanlah hal yang mudah, terutama ketika mereka baru saja memperoleh kesadaran akan Iman. Kesulitan lainnya adalah tidak ada kepastian bagaimana para dai dari kalangan petani ini akan diterima di tempat-tempat tersebut. Apakah kebodohan, kesederhanaan, dan kekasaran bahasa serta perilaku mereka akan diperlakukan dengan penuh toleransi atau justru diremehkan?

Maulana Ilyas menganggap bagian barat Provinsi Serikat (sekarang dikenal sebagai Uttar Pradesh yang terdiri dari Muzaffarnagar dan Saharanpur, yang kadang beliau sebut sebagai Doaba, sebagai sumber mata air Iman dan tempat bersemayamnya orang-orang saleh. Tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk mencari kebersamaan dengan hamba-hamba Allah yang saleh dan terhormat serta memperoleh pengetahuan iman secara langsung melalui mata dan telinga.

Keyakinan Maulana Ilyas terhadap Tugasnya

Beliau yakin bahwa kebodohan, kurangnya arahan, dan ketidakstabilan emosional adalah akar dari masalah tersebut. Metode paling praktis untuk mengatasinya adalah agar orang-orang Mewati pergi ke pusat-pusat keagamaan di Uttar Pradesh Barat untuk mendapatkan bimbingan dan inspirasi.

Dalam sebuah surat kepada seorang teman, Maulana Ilyas menulis:

"Kebodohan dan kurangnya arahan dalam bidang usaha keagamaan akan menjadi sumber Fitnah. Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa banyak keburukan yang akan Anda saksikan muncul dari orang-orang yang tetap berada pada tingkat moral dan agama yang memprihatinkan itu. Mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa mengenainya. Untuk mengatasi keburukan yang sudah ada dan menutup pintu bagi keburukan di masa depan, Anda tidak memiliki pilihan lain selain mendorong orang-orang untuk pergi ke Provinsi Serikat dan bertindak sesuai dengan Tarteeb (Rencana) yang telah diberlakukan di wilayah Anda."

Harapan Maulana Ilyas terhadap Para Ulama

Maulana Ilyas berharap bahwa gerakannya akan berada di bawah naungan baik para Ulama dan orang-orang saleh di wilayah-wilayah tersebut. Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan langsung tentang keadaan menyedihkan umat Islam yang miskin dan terpencil di Mewat. Hal itu mungkin akan menyentuh hati mereka dan membuat mereka lebih berpihak kepada gerakan tersebut. Dukungan dari jiwa-jiwa yang saleh sangatlah penting menurut Maulana Ilyas. Tanpa itu, upaya Dakwah tidak akan membuahkan hasil.

Kandhla – Pilihan Pertama

Pilihan Maulana Ilyas untuk tempat pertama yang akan dikunjungi jatuh pada Kandhla. Itu adalah kampung halamannya. Dengan demikian, orang-orang yang akan ditemui oleh para pelaku Dakwah adalah kerabatnya sendiri. Selain itu, tempat itu merupakan pusat keagamaan dan pendidikan umat Islam yang terkenal.

Pada bulan Ramadan, Maulana Ilyas meminta rekan-rekannya untuk menyiapkan orang-orang guna pergi ke Kandhla. Tampaknya sulit dipercaya bagi orang-orang desa dari Mewat untuk pergi berdakwah ke tempat seperti Kandhla yang, di atas segalanya, merupakan kampung halaman para guru Maulana Ilyas. Tanggapan yang diterima pun sangat mengecewakan. Bahkan seorang pengikut setia seperti Haji Abdur Rahman menyatakan ketidakmampuannya untuk melakukan perjalanan tersebut karena itu adalah desa gurunya, Maulana Mohammad.

Namun, bukanlah kebiasaan Maulana Ilyas untuk mengatakan sesuatu tanpa mempertimbangkannya secara serius terlebih dahulu. Ia mencurahkan seluruh kekuatan kepribadiannya untuk masalah yang dihadapi. Teman-teman dan rekan-rekannya tidak mudah menolak apa yang ia inginkan.

Sebuah rombongan yang terdiri dari sepuluh orang Mewati akhirnya berangkat dari Delhi menuju Kandhla. Amir yang ditunjuk adalah Hafiz Maqbool Hasan.

Jamaah ke Raipur

Beberapa hari kemudian, Maulana Ilyas memutuskan untuk membawa rombongan lain ke Raipur yang juga merupakan tempat yang aman serta pusat keagamaan dan spiritual. Raipur seperti rumah kedua baginya karena hubungan dekatnya dengan Maulana Abdul Qadir, penerus Syah Abdur Rahim Raipuri.

Sebuah kejadian yang layak dikenang di sini adalah bahwa anak dari Qari Dawood, yang seharusnya menjadi salah satu anggota Jamaah, meninggal pada hari keberangkatan. Qari Saheb menguburkan anaknya dan langsung memulai perjalanan dari pemakaman, tanpa sempat pulang untuk menghibur keluarganya.

Kunjungan Terorganisir ke Mewat

Maulana Ilyas meminta agar dibuatkan peta untuk semua Tehsil di Mewat dan distrik Gurgaon. Ia menyusun seluruh rute untuk Jamaah Tabligh dan menginstruksikan mereka untuk mencatat kegiatan harian mereka. Populasi setiap desa yang dikunjungi berdasarkan komunitas serta jarak antara satu desa dengan desa lainnya juga dicatat.

Pada sebuah pertemuan di Chitaura, di distrik Ferozepur, 16 rombongan diorganisir, masing-masing dengan seorang Amir dan seorang Amirul Umara, yang bertanggung jawab atas 4 Amir. Rombongan-rombongan ini akan melakukan kunjungan ke seluruh wilayah Mewat dengan pengaturan bahwa empat di antaranya akan mengunjungi daerah perbukitan, empat lainnya desa-desa yang terletak di antara jalan utama dan perbukitan, empat lainnya desa-desa di antara jalan yang menghubungkan Howdal dan Alwar ke Delhi, dan empat lainnya desa-desa yang terletak di antara sungai Jumna dan jalan yang menghubungkan Delhi ke Howdal. Di setiap tempat persinggahan, seseorang datang dari Nizamuddin untuk mengumpulkan berita dan menyampaikan ceramah. Seluruh enam belas Jamaah Tabligh berkumpul di Faridabad untuk sebuah pertemuan yang juga dihadiri oleh Maulana Ilyas. Di Faridabad, enam belas rombongan tersebut digabungkan menjadi empat yang kemudian menuju Jama Masjid, Delhi melalui rute yang berbeda-beda. Setelah pertemuan di sana, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Panipat, Sonepat, dan lain-lain.

Upaya membujuk masyarakat untuk keluar dari rumah mereka guna mempelajari Iman terus berlanjut di Mewat. Hal ini kini telah menjadi gairah hidup Maulana Ilyas. Banyak kunjungan ke Mewat dilakukan dan pertemuan umum diselenggarakan. Di mana pun, ia menyampaikan gagasan yang sama dengan cara dan dorongan yang berbeda-beda serta mendesak masyarakat untuk mengabdikan hidup mereka untuk Tabligh. Hanya itulah kunci kemajuan agama dan duniawi mereka. Tugas mereka yang sangat berat mulai terasa tidak lagi menakutkan.

Semakin banyak Jamaah dibentuk untuk kunjungan Tabligh di dalam maupun di luar Mewat. Penekanan diberikan pada menjadikan gerakan Tabligh sepopuler gerakan-gerakan lain di negara tersebut. Pawai dan pertemuan diselenggarakan di tempat-tempat yang sesuai. Pada setiap kesempatan tersebut, beberapa Jamaah baru dibentuk yang berangkat menuju berbagai tujuan. Masyarakat mulai meluangkan waktu untuk Tabligh. Sumbangan uang adalah hal yang umum di dunia. Namun, sebuah tren baru muncul di Mewat; yaitu sumbangan waktu, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk usaha Iman.

Maulana Ilyas bertujuan untuk menumbuhkan semangat pengabdian dan pengorbanan demi Islam. Ia ingin para pekerja Tabligh mencapai tahap di mana mereka dapat merelakan kerugian dalam perdagangan atau pertanian dengan ikhlas. Setelah kerja keras yang panjang, tren semacam itu mulai terbentuk di Mewat, di mana kepentingan duniawi ditempatkan di bawah tujuan dan cita-cita keagamaan yang lebih tinggi.

Kebangkitan yang Meluas

Perubahan luar biasa yang terjadi pada Mewat sebagai hasil dari usaha tak kenal lelah para pekerja Tabligh yang berpindah dari desa ke desa, membawa barang bawaan mereka di punggung, mungkin tidak ada bandingannya dalam sejarah modern. Dalam beberapa tahun saja, seluruh wilayah tersebut bangkit dari kegelapan menuju cahaya. Seandainya sebuah Pemerintah, dengan segala sumber daya manusia dan materialnya, mencoba melakukan hal yang sama, mereka tidak akan mencapai hasil sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu.

Kemiripan dengan Perjuangan Para Salaf

Metode ideal dalam berdakwah dan menyebarkan Iman memang adalah apa yang tersaksikan pada masa awal Islam. Para pejuang Muslim membawa perbekalan mereka sendiri dan berjuang semata-mata karena cinta kepada syahid dan keinginan meraih ridha Allah. Para dai dan pejabat negara lainnya pun menjalankan tugas mereka bukan demi imbalan, melainkan sebagai hamba Allah.

Dalam usaha Tabligh di Mewat, seseorang dapat melihat gambaran sekilas dari masa-masa luar biasa itu. Rombongan Tabligh Mewat terlihat berjalan kaki dengan selimut terselempang di bahu mereka. Sipara terselip di bawah lengan mereka. Gandum sangrai atau roti terikat di sudut jubah mereka. Lidah mereka sibuk berzikir. Mata mereka menunjukkan tanda-tanda begadang malam dan bekas sujud terlihat di dahi mereka. Semua ini mengingatkan orang-orang akan para Sahabat yang mulia.

Pemahaman Maulana Ilyas tentang Pendekatan yang Benar

Menurut Maulana Ilyas, pendekatan yang benar adalah menyalakan kembali percikan Iman di dalam hati dan menumbuhkan keinginan tulus terhadap Islam. Hal ini dilakukan dengan memberikan kesadaran akan pentingnya hal tersebut. Ini dapat membujuk masyarakat untuk mengorbankan nyawa dan harta mereka di dunia demi ganjaran di akhirat. Melalui hal ini, kecenderungan dan kemampuan untuk mengikuti cara hidup Islami dan mematuhi aturan Syariah akan muncul dengan sendirinya.

Perubahan luar biasa di Mewat

Manfaat dari kesalehan agama mulai muncul di Mewat, sesuatu yang mungkin tidak akan tercapai bahkan setelah bertahun-tahun perjuangan. Ribuan masjid dibangun. Tak terhitung Maktab dan Madrasah Arab didirikan. Jumlah Huffaz meningkat hingga lebih dari seratus, begitu pula jumlah Ulama yang berkualitas. Ketidaksukaan terhadap pakaian ala Hindu muncul dan masyarakat mulai berpakaian sesuai ketentuan Syariah. Gelang dilepas dari lengan dan anting dari telinga para pria. Janggut dibiarkan tumbuh secara bebas dan tanpa paksaan. Upacara-upacara bercorak politeistik yang telah menjadi bagian dari pernikahan mulai ditinggalkan. Riba kehilangan pengaruhnya, minuman keras hampir lenyap, dan kejahatan menjadi semakin jarang. Ketidakpedulian terhadap agama, bid'ah, serta kebiasaan dan adat yang cabul dan tidak senonoh mulai memudar dalam iklim baru keimanan dan kesalehan ini.

Ketika seorang lelaki tua Mewati bernama Qari Dawood ditanya apa yang sedang terjadi di tanahnya, ia menjawab: "Yang aku tahu hanyalah bahwa hal-hal yang dahulu memerlukan usaha keras untuk diwujudkan kini terjadi dengan sendirinya; dan hal-hal yang dahulu memerlukan usaha keras untuk dihentikan, bahkan sampai terjadi pertempuran di masa lalu, kini lenyap dengan sendirinya."

Resep Maulana Ilyas

Semua ini, menurut pandangan Maulana Ilyas, adalah hasil langsung dari melangkah di jalan Iman. Khususnya, melakukan kunjungan rutin ke pusat-pusat keagamaan di UP Barat. Dalam sebuah surat kepada seorang Mewati, ia menulis:

"Beginilah pengaruh dari kunjungan Jamaah ke UP. Ini terjadi meskipun hanya sedikit orang yang melakukannya. Jumlahnya belum mencapai angka dua ratus. Waktu yang dihabiskan di sana sangatlah sedikit dibandingkan dengan yang dihabiskan di rumah. Masyarakat mulai membicarakan Revolusi Besar dalam waktu singkat ini, dan perasaan tidak suci dari masyarakat di wilayahmu yang tenggelam dalam kebodohan mulai berubah menjadi perasaan mulia untuk menyebarkan Iman".

Meskipun demikian, ia memahami bahwa jika orang Mewat tidak terus melakukan perjalanan Tabligh sebagai cara hidup dan berhenti bersungguh-sungguh berusaha untuk Iman, mereka akan kembali merosot bukan hanya ke kondisi semula tetapi bahkan lebih buruk lagi. Karena kebangkitan keagamaan ini, mata dunia tertuju ke Mewat, tetapi ada pula banyak mata yang jahil dan usil. Kewaspadaan makin diperlukan sekarang karena kerja Tabligh semakin dikenal luas.

Dalam salah satu suratnya, Maulana Ilyas berkata:

"Kecuali kalian mengabdikan diri sepenuh hati untuk membujuk orang lain agar bepergian dari satu tempat ke tempat lain secara terus-menerus dan sampai empat bulan lamanya untuk Tabligh, masyarakat tidak akan merasakan cita rasa Iman dan Islam yang sesungguhnya. Apa yang telah dicapai sejauh ini hanyalah bersifat sementara, dan jika kalian meninggalkan kerja ini, keadaan masyarakat akan menjadi lebih buruk lagi daripada sebelumnya. Kerja ini selama ini tersembunyi. Namun, orang-orang mulai memperhatikan kerja Tabligh ini dan mereka yang memiliki niat jahat akan bereaksi lebih keras terhadap kemajuan yang dicapai"

Para Penceramah Bayaran Tradisional

Maulana Ilyas pernah mempekerjakan beberapa penceramah bayaran di Delhi dan beberapa tempat lain untuk menjalankan kerja Tabligh. Ia melakukan ini selama kurang lebih dua setengah tahun. Namun, Maulana Ilyas tidak puas dengan kemajuan yang mereka capai. Ia merasa bahwa tujuan yang telah ditetapkannya tidak dapat dicapai dengan cara demikian. Para pekerja Tabligh di Mewat memiliki semangat gerakan yang lahir dari sikap tanpa pamrih. Pendekatan revolusioner semacam itu tidak mungkin muncul dalam gaya para penceramah bayaran yang lamban dan hambar. Maulana Ilyas kemudian memutuskan untuk meniadakan pekerja bayaran.

Haji Terakhir Maulana Ilyas

Merupakan keinginan yang mendalam bagi Maulana Ilyas untuk pergi bersama beberapa sahabat dekatnya ke benteng Islam, yaitu Arab, setelah gerakan ini memperoleh kekokohan di India. Ia ingin menyampaikan Seruan Tabligh di negeri tempat Islam bermula dan menyebarkan kuntumnya ke seluruh dunia. Ia biasa bertanya, "Bukankah orang-orang Arab lebih berhak daripada siapa pun menerima anugerah tak ternilai yang telah diberikan kepada mereka?". Keinginan ini semakin besar seiring waktu.

Maka, pada tahun 1938, Maulana Ilyas kembali berangkat untuk Haji bersama rombongan besar rekan-rekan terpercaya, termasuk Maulana Ihtishamul Hasan, Maulana Yusuf, Maulana Inaamul Hasan, dan Haji Abdur Rahman. Di atas kapal, Maulana Ilyas mencurahkan diri untuk Tabligh dan mengajarkan tata cara serta upacara Haji. Selama perjalanan dari Jeddah menuju Mekah, ia berpidato di hadapan sekumpulan bangsawan dari Bahra. Ketika hari-hari Haji semakin dekat dan pengaturan penginapan serta perbekalan juga harus disiapkan di Mina, Maulana Ilyas mulai menyerukan Tabligh di Mina. Ia sering bertemu para jemaah haji dari berbagai negara dan berdiskusi panjang dengan mereka. Ia juga berpidato di sebuah pertemuan umum.

Keinginan Maulana Ilyas untuk Memperkenalkan Tabligh ke Arab

Setelah menyelesaikan Haji, Maulana Ilyas berkonsultasi dengan beberapa tokoh jemaah haji India mengenai perluasan gerakan Tabligh ke Arab, tetapi mereka menentang keras karena keadaan Arab saat itu belum memungkinkan. Ia kemudian meminta nasihat dari Maulana Shafiuddin yang dengan penuh semangat mendukung gagasan itu dan berkata bahwa ia yakin pertolongan akan datang dari Allah.

Maulana Ilyas mengadakan diskusi panjang dengan sekelompok jemaah haji dari Bahrain. Mereka berjanji untuk melanjutkan kerja Tabligh sekembalinya mereka. Ia juga berbincang lama dengan beberapa pedagang Muslim terkemuka yang telah menetap di Arab. Pada awalnya, mereka memandang usulan itu dengan kekhawatiran, tetapi setelah beberapa pertemuan, sikap mereka melunak dan mereka setuju untuk bekerja sama. Namun, mereka menyarankan agar izin dari Raja Ibn Saud (pendiri Arab Saudi modern) diperoleh terlebih dahulu. Diputuskan bahwa tujuan dan sasaran kerja Tabligh akan ditulis dalam bahasa Arab dan disampaikan kepada Raja.

Pertemuan Maulana Ilyas dengan Raja Ibn Saud

Pada tanggal 14 Maret 1938, Maulana Ilyas dipanggil menghadap Raja Ibn Saud (pendiri Arab Saudi modern). Ia datang bersama Haji Abdullah Dehlavi, Abdur Rahman Mazhar, dan Maulana Ihtishamul Hasan. Raja Ibn Saud turun dari mimbarnya untuk menyambut mereka dan selama empat puluh menit menyampaikan ceramah yang mendalam tentang Tauhid, Al-Qur'an, dan Sunnah, serta perlunya mengikuti Syariat. Ketika mereka hendak berpamitan, Raja Ibn Saud kembali turun dari singgasananya untuk mengantar kepergian mereka. Keesokan harinya, sang Raja berangkat menuju Riyadh.

Sebuah memorandum yang disusun oleh Maulaua Ihtishamul Hasan dalam bahasa Arab dikirimkan kepada Raisul-Quzzat (Hakim Agung) Abdullah bin Hasan. Kemudian Maulana Ilyas menemuinya secara langsung. Raisul-Quzzat pun menyambutnya dengan penuh hormat dan menyetujui usulannya. Namun ia menyatakan bahwa izin hanya dapat diberikan oleh Amir Feisel (wakil raja dari Raja Ibn Saud).

Masa Tinggal Maulana Ilyas di Mekah

Sepanjang masa tinggal Maulana Ilyas dan rombongannya di Mekah, sebuah Jamaah berangkat setiap hari, baik pagi maupun sore, untuk misi Tabligh. Mereka menjalin kontak langsung dengan masyarakat setempat. Beberapa pertemuan juga diadakan, di mana Maulana Mohammad Idris dan Maulana Nur Mohammad berpidato dalam bahasa Urdu. Dengan demikian, dasar sudah dipersiapkan untuk melangkah lebih jauh dengan misi ini.

Maulana Ilyas memberi kesan kepada para sahabatnya di Haji bahwa pada waktu dan tempat itu, Dakwah lebih penting daripada Umrah atau ibadah lainnya.

Maulana Ilyas Bertemu dengan Orang Asing yang Aneh

Diceritakan oleh putra Maulana Ilyas, Maulana Yusuf:

"Suatu ketika kami sedang duduk di apartemen kami dekat Bab Ul Umrah. Ayah saya sedang berbicara sesuatu dan kami mendengarkan. Seorang asing datang dan berdiri di depan pintu. Ia berkata, 'Teruskanlah kerja yang sedang kalian lakukan. Pahalanya begitu besar sehingga jika diperlihatkan kepada kalian, kalian akan mati karena kegembiraan.' Kemudian ia pergi dan kami tidak tahu siapa dia. Maulana Ilyas terus berbicara dan tidak menghiraukan kejadian itu."

Masa Tinggal Maulana Ilyas di Madinah

Setibanya di Madinah dari Mekah, Maulana Ilyas mengetahui bahwa Gubernur Madinah tidak berwenang memberikan izin untuk gerakan Tabligh. Ia akan meneruskan berkas tersebut ke Mekah dan menunggu instruksi selanjutnya.

Diskusi terus berlanjut dengan berbagai pihak, dan Maulana Ilyas dua kali mengunjungi Masjid Quba, di mana ia juga berpidato dalam sebuah pertemuan umum. Beberapa orang menawarkan bantuan mereka. Ia juga dua kali pergi ke Uhud, tempat Maulana Nur Mohammad dan Maulana Yusuf berpidato dalam bahasa Arab pada sebuah pertemuan yang didengarkan dengan penuh minat. Orang-orang Badui pun turut dihubungi. Anak-anak diajak mengucapkan Kalimah dan kunjungan berkala dilakukan ke rombongan kafilah.

Adapun tujuan utama Tabligh, prospeknya kadang tampak cerah dan kadang suram. Namun, satu hal yang pasti: kebutuhan akan Tabligh di Arab lebih besar daripada di India.

Kembali ke India

Selama perjalanan Haji, Maulana Ilyas terus menjalin komunikasi dengan perkembangan Gerakan di Mewat dan Delhi. Surat-surat yang memberikan rincian tentang kerja ini diterima secara rutin dari India. Ia kemudian mengirimkan balasan yang diperlukan.

Atas saran para sahabat, Maulana Ilyas memutuskan untuk kembali ke India setelah tinggal selama dua minggu di Madinah. Ia menulis surat kepada seorang sahabat baik di Mekah untuk menjelaskan keputusannya,

“Alasan untuk kembali (ke India) adalah bahwa setelah dua pekan tinggal di Madinah, saya sampai pada sebuah kesadaran. Suatu pagi, meskipun saya ingin sekuat tenaga memajukan gerakan (di Arab), semua sahabat saya yang dikenal memiliki pertimbangan yang matang dengan tegas mengatakan kepada saya bahwa untuk itu diperlukan setidaknya masa tinggal dua tahun. Saya setuju dengan mereka. Namun, sulit pula bagi saya untuk tetap jauh dari India selama itu. Jika saya melakukannya, apa yang telah dicapai di India akan hilang. Oleh karena itu saya telah memutuskan bahwa saya perlu menata kerja Tabligh di India sedemikian rupa sehingga saya dapat mencurahkan diri sepenuhnya pada tugas di Arab. Saya dengan demikian telah memutuskan untuk kembali dengan niat tinggal sementara. Jika Anda tertarik pada kelestarian Islam dan Islam Muhammad SAW lebih berharga bagi Anda daripada kesibukan lain, dan pandangan saya juga benar menurut Anda, maka kuatkanlah Iman Anda melalui pengabdian yang sungguh-sungguh dan sepenuh hati kepada kerja Tabligh”

Bab 5: Pemantapan Gerakan di Mewat dan Perluasannya

Setelah kembali ke India, Maulana Ilyas mengintensifkan kegiatan Tabligh di Mewat. Banyak kunjungan dilakukan, kampanye dari rumah ke rumah diluncurkan, dan pertemuan umum diselenggarakan. Sekali lagi, rombongan Tabligh mulai berdatangan ke Basti Nizamuddin dan kelompok-kelompok orang Mewat mulai mengunjungi distrik-distrik UP Barat. Pendekatan juga dilakukan kepada kalangan Muslim perkotaan, dan Gerakan diperluas hingga ke Delhi dengan cara yang sama seperti di Mewat. Jamaah Tabligh dibentuk di berbagai mohalla dan putaran mingguan pun

dimulai.

Dorongan-dorongan

Maulana Ilyas telah menarik kesimpulan-kesimpulan berikut dari apa yang beliau lihat dan alami di daerah perkotaan:

  1. Keberagamaan memang masih ada di kota-kota, tetapi cakupannya semakin menyusut. Ia telah lenyap dari kalangan masyarakat luas terlebih dahulu, kemudian semakin menyurut hingga hanya tersisa segelintir orang yang mengamalkan ajaran Iman dan menjaga ketakwaan sebagai kewajiban. Kini, keberagamaan telah berhenti menjadi kekuatan sosial dan hanya ditemukan pada tataran individu, dan jumlah individu semacam itu pun semakin berkurang dari hari ke hari. Dalam beberapa kasus, tentu saja, keberagamaan itu masih hadir dalam kadar yang tinggi, yang sangat menggembirakan. Hal ini membuat seseorang merasa bersyukur bahwa bahkan di zaman seperti ini masih dapat disaksikan contoh-contoh kesalehan dan kebajikan yang luar biasa. Namun, mereka semakin langka dan dikhawatirkan bahwa dengan berpulangnya para hamba Allah yang penuh pengabdian ini, keberagamaan akan lenyap sama sekali dari dunia.

Maulana Ilyas telah menyaksikan kemerosotan yang menyedihkan sepanjang hidupnya. Keluarga-keluarga dan kota-kota yang dahulu menjadi buaian petunjuk dan tempat pelita ilmu menyala selama berabad-abad kini menampilkan pemandangan kemerosotan. Tidak ada yang menggantikan orang-orang saleh yang telah wafat. Maulana Ilyas secara pribadi menyadari kemunduran moral dan spiritual yang terjadi di sekitar Muzaffarnagar, Saharanpur dan Delhi. Hal ini membuatnya sedih. Dalam sepucuk surat belasungkawa, beliau menulis: “Sungguh malang, mereka yang bergembira dengan Nama Allah tidak lagi dilahirkan, dan mereka yang telah mencapai ketinggian tertentu dalam kebersamaan yang diberkahi dengan orang-orang saleh, kini meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan seorang pun untuk menggantikan mereka”. Maulana Ilyas hanya memiliki satu obat untuk ditawarkan: membawa Iman kepada masyarakat luas. Hanya dengan itu lingkungan yang melahirkan orang-orang dengan keutamaan dan kerohanian yang luar biasa dapat tercipta. Baik pada masa lampau maupun masa kini, tidak ada kemajuan yang dapat dicapai tanpanya.

  1. Umat Muslim yang tinggal di kota-kota dan menjalani kehidupan yang sibuk telah beranggapan bahwa agama mengandung banyak kesulitan. Mereka meyakini bahwa Iman berarti menarik diri dari dunia, yang dianggap tidak mungkin dilakukan. Setelah putus asa terhadap agama, mereka terjun sepenuhnya ke dalam urusan duniawi dan merelakan diri pada gaya hidup yang sepenuhnya materialistis dan tidak Islami.

Keadaan bahkan telah sedemikian jauh sehingga ketika perhatian umat Muslim diarahkan kepada tanggung jawab agama mereka, mereka dengan tanpa malu berkata, “Kami adalah orang-orang duniawi. Kami adalah budak perut dan anjing-anjing dunia”. Ini adalah kekeliruan yang menyedihkan. Iman tidak berarti apa-apa bagi mereka. Tujuan hidup adalah mengejar sasaran-sasaran duniawi mereka. Selama hal itu masih berada dalam batas-batas Syariah, itulah satu-satunya yang penting. Agama hendaknya dijaga seminimal mungkin, hanya sebatas pengingat-pengingat kecil. Kesalahpahaman ini harus dihilangkan. Kami ingin umat Muslim bergerak untuk mengatasi ketidaktaatan beragama.

Dalam sepucuk surat, Maulana Ilyas menulis:

“Pemahaman umum tentang kehidupan di Dunia ini telah sangat terdistorsi. Kehidupan duniawi tidak berarti mengejar sarana penghidupan. Allah SWT telah mengutuk dunia ini. Oleh karena itu, mustahil untuk berpikir bahwa Allah SWT akan memerintahkan atau menganjurkan kutukan ini. Pemahaman yang benar tentang Iman adalah mengejar perintah-perintah Allah SWT sambil menyadarinya sebagai perintah Allah dan memperhatikan apa yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Sikap keduniawian adalah mengabaikan perintah-perintah Allah dan menganggap bahwa kebutuhan diri sendiri lebih penting daripada itu.”

Maulana Ilyas terkadang mengibaratkan Iman seperti air liur, yang tanpanya makanan tidak dapat dicerna atau dinikmati rasanya. Setiap orang memiliki jumlah yang cukup darinya. Dengan cara yang sama, setiap Muslim memiliki kadar Iman yang cukup. Ia hanya perlu mencampurkannya dengan kesibukan duniawinya, dan dunia pun akan menjadi sarana menuju Iman baginya.

  1. Telah timbul keyakinan bahwa pendidikan agama hanya dapat diperoleh melalui buku-buku dan di Madrasah-madrasah Arab. Karena tidak semua orang dapat belajar di Madrasah selama 8 atau 10 tahun, umat Muslim awam menyimpulkan bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk memperoleh ilmu agama. Mereka pun merelakan diri untuk menjalani hidup dalam kebodohan.

Memang benar bahwa ilmu agama diperoleh di Madrasah-madrasah Arab, namun itu menyiratkan tingkat lanjut yang tidak perlu maupun tidak mungkin dicapai oleh semua Muslim. Namun, setiap Muslim dapat memperoleh ilmu yang diperlukan di tengah kesibukan duniawinya.

Para Sahabat, kecuali sekelompok kecil Ahlus Suffa, memiliki keluarga dan pekerjaan yang harus mereka urus. Mereka adalah pedagang, petani, dan pengrajin, dan memiliki kekhawatiran serta persoalan masing-masing. Tidak ada Madrasah teologi Arab dalam pengertian modern di Madinah. Bahkan seandainya ada, mereka tidak dapat menghabiskan 8 atau 10 tahun di dalamnya. Namun, sebagaimana diketahui semua orang, mereka memiliki ilmu Iman yang diperlukan dan tidak asing dengan ajaran-ajaran pokoknya. Lalu bagaimana mereka mempelajarinya semua? Dengan tetap berada dalam kebersamaan Nabi, duduk bersama orang-orang yang berilmu, mengamati perbuatan mereka, ikut serta bersama mereka dalam perjalanan/jihad, dan bertanya kepada mereka tentang Agama ketika muncul kebutuhan.

Kesempatan pada tingkat atau standar semacam itu tidak tersedia sekarang, tetapi sesuatu yang setara dengannya hingga taraf tertentu tentu dapat dilakukan. Maka muncullah gagasan bahwa umat Muslim yang menjalani kehidupan sibuk dan tenggelam dalam perdagangan atau profesi mereka, termasuk penduduk kota, menyisihkan sebagian waktu mereka untuk memperoleh ilmu Iman. Mereka harus didorong untuk keluar dari lingkungan beracun mereka, tempat tidak ada perubahan yang dapat terjadi dalam hidup mereka, bahkan pengetahuan dasar tentang Iman pun tidak dapat diperoleh meski ada keinginan. Seseorang masih berada pada tingkat kebodohan yang sama seperti dua puluh atau dua puluh lima tahun yang lalu. Jika Shalat seseorang cacat, hal itu akan tetap demikian selama bertahun-tahun. Ini terjadi meskipun mereka telah mendengarkan ratusan ceramah, tinggal di lingkungan para Ulama, dan terpapar oleh ribuan buku agama. Meskipun secara logis mungkin bagi seseorang untuk memperbaiki dirinya dalam lingkungan tersebut, pada kenyataannya hal itu tidak terjadi.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang-orang untuk dikeluarkan dari lingkungan yang statis dan tidak beragama, dan ditempatkan pada lingkungan yang sama sekali berbeda, jauh dari urusan dan kepentingan kehidupan sehari-hari

  1. Rancangan dan struktur sejati kehidupan seorang Muslim menuntutnya untuk mengambil bagian aktif dalam pelayanan Iman, atau membantu mereka yang terlibat di dalamnya, dan sekaligus bercita-cita untuk turut serta langsung dalam kegiatan semacam itu, meskipun untuk sementara waktu ia belum mampu melakukannya karena satu atau lain alasan. Kehidupan kota, yang digambarkan oleh Maulana Ilyas sebagai kehidupan yang penuh kemudahan dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah, tidak memiliki arah dan tidak berkaitan dengan cita-cita Islam. Itu adalah kehidupan yang tanpa jiwa, yang hanya terbatas pada mencari dan membelanjakan.

Maulana Ilyas ingin agar penduduk kota mengadopsi kehidupan "Hijrah dan Nusrah" yaitu kehidupan yang penuh jerih payah dan pengorbanan demi Iman. Ia tidak percaya pada pemisahan antara mereka yang berjuang demi Agama dan mereka yang mengurus urusan duniawinya. Sangatlah keliru dan bodoh untuk merasa puas dengan hanya memberikan bantuan finansial kepada mereka yang berjuang di jalan Allah, dan menganggap bahwa penyebaran serta pemeliharaan Islam adalah tugas para Ulama semata. Maulana Ilyas biasa mengatakan bahwa sebagaimana pembagian fungsi kehidupan tidaklah mungkin, seperti keliru jika dikatakan bahwa hanya sebagian orang yang makan, sebagian lain minum, dan sebagian ketiga mengenakan pakaian. Dengan cara yang sama, sudah semestinya setiap orang menjalankan kewajiban Iman, memperoleh pengetahuan yang diperlukan tentang aturan dan ajarannya, dan berupaya untuk keluhuran Kalimat Allah, sambil tetap mengurus kepentingan ekonomi dan duniawinya.

Tinggalnya Orang-orang Mewat di Delhi

Maulana Ilyas menganggap gerakan Tabligh sangat penting bagi umat Islam yang tinggal di perkotaan. Karena itu, ia ingin menyampaikan seruan kepada mereka dengan segenap kekuatan yang ia miliki. Menurutnya, berceramah atau menulis buku saja tidaklah cukup. Ia berpendapat bahwa hal itu akan sia-sia tanpa kerja nyata dan contoh kehidupan yang dapat diandalkan. Dalam sebuah surat, ia menulis:

"Selama tidak ada contoh nyata di hadapan orang-orang, ceramah dari mimbar tidak akan mampu menggerakkan mereka untuk bertindak. Jika suatu rencana kerja tidak menyertai ceramah-ceramah itu, orang-orang tidak akan menganggap serius ceramah tersebut"

Maulana Ilyas mulai mengirim rombongan orang Mewat ke Delhi dan pusat-pusat penting lainnya, tempat mereka tinggal untuk waktu yang lama. Pada awalnya, mereka harus menghadapi kesulitan yang luar biasa. Mereka tidak diizinkan bermalam di masjid-masjid. Jika mereka berhasil bertahan di suatu masjid, berbagai rintangan diletakkan di jalan mereka. Misalnya, mereka tidak boleh menggunakan toilet, ancaman dilontarkan kepada mereka, dan mereka dihina.

Lambat laun, keadaan berubah seiring orang-orang menjadi yakin akan ketulusan dan pengorbanan diri orang-orang Mewat tersebut. Mereka pun mulai memperlakukan mereka dengan penuh kebaikan.

Kalangan Terpelajar

Maulana Ilyas merasa bahwa kerja sama aktif dari kalangan agamawan dan terpelajar sangat penting bagi keberhasilan Gerakan ini. Ia tidak hanya menginginkan dukungan lisan mereka melalui ceramah dan pidato, tetapi juga agar mereka turut serta dan pergi dari pintu ke pintu sebagaimana teladan para pendahulu yang saleh. Dalam sebuah surat kepada Syaikhul Hadis Maulana Zakaria, ia berkata:

"Saya sudah lama berpendapat bahwa selama orang-orang berilmu tidak pergi dari kota ke kota dan dari desa ke desa layaknya orang biasa, maka gerakan ini tidak akan berhasil. Wacana Ulama yang berbobot dan penuh kekuatan akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar partisipasi orang banyak. Hal ini, sebagaimana Anda ketahui, tampak jelas dari kehidupan para pendahulu kita yang saleh."

Sering dikatakan bahwa jika para guru dan murid Madrasah ikut serta dalam gerakan Tabligh, pekerjaan mereka akan terganggu. Namun, Maulana Ilyas tidak setuju dan berpendapat bahwa hal itu justru akan meningkatkan perkembangan mental dan pendidikan mereka. Ia pernah menulis:

"Iman hanya dapat berkembang sebanding dengan dan di bawah naungan kemajuan pendidikan. Akan menjadi kerugian besar bagiku apabila pendidikan terganggu sedikit pun akibat gerakan Tabligh. Saya sama sekali tidak ingin menghalangi atau merugikan mereka yang sedang menuntut ilmu melalui belajar. Sebaliknya, mereka harus membuat kemajuan yang jauh lebih besar, karena sejauh mana kemajuan yang mereka capai sekarang ini sangat tidak memuaskan."

Yang ia inginkan adalah agar dalam gerakan Tabligh, para murid belajar di bawah bimbingan guru mereka, untuk menunaikan hak pendidikannya dan mengabdi kepada umat manusia melaluinya. Ini agar pendidikan mereka juga bermanfaat bagi orang lain. Ia berkata, "Para murid harus belajar dengan benar bagaimana menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar di bawah bimbingan guru mereka. Hanya dengan begitu pendidikan mereka dapat benar-benar bermanfaat dan tidak sia-sia. Tanpanya, Kebodohan dan Penyimpangan dapat terus berkembang tanpa terkendali."

Pedoman

Maulana Ilyas mengirim rombongan orang Mewat ke Deoband, Saharanpur, Raipur, dan Thana Bhawan dengan instruksi tegas untuk tidak membicarakan Tabligh di majelis-majelis para guru agama dan spiritual. Mereka diperintahkan untuk berkeliling ke desa-desa sekitar secara berkelompok, masing-masing terdiri dari 50 atau 60 orang, dan kembali ke kota pada hari ke-8. Setelah itu mereka akan kembali menyebar ke desa-desa. Jika para pemimpin agama menanyakan kegiatan mereka, mereka diperintahkan untuk menjelaskannya, dan jika tidak ditanya, mereka tidak perlu menjelaskan.

Menghilangkan Kekhawatiran dan Kecurigaan

Kekhawatiran dan kecurigaan sebagian Ulama dan pemimpin spiritual terhadap gerakan Tabligh sirna berkat kepatuhan yang ketat terhadap prinsip-prinsip ini.

Ambil contoh kasus Thana Bhawan. Rombongan Jamaah berkeliling ke daerah-daerah sekitarnya dan menjalin kontak langsung dengan masyarakat umum. Ketika para pengunjung dari tempat-tempat tersebut datang kepada Maulana Ashraf Ali Thanwi, mereka menceritakan kepadanya kerja baik yang dilakukan para pekerja Tabligh. Pada awalnya, Maulana Ashraf Ali Thanwi bersikap skeptis. Ia bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang Mewat yang buta huruf, sementara para Ulama yang telah belajar di Madrasah selama 8 hingga 10 tahun saja gagal membuat kemajuan, sehingga keburukan-keburukan tetap merajalela. Ia khawatir bahwa gaya Tabligh yang dijalankan Maulana Ilyas akan berujung pada bencana. Namun, kekhawatirannya sirna ketika laporan-laporan tentang kemajuan yang dicapai orang-orang Mewat terus berdatangan. Ia merasakan dampak positif dari upaya mereka. Maka, ketika Maulana Ilyas ingin membicarakan rencana kerjanya dengannya, Maulana Ashraf Ali Thanwi berkata:

"Tidak perlu lagi berdebat. Alasan bisa dikemukakan untuk atau menentang apa pun. Saya telah diyakinkan oleh kerja nyata yang sedang dilakukan. Tidak diperlukan lagi bukti atau perdebatan. Anda telah mengubah keputusasaan menjadi harapan."

Ketidakpedulian Kalangan Terpelajar

Keyakinan Maulana Ilyas terhadap misinya tidak terbatas. Ia bersedih karena sebagian kalangan Ulama tidak menunjukkan minat yang tulus terhadapnya. Hari demi hari, keyakinan dalam dirinya semakin tumbuh bahwa upaya keagamaan yang telah ia mulai memegang jawaban sesungguhnya atas keburukan dan penyakit yang melanda masyarakat Muslim. Setiap kali muncul kejahatan baru, semangat dan antusiasmenya kembali membara dengan kekuatan yang lebih besar. Suatu kali ia menulis kepada pemimpin sebuah Institusi Ulama terkemuka:

"Saya tidak tahu dengan intensitas apa harus menjelaskan, dengan lidah apa harus berbicara, dan di atas segalanya, dengan kekuatan apa harus menanamkannya dalam pikiran saya. Bagaimana saya membuat sesuatu yang telah diketahui menjadi tidak diketahui, dan sesuatu yang tidak diketahui menjadi diketahui…. Saya yakin bahwa tidak ada cara lain untuk membangun tembok Iskandar Zulkarnain melawan gelombang besar keburukan dan kejahatan ini selain bergabung dengan penuh semangat dan sepenuh hati bersama Gerakan yang telah saya mulai. Munculnya Gerakan ini dari ketiadaan menunjukkan bahwa inilah obatnya. Bukankah ini kebiasaan Allah SWT, bahwa Dia menghadirkan penawar ketika wabah telah merebak? Tidak pernah baik untuk mengabaikan anugerah atau penawar yang dikirim oleh Allah."

Dalam surat lain, ia menulis:

"Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan kepedihan yang saya rasakan saat menulis surat ini. Sahabatku, dengan jelas dan mendalam saya telah menyaksikan kedekatan, kegembiraan, dan pertolongan Allah SWT bagi mereka yang telah bergabung dengan Gerakan ini. Sebaliknya, saya khawatir bahwa kegagalan menunjukkan kehangatan dan penghormatan yang semestinya terhadap pertolongan yang begitu istimewa dari Atas ini dapat berujung pada musibah dan kemalangan"

Sebab-sebab

Sebagian sebab dari sikap acuh tak acuh dan kurangnya perhatian ini adalah:

  1. Itu adalah masa-masa gejolak dan pergolakan. Orang-orang sebagian besar tertarik pada hal itu. Dalam kondisi seperti itu, sulit bagi usaha Tabligh yang tenang dan konstruktif untuk membangkitkan tanggapan yang antusias. Selain itu, pengalaman gerakan Dakwah serupa tidak begitu menggembirakan.
  2. Sangat sedikit yang diketahui tentang sifat kerja Maulana Ilyas. Selain mereka yang berhubungan erat dengannya, sedikit orang di kalangan terpelajar, terutama mereka yang berada jauh, memiliki gambaran tentangnya. Maulana Ilyas menghindari publisitas.
  3. Istilah 'Tabligh' yang dengannya Gerakan dikenal secara luas juga terbukti menjadi hambatan. Orang-orang cenderung menganggapnya dangkal dan hanya khayalan.
  4. Maulana Ilyas sendiri adalah satu-satunya pendukungnya di hadapan Ulama. Kesulitan dengannya adalah bahwa seringkali pembicaraannya menjadi membingungkan karena orisinalitas gagasan dan intensitas perasaannya. Maulana Ilyas juga memiliki kebiasaan gagap dalam berbicara. Lebih lanjut, gagasan itu begitu luhur sehingga tidak ditemukan dalam kitab-kitab standar. Karena itu Ulama pada umumnya tidak merasa tertarik pada Gerakan tersebut.
  5. Ulama tidak diharapkan memiliki pandangan yang sangat tinggi terhadap Maulana Ilyas, tidak seperti orang-orang Mewat di desa.

Gejolak Batin

Meski demikian, gejolak batin Maulana Ilyas kini ingin menyebar. Waktunya telah tiba bagi Gerakan untuk maju terus. Perhatian Maulana Ilyas terhadap seruan Tabligh terus tumbuh secara bertahap; aspek-aspek baru darinya terus terungkap kepadanya dan sumbernya ditemukan dalam Al-Qur'an dan Sunnah serta kehidupan Nabi yang mulia dan para Sahabat. Di sisi lain, yang mendengarkan kebenaran-kebenaran yang mendalam itu sebagian besar adalah orang-orang Mewat yang sederhana, yang bahkan tidak fasih dengan bahasa sastra Maulana Ilyas maupun istilah-istilah teknis Syariah dan Tasawuf.

Namun secara spiritual, orang-orang Mewat sangat cocok untuk tugas ini. Mereka jauh lebih kuat secara fisik dan energik dibandingkan para Ulama dan penduduk kota. Mereka adalah hasil dari 20 tahun perjuangan tanpa henti. Dengan demikian mereka membentuk tulang punggung Gerakan tersebut. Maulana Ilyas mengakuinya dengan bebas sebagaimana ditunjukkan oleh kutipan berikut dari sebuah surat kepada teman-teman Mewat:

"Aku telah mencurahkan energiku untukmu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengorbankanmu lebih jauh lagi. Bergandengan tanganlah denganku."

Demikian pula, pada kesempatan lain, ia berkata;

"Banyak yang mengabdikan diri pada urusan duniawi, tetapi saat ini, Allah SWT telah menetapkan hanya bagi orang-orang Mewat untuk keluar dari rumah mereka demi gerakan Iman"

Di dan Sekitar Saharanpur

Ulama Mazahirul Ulum Saharanpur adalah yang paling dekat dengan Maulana Ilyas. Maulana Zakaria dan sekretaris Panitia Pengurusnya, Maulana Hafiz Abdul Latif, serta anggota staf lainnya sering menghadiri pertemuan Tabligh di Mewat dan akan datang ke Nizamuddin kapan pun Maulana Ilyas menginginkannya. Namun, Maulana Ilyas tidak puas dengan itu. Ia menginginkan keterlibatan yang jauh lebih besar dan dengan tujuan itu, mengarahkan perhatian rombongan Tabligh ke Saharanpur. Ia melakukan kunjungan ke desa-desa sekitarnya seperti Behat, Mirzapur, dan Salempur bersama para pengajar Mazahirul Ulum.

Pada tahun 1940, diputuskan bahwa rangkaian rombongan Tabligh ke Saharanpur tidak boleh terputus. Ketika satu Jamaah akan kembali, yang lain harus pergi ke sana untuk menggantikannya. Selama setahun, mereka tinggal di gedung Madrasah. Kemudian, sebuah rumah disewa, tetapi harus dikosongkan setelah beberapa bulan. Hal itu berlangsung seperti itu selama 4 tahun. Orang-orang Mewat yang buta huruf terkadang diperlakukan dengan sedikit atau tanpa rasa hormat. Bagaimana mereka dapat melaksanakan tugas pengajaran dan perbaikan agama ketika mereka sendiri masih membutuhkannya? Maulana Ilyas memperingatkan terhadap kesalahpahaman ini. Ia berkata,

"Jangan anggap orang-orang ini (para Mewati) sebagai para pembaharu. Pelajarilah hanya satu hal dari mereka; meninggalkan rumah mereka untuk mempelajari Iman. Dalam segala hal lainnya, anggaplah mereka bergantung padamu. Kamu mengkritik mereka karena kamu menduga mereka sedang berusaha memperbaiki orang lain (padahal mereka sebenarnya sedang berusaha memperbaiki diri mereka sendiri)"

Di Luar Delhi dan Mewat

Secara bertahap, gerakan Tabligh mulai dibicarakan di luar Mewat dan Delhi. Beberapa artikel tentangnya juga muncul di jurnal-jurnal terkemuka. Orang-orang yang menyimpan keinginan samar untuk mengabdi pada Agama merasa terdorong oleh laporan tersebut. Mereka menemui Maulana Ilyas dan pergi ke Mewat juga untuk memperoleh pengetahuan langsung tentang pekerjaan itu. Di antara mereka ada beberapa pengajar dari Nadwatul Ulama Lucknow. Sekembalinya, mereka menceritakan pengalaman mereka. Hal itu menjadi kejutan yang menyenangkan bagi banyak orang. Beberapa dari mereka bahkan menyebutnya sebagai sebuah 'penemuan' dan heran bagaimana sesuatu seperti itu bisa tetap tidak dikenal untuk waktu yang begitu lama.

Maulana Ilyas menyambut para pengunjung dengan tangan terbuka. Jumlah pengunjung terus bertambah seiring waktu. Minat terhadap tujuan dan usaha Jamaah Tabligh tidak lagi terbatas pada Mewat.

Rencana Kerja di Delhi

Maulana Ilyas menjadikan Hafiz Maqbool Hasan sebagai Amir Jamaah Tabligh Delhi karena semangat dan pengabdiannya yang tulus. Metode dan koordinasinya diwujudkan dalam jalannya kerja rombongan-rombongan Jamaah.

Diatur agar para pekerja Tabligh tinggal di Nizamuddin setiap malam Jumat. Semua rombongan Jamaah juga berkumpul di Masjid Jama pada hari Rabu terakhir setiap bulan untuk Musyawarah. Maulana Ilyas selalu berusaha hadir dalam pertemuan bulanan di Masjid Jama dan menginginkan para Ulama juga datang. Siapa pun yang menghabiskan beberapa malam Jumat di Nizamuddin menjadi cenderung terhadap Gerakan tersebut. Seringkali, mereka semua makan bersama. Sebelum dan setelah makan, Maulana Ilyas akan berbicara tentang tema yang begitu dekat di hatinya. Terkadang, ia berbicara dengan semangat yang besar dan begitu terlarut hingga rasa waktu hilang dan Shalat Isya harus ditunda. Setelah Shalat Subuh, Maulana Ilyas akan kembali menyampaikan pidato kepada jamaah atau meminta orang lain berbicara mewakilinya. Beberapa orang yang tidak menginap pun turut serta dalam pertemuan pagi. Orang-orang terhormat dari New Delhi dan muslim berpendidikan modern serta para pengajar Jamia Millia, termasuk Dr. Zakir Husain (yang segera menjadi presiden India), sering bergabung dalam Shalat Subuh dan kembali setelah pidato Maulana Ilyas.

Para Pedagang Delhi

Para pengusaha Delhi umumnya dekat dengan Maulana Ilyas. Orang-orang tua di antara mereka telah datang ke Nizamuddin sejak zaman Maulana Mohammad Ismail dan Maulana Mohammad. Setelah orang-orang Mewat, para pedagang Delhi-lah yang paling menghormati Maulana Ilyas. Mereka mengunjungi Nizamuddin secara teratur, terutama pada malam Jumat, sering kali menghabiskan semalam penuh di sana. Ketika pertemuan penting diadakan di Mewat, mereka pergi menghadirinya dengan bus sewaan, membawa makanan bersama mereka yang disiapkan di Delhi. Mereka juga berkeliling ke desa-desa tetangga bersama rombongan Jamaah orang-orang Mewat.

Maulana Ilyas juga menghadiri berbagai acara di rumah-rumah mereka dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan pesannya. Ia memperlakukan anak-anak mereka seperti anaknya sendiri, berbagi suka dan duka bersama mereka, dan mencari cara untuk membuat mereka tertarik pada misi hidupnya. Kepada para Elders, terutama para sahabat ayah dan saudaranya, Maulana Ilyas bersikap dengan penghormatan yang setinggi-tingginya.

Karena kontak yang teratur dengan Maulana Ilyas dan akibat dari melakukan perjalanan Tabligh bersama para Ulama dan tokoh agama lainnya, para pedagang Delhi memperoleh kesadaran keagamaan dan perubahan yang disambut baik terlihat dalam perilaku sosial, akhlak, dan urusan keuangan mereka. Sebagai aturan, Maulana Ilyas tidak menyinggung hal-hal yang mendetail. Metodenya adalah menumbuhkan kecenderungan umum menuju Iman yang, pada waktunya, membawa pada penyadaran akan nilai dan pentingnya hal tersebut serta menumbuhkan rasa hormat terhadap perintah-perintah Syariat. Lambat laun, para pengusaha yang sebelumnya tidak suka mempekerjakan pria berjenggot di toko mereka mulai memelihara jenggot sendiri. Mereka yang sebelumnya berpikir bahwa seorang pegawai yang rutin melaksanakan Shalat akan menjadi beban, kini mereka sendiri yang rutin melaksanakan Shalat dan pergi berkeliling Tabligh pada jam-jam tersibuk mereka. Mereka kini tidak merasa malu berjalan kaki atau berkeliling di pasar dengan barang bawaan di punggung mereka atau tidur di lantai. Singkatnya, dengan perubahan lingkungan tersebut, kehidupan ribuan orang pun berubah.

Bantuan Keuangan

Terkesan dengan popularitas Gerakan yang terus tumbuh dan menyaksikan besarnya pengeluaran yang ditimbulkannya, para pedagang serta orang-orang dermawan dan berniat baik lainnya dari Delhi dan beberapa tempat lain menawarkan bantuan keuangan. Namun, Maulana Ilyas memiliki prinsip yang tetap mengenai hal ini. Ia tidak menganggap sumbangan uang sebagai pengganti partisipasi aktif. Ia mengatakan kepada orang-orang tersebut bahwa yang ia butuhkan adalah mereka sendiri, bukan harta mereka. Ia hanya menerima bantuan keuangan dari mereka yang mengambil bagian aktif dalam Tabligh. Pada masa-masa paling gemilang Islam pun, itulah prinsip umum yang berlaku. Kita dapati bahwa nama-nama mereka yang membelanjakan hartanya dengan bebas di jalan Islam juga muncul di puncak daftar orang-orang beriman yang jujur. Mereka berada di garis depan perjuangan.

Maulana Ilyas dengan senang hati menerima uang dari mereka yang bergabung tangan dengannya dalam pekerjaan Tabligh dan yang keikhlasannya sangat ia percayai. Di antara mereka yang menonjol adalah Haji Nasim Button-Waley (dari Sadar Bazar, Delhi) dan Mohammad Shafi Quraishi.

Pertemuan

Umumnya, sebuah pertemuan umum diadakan setiap bulan di suatu tempat di Mewat, dan, setahun sekali, di Madrasah Nooh, yang selain dihadiri oleh para Jamaah, juga diikuti oleh pedagang Muslim Delhi, para Mukeem Nizamuddin, Ulama, para pengajar Mazahirul Ulum, Nadwatul Ulama, dan Madrasah Fatehpuri. Maulana Ilyas datang bersama rombongan rekan kerja, menyampaikan pesannya sepanjang perjalanan. Sesama penumpang di bus atau gerbong kereta api, yang umumnya kemudian menjadi terkait dengan Gerakan, mendapat manfaat dari ceramah tersebut. Jadi, bisa dikatakan, itu adalah sebuah konferensi berjalan yang dimulai sejak keberangkatan dari Nizamuddin.

Mendengar kedatangan Maulana Ilyas, penduduk kota atau desa tempat pertemuan akan diadakan keluar dalam jumlah besar untuk menyambutnya. Maulana Ilyas akan berjabat tangan dengan mereka. Ia kemudian dibawa masuk ke kota di tengah suasana penuh kasih dan semangat. Selama hari-hari konferensi, Maulana Ilyas lebih banyak tinggal di antara orang-orang miskin Mewati dan beristirahat malam hari di Masjid. Ia merasa segar dan bersemangat kembali segera setelah tiba di Mewat. Aliran ilmu agama dan kebenaran transendental seakan mengalir dari dirinya. Maulana Ilyas hampir tidak pernah beristirahat selama berada di Mewat.

Suasana keagamaan dalam pertemuan-pertemuan tersebut

Suasana keagamaan dan spiritual yang unik biasa menyelimuti seluruh tempat pada kesempatan-kesempatan seperti itu. Masjid-masjid dipenuhi oleh para jamaah dan bergema dengan Zikir. Barisan jamaah harus dibentuk hingga ke jalanan. Pemandangan pada seperempat malam terakhir sungguh menyentuh hati. Orang-orang Mewati yang tangguh terlihat berbaring pada malam-malam musim dingin yang dingin di halaman Masjid atau di bawah pohon. Mereka hanya berselimutkan kain katun atau selimut. Saat hujan turun di musim dingin, mereka akan duduk dengan sabar di bawah kanopi yang bocor atau pohon yang menetes air dan mendengarkan berjam-jam ceramah para Ulama.

Ceramah dan khotbah hanyalah bagian tambahan dari perkumpulan tersebut. Penekanan sesungguhnya adalah pada pembentukan Jamaah-Jamaah baru dan mengirimkan mereka keluar. Keberhasilan sebuah pertemuan dinilai berdasarkan seberapa banyak Jamaah yang bersedia keluar dari wilayah mereka. Berapa banyak orang yang mengorbankan berapa banyak waktu? Itulah pertanyaannya. Itulah satu-satunya tuntutan Maulana Ilyas. Ia tidak meminta bantuan lain. Ia mengawasi pekerjaan konferensi-konferensi tersebut dari sudut pandang itu. Selain itu, orang-orang Mewati yang berpengalaman dan para dai Nizamuddin bekerja di kalangan orang-orang terkemuka dan Ulama untuk mendapatkan dukungan mereka dalam pembentukan Jamaah. Maulana Ilyas tidak akan tenang hingga ia memperoleh kepastian bahwa pekerjaan yang berarti telah dilakukan. Tanpa itu, sangat sulit baginya untuk kembali ke Nizamuddin, tetapi begitu ia yakin bahwa kemajuan telah dicapai, tidak ada permohonan atau pertimbangan kenyamanan yang dapat membuatnya menunda keberangkatannya walau sehari atau bahkan beberapa jam.

Terkadang, orang-orang Mewati dan para dai Nizamuddin akan pergi lebih dahulu untuk mempersiapkan tempat pertemuan. Mereka berusaha menumbuhkan kecenderungan dan kemampuan di kalangan masyarakat untuk mengambil manfaat dari para dai dan Ulama, dan sering kali tetap tinggal setelah konferensi untuk mengenalkan para pendatang baru dengan tujuan dan prinsip Gerakan tersebut serta membimbing kesediaan mereka pada jalur yang benar.

Banyak orang Mewati melakukan Baiat (janji setia) di tangan Maulana Ilyas selama kunjungannya. Saat mengambil Baiat, Maulana Ilyas akan berbicara panjang lebar mengenai Tabligh, dan mengambil dari mereka janji untuk bekerja demi tujuan tersebut.

Di Nooh - Ijtima Pertama yang Pernah Ada

Sebuah pertemuan besar (Ijtima) diadakan di Nooh, di Gurgaon pada tanggal 28, 29, dan 30 November 1941. Perkumpulan sebesar itu belum pernah terlihat di Mewat. Sekitar 25.000 orang menghadiri perkumpulan tersebut, banyak di antaranya telah menempuh jarak 40 atau 50 mil dengan berjalan kaki sambil membawa perbekalan mereka di pundak.

Maulana Husin Ahmad Madani memimpin jamaah shalat Jumat di bawah lapangan luas tempat perkumpulan tersebut. Ibadah juga diadakan di Masjid Jama dan seluruh masjid lain di kota tersebut. Begitu besarnya jumlah orang hingga terlihat orang-orang melaksanakan shalat di atap rumah dan di jalanan.

Perkumpulan tersebut dimulai setelah shalat Jumat dan selama dua hari berikutnya, terus berlangsung dengan jeda singkat dari pagi hingga sore. Tidak ada Ketua, tidak ada panitia penyambutan, dan tidak ada korps relawan; namun seluruh acara berjalan dengan sangat tertib dan bermartabat.

Menyampaikan kesan-kesannya tentang perkumpulan tersebut, Mufti Kifayatullah berkata:

"Saya telah menghadiri berbagai konferensi politik dan keagamaan selama 35 tahun terakhir, tetapi saya belum pernah melihat perkumpulan yang lebih mengesankan daripada ini!"

*Mufti Kifaytullah adalah Alim (ahli agama) dan Mufti (ahli hukum) terbesar di India pada masanya. Ia menjabat sebagai Presiden Jamiat Ulama-i-Hind selama bertahun-tahun.

Selain sesi-sesi rutin, Maulana Ilyas juga berbicara setelah setiap shalat berjamaah.

Perluasan

Rombongan orang Mewati, pedagang Delhi, dan santri Madrasah mulai mengunjungi UP dan Punjab. Perjalanan dilakukan ke Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshahr, Meerut Panipat, Sonepat, Kamal, dan Rohtak. Di beberapa tempat ini, Jamaah-Jamaah juga dibentuk dan orang-orang dari sana datang secara teratur ke Nizamuddin.

Atas permintaan Haji Abdul Jabbar dan Haji Abdus Sattar, sebuah Jamaah berangkat ke Karachi pada Februari 1943, dan Jamaah lainnya pada April tahun yang sama di bawah kepemimpinan Syed Raza Husain.

Maulana Ilyas menginginkan gerakan ini menyebar di sepanjang pantai barat dengan harapan bahwa dari sana ia dapat mencapai garis pantai Arab dan menembus wilayah pedesaan. Banyak orang Arab dan Muslim Asia Barat lainnya tinggal di kota-kota pelabuhan Bombay dan Karachi. Maulana Ilyas berpikir bahwa jika Gerakan ini menjadi populer di antara mereka, mereka mungkin akan membawanya kembali ke negara masing-masing.

Perjalanan ke Lucknow

Para pengajar dan murid Nadwatul Ulama telah bekerja bersama Maulana Ilyas sejak tahun 1940 di pinggiran kota Lucknow. Mereka juga rutin mengunjungi Nizamuddin selama masa liburan, dan sebagainya. Maulana Ilyas pun telah mengembangkan kecintaan terhadap Jamaah dari Nadwa.

Pada tahun 1943, Maulana Ilyas setuju untuk datang ke Lucknow. Sebelum kedatangannya, sekelompok sekitar 40 orang Mewat dan pedagang dari Delhi tiba untuk mempersiapkan kunjungan tersebut.

Setiap hari, rombongan tersebut meninggalkan Nadwa setelah Shalat Ashar untuk berkeliling ke beberapa distrik, yang mencakup ceramah tentang tujuan dan prinsip-prinsip Tabligh. Mereka kembali setelah pukul 10 malam.

Pada pagi hari, setelah shalat Subuh, para anggota Jamaah berkumpul untuk belajar dan mengajar, yang merupakan bagian penting dari perjalanan Tabligh. Sebagian waktu digunakan untuk perbaikan bacaan Al-Qur'an, sebagian lagi untuk mempelajari aturan dan prinsip-prinsip Syariah, dan sebagian lagi untuk Sirah dan kehidupan para Sahabat. Terakhir, mereka diajarkan prinsip dan metode Tabligh yang mencakup pelatihan praktis. Setelah itu, makan siang disajikan, dan setelah sedikit beristirahat, Jamaah kembali keluar untuk menjalankan rutinitas sore mereka setelah Shalat Ashar.

Pada tanggal 18 Juli, Maulana Ilyas tiba bersama Hafiz Fakhruddin, Maulana Ihtishamul Hasan, Mohammad Shafi Qureshi, dan Haji Nasim. Dalam perjalanan dari stasiun kereta menuju Nadwa, ia menunaikan shalat Nafl di sebidang tanah berumput dekat Jembatan Moti Mahal dan bermunajat kepada Allah untuk waktu yang lama. Di Nadwa, Maulana Ilyas terlebih dahulu pergi ke masjid tempat rombongan-rombongan Jamaah duduk berkelompok dan menerima pengarahan dari para pemimpin mereka. Meskipun sangat rindu dan penuh kecintaan, tidak seorang pun bangkit dari tempatnya untuk menyambut sang Maulana. Maulana Ilyas melemparkan pandangan penuh kasih sayang kepada mereka semua dan berjabat tangan dengan sang Amir, Hafiz Maqbool Hasan.

Maulana Syed Sulaiman Nadwi telah tiba sehari sebelumnya. Keesokan harinya, Sheikhul Hadis Maulana Zakariyya, Maulana Manzoor Nomani, Maulana Abdul Haq Madani, dan beberapa pengajar dari Mazahirul Ulum juga tiba.

Selain pertemuan-pertemuan resmi di berbagai bagian kota, Maulana Ilyas berbicara tentang misinya kepada para pengunjung yang datang menemuinya setiap hari dalam jumlah besar. Ia hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyebarkan misi yang telah ia dedikasikan seumur hidupnya. Ia juga mengunjungi Maulana Abdul Shakoor Farooqi dan Maulana Qutub Mian Firangi Mahli serta pergi ke Idara-i-Talimat-i-Islam.

Hari terakhir masa tinggalnya, yang kebetulan jatuh pada hari Jumat, merupakan hari dengan aktivitas yang luar biasa. Pada pagi hari, Maulana Ilyas menghadiri sebuah acara Jamiatul Islah, yang merupakan nama Serikat Mahasiswa Nadwa. Kemudian, ia mengunjungi Amirud Daula Islamia College di mana kerumunan besar telah berkumpul untuk menyambutnya. Ia menunaikan shalat Jumat di Masjid Mamoon Bhanjey Ki Qabr. Setelah shalat selesai, Maulana Ilyas menyampaikan seruan penuh semangat kepada orang-orang untuk pergi ke Kanpur bersama Jamaah dari Delhi. Namun, tidak ada tanggapan. Hal itu sangat menyakiti hatinya, dan dalam keadaan sangat gelisah, ia pergi dan menutup pintu gerbang masjid serta menempatkan penjaga di sana. Berdiri di bawah lengkungan tengah, ia mulai menasihati orang-orang. Ia meminta beberapa dari mereka berdiri dan menjelaskan alasan apa yang mereka miliki. Jika mereka bisa bepergian untuk keperluan duniawi, mengapa mereka tidak bisa melakukannya demi Agama? Apa yang menghalangi mereka untuk keluar di jalan Allah? Sambil menyapa Haji Wali Mohammad, yang telah sakit selama beberapa waktu, Maulana Ilyas berkata, "Mengapa engkau tidak pergi?" "Saya sekarat", jawabnya. "Jika engkau harus mati," balas sang Maulana, "Pergilah dan matilah di Kanpur". Akhirnya, Haji Wali Mohammad setuju dan perjalanan itu ia tempuh dengan selamat. Delapan atau sepuluh orang juga ikut bersamanya. Beberapa di antara mereka terbukti sangat bermanfaat bagi perjuangan ini.

Maulana Ilyas berangkat menuju Raebareli dengan kereta malam, tiba di Takia sekitar pukul 3 pagi.

Bab 6: Akhir Perjalanan

Kesehatan Maulana Ilyas tidak pernah baik. Kerja tanpa henti dan kekhawatiran, perjalanan yang terus-menerus, jam istirahat yang tidak teratur, dan sikap yang sama sekali mengabaikan nasihat medis hanya memperparah gangguan pencernaan yang telah menjadi teman tetapnya sejak kecil.

Pada bulan November 1943, ia mengalami serangan disentri (penyakit saluran pencernaan) yang parah dan tidak pernah pulih darinya. Siapa pun yang datang dari Delhi pada hari-hari itu membawa kabar bahwa penyakit Maulana Ilyas terus berlanjut. Ia semakin lemah dari hari ke hari. Anehnya, tidak ada penurunan dalam usahanya. Bahkan, semangatnya justru semakin meningkat.

Sahabat Maulana, Abdul Jabbar Saheb dari Gonda, menulis dari Delhi pada bulan Januari 1944:

"Dengan karunia Allah, Maulana membaik. Namun, ia masih sangat lemah. Ia bersikeras untuk terus memberikan ceramah meskipun para dokternya menasihatinya untuk tidak melakukannya. Ia berkata bahwa ia lebih memilih mati karena berbicara untuk pekerjaan Tabligh daripada pulih dengan cara berdiam diri. Menurutnya, penyebab sesungguhnya dari penyakitnya adalah sikap acuh tak acuh para Ulama terhadap pekerjaan Tabligh. Mereka seharusnya maju karena mereka memiliki ilmu dan pemahaman tentang Agama. Jika mereka harus meminjam uang untuk itu, mereka tidak perlu khawatir. Allah SWT akan menambah rezeki mereka. Penyakitnya adalah sebuah berkah. Orang-orang seharusnya datang, setidaknya, setelah mendengar tentang hal itu, tetapi mereka tidak melakukannya. Ia melihat bukti nyata dari dampak penyakitnya. Ketika Maulana Ilyas mengatakan hal ini, terutama kalimat terakhir, keadaannya sedemikian rupa sehingga saya tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkannya."

Kepedulian Maulana Ilyas terhadap Ulama

Pada bulan yang sama, sebuah jamaah yang mencakup Maulana Hafiz Imran Khan dari Nadwa dan Hakim Qasim Husain berangkat dari Lucknow menuju Delhi. Maulana Ilyas telah menjadi sangat lemah. Namun, ia masih bisa berjalan tanpa bantuan dan memimpin Shalat, tetapi memerlukan bantuan untuk bangkit dari tempat duduknya. Penyakitnya telah berkembang cukup jauh dan tampak jelas bahwa akhir hayatnya sudah dekat. Mirwaiz Maulana Mohammad Yusuf dari Kashmir sedang menginap di Nizamuddin pada waktu itu. Ketika rombongan dari Lucknow tiba, mereka mendapati Maulana Ilyas sedang menjelaskan kepadanya mengapa penting bagi para Ulama untuk mengambil peran aktif dalam gerakan Tabligh. Itu merupakan kekhawatiran utama Maulana Ilyas pada hari-hari itu dan satu-satunya topik pembicaraannya. Ia sangat merasa bahwa orang-orang yang bisa mengetahui dan memahami tetap bersamanya, mendengarkan apa yang ia katakan dan memperoleh pemahaman penuh tentang aturan dan prinsip-prinsip Gerakan ini. Ia ingin menanamkan kepada para Ulama bahwa seruan Tabligh hanya layak untuk mereka dan hanya mereka yang layak untuknya. Pekerjaan ini akan mudah berkembang ke tingkat yang lebih tinggi jika mereka mengambil bagian dalam pekerjaan itu. Perumpamaannya seperti seorang yang melihat sebuah rumah terbakar dan memanggil orang-orang untuk datang dan memadamkannya. Tugasnya adalah memberi peringatan; adalah tugas orang lain untuk memadamkan api tersebut.

Maulana Ilyas mendesak para pedagang dan Muballighin di Delhi akan perlunya melibatkan jasa para Ulama. Beberapa pertemuan diselenggarakan untuk tujuan tersebut yang dihadiri oleh para Ulama terkemuka seperti Mufti Kifayatullah, Maulana Abdul Hannan, dan Maulana Imran Khan. Maulana Ilyas menanti dengan penuh semangat laporan dari pertemuan-pertemuan tersebut dan tidak akan tidur sebelum menerima kabar langsung dari berbagai orang. Terkadang, orang-orang kembali larut malam dari pertemuan, tetapi tidak ada tidur bagi Maulana Ilyas sampai ia berbicara dengan mereka. Maulana Ilyas biasanya berbicara setelah sarapan dan makan malam. Seringkali, ia akan berbicara selama berjam-jam hingga membuatnya benar-benar kelelahan.

Kontak dengan Para Ulama

Shalat satu tujuan utama usaha Maulana Ilyas adalah untuk membangun jembatan antara berbagai kelompok dan golongan Ummat Islam serta menghidupkan kembali rasa saling percaya dan niat baik di antara mereka. Hal ini agar mereka dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Agama. Ia tidak ingin mengabaikan bahkan golongan-golongan yang secara keagamaan tertinggal. Ia menganggap perselisihan dan prasangka di antara sesama Muslim sebagai malapetaka besar pada masa itu dan bahaya bagi masa depan Islam. Maulana Ilyas percaya bahwa melalui gerakan Tabligh, akan dimungkinkan untuk mendekatkan para Ulama dan masyarakat umum satu sama lain. Tanda-tanda yang menggembirakan dari hal ini pun telah mulai muncul.

Ketika berbicara dalam sebuah pertemuan Ulama di Ghatmika, sesuai dengan perintah Maulana Yusuf, Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi berusaha menekankan bahwa jika para Ulama tidak memperbaiki hubungan mereka dengan masyarakat Muslim melalui gerakan Tabligh, mereka akan terisolasi dari umat. Maulana Ilyas menunjukkan kegembiraan besar ketika ringkasan pidato tersebut disampaikan kepadanya oleh Maulana Yusuf.

Maulana Ilyas di satu sisi meminta para Ulama untuk bersimpati kepada masyarakat dan menjalin hubungan langsung dengan mereka. Di sisi lain, Maulana Ilyas mendorong masyarakat untuk menunjukkan rasa hormat yang semestinya kepada para Ulama dan mengunjungi mereka secara rutin. Kepada para pekerja Tabligh, ia mengajarkan cara-cara melibatkan para Ulama dengan Gerakan ini. Ia mengirim mereka untuk menghabiskan waktu bersama para Ulama dan setelah kembali, menanyakan secara rinci apa yang mereka lihat dan rasakan. Jika mereka menyampaikan kritik, Maulana Ilyas akan menanggapinya.

Maulana Ilyas dengan demikian menciptakan keharmonisan antara para Ulama dan masyarakat umum, yang belum pernah terlihat sejak gerakan Khilafat.

Rekonsiliasi

Terdapat permusuhan dan ketidakpercayaan yang besar di antara berbagai kelompok Ahlu Sunnah yang sebagian besar berasal dari perbedaan atas isu-isu kecil dan diperparah oleh kebiasaan hidup dalam kelompok yang tertutup rapat. Setiap kelompok mencari keamanan dengan menutup diri dan menutup mata terhadap kebaikan yang ada pada kelompok lain.

Perdebatan dialektis dan polemik dianggap sebagai cara yang paling sesuai untuk menyelesaikan perbedaan. Namun, sebagaimana pengalaman menunjukkan, upaya-upaya ini justru menambah kobaran api. Yang diinginkan Maulana Ilyas adalah agar simpul-simpul pikiran dilonggarkan melalui kesantunan, saling pengertian, dan hubungan pribadi. Setelah berbagai kelompok saling mengenal lebih dekat, kecurigaan dan prasangka di antara mereka akan hilang. Dengan bekerja sama demi kepentingan Agama secara konstruktif dan sesuai jalur yang benar, perbedaan-perbedaan tersebut akan kehilangan intensitasnya dan akan mungkin menjaganya dalam batas yang wajar.

Tahap Lanjut Penyakit

Pada bulan Maret 1944, penyakit Maulana Ilyas telah memburuk sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi mampu memimpin Shalat. Ia harus dibantu oleh dua orang untuk hadir dan mengikuti shalat dalam posisi duduk. Ia sering berkata bahwa ini adalah sakitnya yang terakhir dan seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Pada masa itu, Maulana Ilyas menyampaikan dua pidato yang mengesankan yang mengisyaratkan bahwa akhir hayatnya sudah dekat, namun di dalamnya pun terdapat rancangan dan rencana Allah yang mendalam.

Kedatangan Para Ulama

Maulana Hafiz Hashim Jan Mujaddidi telah mendengar tentang gerakan Tabligh dari Jamaah-jamaah yang pergi ke Sindh dan telah membentuk pandangan yang sangat baik terhadap Maulana Ilyas. Ia datang ke Delhi pada bulan Maret yang membuat Maulana Ilyas sangat bahagia. Maulana Ilyas bahkan mengambil perhatian pribadi dalam pengaturan tempat tinggalnya. Kehadiran orang-orang berilmu dan berkarakter yang nenek moyangnya juga telah memberikan pengabdian berharga kepada Agama merupakan sumber kegembiraan yang tak pernah gagal baginya. Maulana Hafiz Hashim Jan Mujaddidi adalah keturunan dari Hazrat Mujaddid Alf-Sani. Kedatangannya memiliki makna besar bagi Maulana Ilyas.

Beberapa hari kemudian, Dr. Syed Abdul Ali, yang merupakan kakak dari Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi, juga datang dari Lucknow. Maulana Ilyas memeluknya sambil berbaring di ranjang. Ia menyatakan kegembiraannya atas kedatangannya dan berkata bahwa itu membuatnya merasa lebih baik. Bukan hal yang aneh bagi Maulana Ilyas untuk menunjukkan perbaikan mendadak dalam kesehatannya ketika sesuatu yang baik dan menggembirakan terjadi sehubungan dengan Gerakan ini.

Maulana Ilyas ingin memanfaatkan jasa para pemimpin agama dan spiritual di lingkungan tempat mereka dikenal. Ia tidak membiarkan kunjungan mereka menjadi urusan pribadi semata, melainkan mendesak rekan-rekannya untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya dengan mengambil dari mereka pekerjaan yang sesuai dengan kedudukan tinggi mereka.

Maulana Ilyas meminta Dr Syed Abdul Ali untuk menghabiskan waktu bersama para Mewati yang tua dan berpengalaman. Ia tidak menyukai jika Dr. Syed Abdul Ali menginap di ruangan belakang Masjid, dan pernah berkata bahwa siapa pun yang tinggal di luar Masjid tidak dapat dianggap telah datang. Mendengar hal ini, Dr. Syed Abdul Ali mulai menghabiskan sebagian besar waktunya di Masjid. Ia mengakui bahwa ia merasakan keuntungan yang nyata dengan tinggal bersama para Mewati dan para Muballigh.

Para guru dan pengurus Madrasah Islam bertemu untuk mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan lembaga-lembaga mereka bagi Gerakan ini. Di antara mereka yang ikut serta dalam musyawarah tersebut adalah Maulana Mohammad Tayyab, Mufti Kifayatullah, Molvi Mohammad Shan, Maulana Hafiz Abdul Latif, Maulana Izaz Ali dan Sheikhul Hadis Maulana Zakaria.

Maulana Abdul Qadir Raipuri juga datang ke Nizamuddin yang menambah kemuliaan tempat tersebut.

Jamaah Ketiga ke Sindh

Pada awal bulan April, sebuah rombongan sekitar 60 orang berangkat menuju Sindh di bawah pimpinan Hafiz Maqbool Hasan. Mereka singgah sebentar di Lahore di mana beberapa dari mereka mengunjungi Hazrat Nurul Mashaikh dari Kabul yang kebetulan berada di sana pada masa itu.

Jamaah dari Peshawar

Beberapa sahabat dari Peshawar menulis surat kepada Maulana Ilyas menyatakan keinginan mereka untuk datang ke Delhi pada bulan April. Dalam surat mereka, mereka juga mengatakan bahwa kehidupan dan kesejahteraan Maulana adalah "milik Islam", "harta paling berharga bagi umat Muslim" dan Maulana hendaknya berdoa untuk panjang usia dan kesehatan yang baik.

Maulana Ilyas membalas:

"Semoga Allah memberkahi kedatangan kalian pada bulan April. Namun, tampaknya lebih tepat jika sebelum datang, kalian bekerja di kalangan masyarakat kalian untuk beberapa waktu dengan mengikuti aturan dan tata cara gerakan Tabligh. Barulah kunjungan kalian akan paling bermanfaat. Saya berdoa untuk kesehatan saya dengan syarat bahwa saya dapat menghabiskan waktu saya sesuai dengan Usaha dan tidak ada bagian darinya yang dihabiskan tanpa tujuan. Dalam kondisi saya saat ini, saya seharusnya hanya melakukan apa yang tidak dapat dilakukan tanpa saya. Selain itu, Jamaah-jamaah harus bertanggung jawab atas segala hal lainnya. Saya telah belajar pelajaran ini dari sakit saya."

Setelah melakukan beberapa putaran Tabligh dan mengerjakan beberapa tugas lapangan, sebuah Jamaah kecil yang terdiri dari Arshad Saheb, Maulana Ihsanullah, Mistri Abdul Quddus dan dua anak tiba dari Peshawar dan menginap di Nizamuddin dari tanggal 10 hingga 14 April. Arshad Saheb mencatat catatan harian tentang kegiatan dan pengamatan pribadinya yang darinya kita dapat memperoleh gambaran kehidupan di Nizamuddin.

Pengalaman Langsung Jamaah Peshawar di Nizamuddin

Arshad Saheb dari Jamaah Peshawar menulis dalam buku hariannya mengenai pengalaman mereka di Nizamuddin antara tanggal 11 hingga 14 April 1944.

Lihat pengalaman langsung Jamaah Peshawar bersama Maulana Ilyas.

Penyerapan Total

Beberapa kejadian yang diceritakan oleh Maulana Manzoor Nomani menunjukkan betapa besarnya kekhawatiran dan perhatian Maulana Ilyas terhadap pekerjaan Tabligh meskipun ia sedang sakit kritis.

Maulana Nomani menulis:

"Maulana Syed Ata Ullah Shah Bukhari datang mengunjungi Maulana Ilyas pada minggu terakhir bulan April. Dua hari sebelumnya, Maulana Ilyas mengalami serangan berat yang membuatnya begitu lemah sehingga ia hampir tidak dapat berbicara selama dua atau tiga menit secara terus-menerus. Ketika mendengar kedatangan Shah Sahib, ia memanggil saya dan berkata, 'Saya memiliki beberapa hal penting untuk dibicarakan dengan Maulana Ataullah Shah Bukhari dan caranya adalah kamu akan mendekatkan telingamu ke mulutku dan mendengarkan dengan saksama lalu menyampaikan kepadanya apa yang saya katakan'. Demikianlah, ketika Shah Saheb dipanggil masuk, Maulana Ilyas memulai percakapan dengannya melalui saya. Setelah beberapa menit, ia memperoleh kembali cukup kekuatan untuk berbicara langsung kepadanya dan terus berbicara selama kurang lebih setengah jam.

Pada hari ketika Maulana Ilyas mengalami serangan itu, ia tidak sadarkan diri selama hampir dua jam. Kemudian ia tiba-tiba membuka matanya dan berkata:

"Kebenaran itu Tinggi! Kebenaran itu Tinggi! Kebenaran itu Tinggi!"

Setelah itu, dalam keadaan ekstase, ia membacakan bait berikut tiga kali dengan suara yang agak merdu yang cukup tidak biasa baginya:

"Menolong orang-orang yang beriman adalah kewajiban bagi kita. (Quran 30:47)"

Maulana Nomani menulis lebih lanjut:

Saya berada di halaman Masjid ketika Maulana Ilyas membacakan ayat tersebut. Setelah mendengarnya, saya pergi dan berdiri di pintu kamarnya. Pada saat yang sama, Maulana Ilyas menanyakan tentang saya, sehingga saya pun masuk. Maulana Ilyas berkata kepada saya,

"Molvi Saheb! Allah berjanji bahwa pekerjaan ini akan diselesaikan, dan dengan Pertolongan-Nya, akan dibawa hingga tuntas. Namun, adalah penting bahwa dengan keimanan yang sepenuh hati terhadap janji-Nya, Anda memohon Pertolongan-Nya, dan berusaha sekeras mungkin serta tidak mengendurkan usaha."

Ia kemudian kembali menutup matanya dan diam sejenak, setelah itu ia berkata,

"Allah SWT akan memastikan bahwa para Ulama akan mengambil alih Gerakan ketika saya berpulang (dari dunia ini)"

Semangat Maulana Ilyas meski kondisinya memburuk

Anehnya, kepedulian Maulana Ilyas terhadap Karya Dakwah semakin meningkat seiring memburuknya kondisinya. Selama berbulan-bulan ia terbaring dalam keadaan lemah, namun sepanjang waktu itu, Maulana Ilyas selalu ditemukan mencemaskan kemajuan Jamaah, memohon kepada Allah untuk mengaruniakan keikhlasan dan keteguhan kepada mereka yang terkait dengannya. Bahkan dengan para dokter, ia akan terlebih dahulu berbicara tentang misinya dan baru kemudian mengizinkan mereka memeriksanya. Suatu kali ketika Mufti Kifayatullah membawa seorang dokter terkemuka dari Delhi untuk mengobatinya, ia berbicara kepadanya demikian:

"Doctor Saheb! Anda memiliki suatu keahlian dan orang-orang memperoleh manfaat darinya. Nabi Isa AS diutus dengan beberapa mukjizat seperti menyembuhkan orang buta dan menghidupkan yang mati. Pengetahuan batinnya lebih unggul daripada mukjizat-mukjizat itu. Yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah bahwa ayat-ayat dan perintah-perintah yang diturunkan kepada Nabi kita SAW, Penutup para Nabi, membatalkan dan menghapus ayat-ayat serta perintah-perintah yang diturunkan kepada Nabi Isa AS. Maka bayangkanlah betapa besar kerugiannya jika kita gagal menghargai dan mengabaikan ayat-ayat serta perintah-perintah transendental yang diturunkan kepada Nabi SAW yang mulia. Kita harus mengatakan kepada orang-orang untuk bersyukur kepada Allah atas karunia ini. Jika tidak, mereka akan mengalami kerugian besar."

Maulana Ilyas tidak bersedia berbicara atau mendengarkan apa pun selain tema kesukaannya, yaitu kebangkitan kembali Islam. Seringkali, ia akan segera mengalihkan siapa pun yang mulai membicarakan hal lain di hadapannya. Jika seorang pengasuh menanyakan tentang kesehatannya, ia akan berkata,

"Saudara, sakit dan sehat adalah bagian dari kehidupan. Apa itu 'Kondisi Baik' dan 'Kondisi Buruk'? Kondisi baik berarti kita melakukan tugas-tugas yang untuknya kita diutus dan jiwa Nabi yang diberkati beristirahat dengan tenang. Bahkan perubahan kecil dalam keadaan yang ditinggalkan Nabi kepada para Sahabat dianggap merugikan bagi mereka"

Haji Abdul Rahman menceritakan bahwa beberapa kerabat Maulana Ilyas datang dari Kandhla untuk menjenguknya.

"Apa yang membawa Anda kemari?", tanya Maulana Ilyas.

"Untuk menanyakan tentang kesejahteraan Anda" jawab mereka.

Maulana Ilyas kemudian berkata, "Anda datang dari Kandhla untuk menanyakan tentang kesejahteraan seseorang yang dilahirkan untuk binasa. Anda seharusnya lebih peduli tentang Agama yang seharusnya kekal namun kini sedang sekarat."

Pada suatu hari Jumat, Maulana Yusuf memimpin Shalat Subuh yang di dalamnya ia membacakan Qunoot Nazila. Setelah shalat, semua pengasuh memberi tahu Maulana Yusuf bahwa Maulana Ilyas ingin menemuinya. Ketika ia pergi menemui Maulana Ilyas, Maulana Ilyas berkata kepadanya,

"Dalam Qunoot Nazila, rumuskan niat mengenai para pendeta agama non-Muslim dan orang-orang kafir. Mereka menggunakan kekuatan hati jahat mereka untuk menghancurkan Islam. Ia kemudian mengingat kembali bagaimana dalam sebuah debat agama di Saharanpur, seorang pendeta Hindu mengarahkan energi jahatnya terhadap pendebat Muslim dan pendebat Muslim itu kesulitan menyampaikan gagasannya. Maulana Khalil Ahmad yang hadir dalam debat itu menyadarinya dan memusatkan perhatiannya. Pendeta itu menjadi takut dan meninggalkan pertemuan dengan tergesa-gesa. Setelah itu, pendebat Muslim mulai berbicara dengan bebas"

Merupakan kebiasaan bagi Maulana Ilyas untuk berbicara di hadapan jamaah pada malam Jumat ketika orang-orang datang tidak hanya dari berbagai wilayah di Delhi tetapi juga dari kota-kota lain. Selama sakitnya Maulana Ilyas, jumlah pengunjung semakin bertambah. Maulana Ilyas nyaris tidak dapat berbicara akibat sakitnya, meskipun ia tidak ingin mereka yang datang ke Nizamuddin semata-mata demi Agama menjadi cemas tentang kesehatannya, dan lain-lain.

Pada suatu malam Jumat, orang-orang diminta berkumpul di atap masjid dan saya ditugaskan untuk berbicara kepada mereka. Mulainya tertunda beberapa menit, di mana selama itu Maulana Ilyas mengirim pesan sebanyak tiga kali untuk mempercepatnya karena setiap menit terasa berat bagi sarafnya.

Bulan Terakhir

Kondisi Maulana Ilyas memburuk dari hari ke hari. Ia tidak lagi mampu melaksanakan Shalat sambil berdiri. Tempat tidurnya diletakkan di ujung saf agar ia dapat bergabung dalam Shalat berjamaah.

Pada masa itu, Maulana Zafar Ahmad mengurus kebutuhan Maulana Ilyas. Sheikhul Hadees Maulana Zakaria juga datang pada tanggal 21 Juni (1944). Beberapa hari kemudian, pertemuan tahunan Madarasa-i-Moinul Islam di Nuh akan diselenggarakan. Ini mungkin akan menjadi pertemuan pertama tanpa Maulana Ilyas. Rombongan dari Nizamuddin berangkat menuju Nuh dengan truk pada pagi hari tanggal 23 Juni, di bawah kepemimpinan Maulana Yusuf. Perjalanan tersebut diisi dengan Zikir dan ceramah keagamaan. Pertemuan dimulai segera setelah mereka tiba pukul 2 siang. Taman yang dibuat oleh Maulana Ilyas terhampar di segala penjuru. Taman itu sedang mekar sepenuhnya, namun sang tukang kebun tidak ada di sana.

Ketika sesi malam sedang berlangsung, asrama Sekolah Menengah Inggris di Nuh terbakar. Sekembalinya mereka, peristiwa itu disampaikan kepadanya. Ia berkata,

"Karena kelalaian dalam Zikir, Setan mengambil kesempatannya."

Karena itu adalah sekolah Inggris, salah seorang dari mereka menunjukkan kegembiraan atas kehancuran bangunan tersebut. Maulana Ilyas tetap diam pada saat itu. Ungkapan kegembiraan atas kerugian apa pun yang berkaitan dengan umat Muslim sangat menyakitinya. Pada kesempatan yang tepat, ia menyampaikan perasaannya dan mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang patut ditertawakan.

Maulana Ilyas menanyakan kepada Maulana Yusuf apakah ia telah memberikan instruksi kepada Jamaah yang berangkat kepada Maulana Zafar Ahmad. Ketika ia menjawab tidak, Maulana Ilyas berkata bahwa seharusnya ia melakukannya karena hal itu akan memberi mereka gambaran tentang bagaimana perutusan umat Muslim berangkat pada masa Nabi SAW.

Ketika saat kematian mendekat

Maulana Ilyas mengetahui dengan pasti bahwa kematian sudah dekat. Terkadang, ia akan mengungkapkannya untuk menanamkan rasa urgensi di antara rekan-rekannya. Ketika Maulana Zafar Ahmad datang menjenguknya, ia berkata, "Anda berjanji untuk meluangkan waktu Anda untuk saya, tetapi Anda belum melakukannya". Maulana Zafar Ahmad menjawab bahwa cuaca terlalu panas dan ia akan datang selama liburan Ramadan dan menghabiskan waktu bersamanya. Maulana Ilyas berkata, "Anda berbicara tentang Ramadan padahal saya merasa bahwa saya tidak akan hidup bahkan hingga Sya'ban"

Suatu hari, Maulana Ilyas memberi tahu Chowdhri Nawaz Khan untuk tidak pergi. "Sekarang hanya tinggal dua puluh hari lagi, lebih atau kurang," katanya.

Maulana Ilyas wafat tepat pada hari kedua puluh. Ia telah memberi tahu Maulana Nomani berkali-kali bahwa ia tidak memiliki harapan untuk sembuh meskipun Allah berkuasa atas segala sesuatu dan dapat memulihkan kesehatannya jika Ia berkehendak. Sesekali, ia akan mengatakan sesuatu yang menghidupkan kembali harapan para pengasuh sehingga membuat mereka gembira.

Sejak awal, Maulana Ilyas telah menjalani pengobatan di bawah Hakim Karim Bakhsh dari Paharganj. Kemudian, ia menjalani pengobatan Biochemic atas saran Maulana Zafar Ahmad. Pada akhirnya, Dr Abdul Latif, seorang ahli allopati terkemuka di Delhi, dipanggil. Dr Shaukatullah Ansari sejak awal telah menyatakan bahwa Maulana Ilyas menderita tuberkulosis abdomen. Pada masa itu, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan. Dr Abdul Latif tidak sependapat dan mendiagnosis penyakit tersebut sebagai disentri kronis, dan karena kondisi ini kurang serius, diputuskan untuk memberinya kesempatan. Namun, tidak ada perbaikan pada kesehatan Maulana Ilyas.

Ketidaksukaan terhadap Perhatian Pribadi Semata

Maulana Ilyas merasa tidak senang ketika ia merasakan seseorang lebih terikat kepadanya secara pribadi tetapi tidak kepada Usaha. Suatu kali seorang Mewati sedang memijat kepalanya. Setelah mengenalinya, Maulana Ilyas dengan marah berkata, "Engkau tidak pernah ikut serta dalam Tabligh. Aku tidak akan menerima pelayanan apa pun darimu. Tinggalkan aku."

Dengan cara yang sama, tentang seorang pria tua yang tampak sangat sungguh-sungguh merawatnya, ia berkata kepada Maulana Manzoor Nomani,

"Ia memiliki kasih sayang yang besar kepadaku, tetapi ia tidak menerima apa yang aku tawarkan. Ia tidak menyambut seruanku untuk berdakwah. Bawalah ia ke samping dan katakan kepadanya untuk bergabung secara aktif dengan Gerakan ini. Tanpa itu, sangat menyakitkan bagiku untuk membiarkannya mengurus kenyamananku."

Maulana Manzoor Nomani kemudian berbicara kepadanya, dan orang itu menjawab,

"Aku sekarang datang dengan niat yang teguh untuk bergabung dengan gerakan Tabligh".

Maulana Ilyas merasa sangat senang ketika Maulana Manzoor Nomani melaporkan hal ini kembali kepadanya, dan ia mencium tangannya.

Wilayah-wilayah Baru

Surat-surat yang datang dari luar Delhi dan Mewat menunjukkan bahwa Gerakan ini sedang mengalami kemajuan yang luar biasa di wilayah-wilayah tersebut. Semangat yang besar sedang disaksikan dan berbagai fasilitas tanpa disangka telah tercipta di kota-kota yang sebelumnya menampilkan gambaran yang suram. Sebuah Jamaah besar dikirim ke Bhopal atas permintaan Molvi Abdul Rasheed Miskeen, dan dua Jamaah dikirim ke Jaipur atas permintaan Molvi Abdur Rasheed Nomani dan Prof. Abdul Mughni. Di garis depan wilayah-wilayah baru perluasan ini adalah Moradabad, dari mana laporan-laporan paling menggembirakan datang.

Maulana Ilyas terbaring sekarat, tetapi semangatnya untuk pekerjaan ini tidak berkurang. Semakin dekat waktu yang ditetapkan, semakin besar pula gairahnya untuk Tabligh. Ia mengawasi kegiatan di Nizamuddin dari ranjang sakitnya dan memberikan instruksi pada setiap saat siang dan malam.

Ia telah menjadi begitu peka sehingga apa pun yang tidak berkaitan langsung dengan misi hidupnya membuatnya terganggu. Suatu kali, selama sesi kajian dan pengajaran, beberapa orang mulai membahas fakta-fakta sejarah dan mulai mengkritik para Raja Muslim. Kabar itu sampai kepada Maulana Ilyas, yang segera mengirimkan pesan melalui Molvi Moinullah bahwa topik itu harus diganti.

Mengenai ceramah umum, perintah tetap Maulana Ilyas adalah agar ceramah tersebut singkat dan langsung pada intinya. Keadaan emosional pembicara harus sama seperti keadaan Nabi SAW ketika menyampaikan khotbah. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW menyampaikan khotbah, dari keadaannya tampak seolah-olah beliau sedang memberikan peringatan bahwa seorang musuh sedang mendekat dan serangan sudah dekat. Maulana Ilyas tidak menyukai ceramah yang dihiasi dengan anekdot atau syair. Ia merasa tidak nyaman ketika seorang pembicara mulai larut dalam retorika atau tampak terbawa oleh kefasihan bicaranya sendiri, dan ia akan menyuruhnya untuk kembali ke pokok pembahasan atau berhenti berbicara.

Pada suatu pagi Jumat, terdapat perkumpulan besar dan Maulana Manzoor Nomani diminta untuk menyampaikan ceramah. Maulana Nomani memulai dengan gaya orator tradisional, yang terlalu berlebihan bagi Maulana Ilyas. Segera, pesan dikirimkan kepadanya agar tidak menyimpang dari pokok pembahasan. Ranjang Maulana Ilyas dibawa kembali ke kamarnya, dan Maulana Nomani menyelesaikan ceramahnya setelah menyampaikan secara ringkas apa yang perlu disampaikan.

Jemaah biasanya cukup besar dan pesan Maulana Ilyas dibacakan kepada mereka. Pada Jumat itu, Maulana Ilyas tidak dapat memberikan pesan karena ia sedang dalam keadaan koma. Maulana Zakaria meminta Maulana Nomani untuk berbicara sebagai gantinya. Ia menjawab, "Apa yang bisa aku lakukan? Ceramahku akan tidak pada tempatnya dan aku tidak punya apa pun untuk disampaikan". Ketika Maulana Ilyas sadar kembali, ia bertanya mengapa waktu telah disia-siakan dan tidak ada ceramah yang disampaikan. "Anda tidak memberikan instruksi apa pun tentang itu", ia diberi tahu. "Mengapa aku tidak ditanya?" katanya. Ketika diberitahu bahwa ia sedang demam tinggi dan diputuskan untuk tidak merepotkannya dalam keadaan itu, ia berkata, "Mengapa kalian lebih mementingkan kenyamananku daripada kenyamanan Agama?"

Perhatian dan Kepedulian yang Luar Biasa

Di antara hal-hal yang paling ditekankan oleh Maulana Ilyas pada masa-masa itu adalah Ilmu dan Zikir. Yang ia khawatirkan adalah agar misi-misi Tabligh tidak merosot menjadi usaha yang bersifat materialistis dan menjadi kumpulan aturan dan peraturan yang tanpa ruh, seperti gerakan-gerakan sezaman lainnya. Ia berkata bahwa Ilmu dan Zikir adalah dua roda Tabligh. Ilmu diperlukan untuk Zikir, dan Zikir diperlukan untuk Ilmu. Tanpa Zikir, ilmu hanyalah kegelapan semata, dan tanpa Ilmu, Zikir adalah kerusakan murni. Dengan demikian, gerakan Tabligh tanpa salah satunya adalah materialisme belaka.

Kedua, terdapat kecintaan kepada kalangan Muslim yang buta huruf dan tertindas serta kepedulian yang sungguh-sungguh untuk perbaikan agama mereka. Ia mendirikan sebuah Maktab untuk mereka di tepi jalan, dekat masjid, dan satu lagi sedikit lebih jauh, dekat persimpangan, di mana ia juga mengatur penyediaan air minum dan tempat istirahat. Para Muballigh dari Delhi dan Mewat diinstruksikan untuk pergi dan duduk di sana serta mengundang orang-orang Muslim yang lewat dengan sopan dan penuh kasih sayang. Mereka diminta menjamu orang-orang itu di tempat istirahat dengan air, meminta mereka membaca Kalimah, dan menumbuhkan dalam diri mereka keinginan untuk memperoleh ilmu Agama. Maulana Ilyas tetap memantau dengan seksama urusan Maktab-Maktab tersebut.

Urs Hazrat Khwaja Moinuddin Chishti sedang diadakan di Ajmer pada waktu itu, dan sejumlah besar Muslim yang miskin biasa datang ke makam Nizamuddin Aulia dari daerah-daerah tetangga. Di jalan, ketika mereka melihat naungan pohon yang mengundang dan tempat-tempat istirahat dengan air segar, mereka akan duduk beristirahat sejenak. Hal ini memberi kesempatan bagi para Muballigh untuk memanfaatkan sepenuhnya kesempatan tersebut untuk memberikan Dakwah.

Ratusan Muslim yang tidak berpendidikan pun menjadi mengenal pokok-pokok ajaran Islam dengan cara ini. "Maktab-maktab terbuka" ini menjadi sumber petunjuk dengan cara yang alami dan tanpa paksaan. Kadang-kadang, Maulana Ilyas mengirim para Ulama sebelum Shalat Subuh ke Jalan Mathura untuk melaksanakan Tabligh di antara para pengemudi gerobak dan penggembala unta.

Nasihat-nasihat tentang Zakat

Pengajaran tentang cara dan ketentuan yang benar dalam pembayaran Zakat adalah hal lain yang sangat penting bagi Maulana Ilyas pada hari-hari terakhir hidupnya. Para pedagang dan orang-orang berada lainnya biasa berada di sisinya sepanjang waktu. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menekankan berulang kali, dan meminta orang lain untuk menjelaskannya juga, bahwa seseorang harus menunaikan kewajiban Zakat dengan perhatian dan kehati-hatian yang sama seperti yang dituntut oleh setiap bentuk ibadah lainnya. Ia harus mencari sendiri pihak-pihak yang berhak menerimanya dan membayarkan Zakat kepada mereka dengan perasaan syukur.

Surat-surat Berakhir

Maulana Ilyas menjadi sangat cermat dengan surat-surat yang diterimanya. Beliau bersikeras agar surat-surat Tabligh dibacakan setiap pagi setelah Shalat Subuh kepada mereka yang hadir untuk meminta pendapat mereka. Sebelum menyajikan sebuah surat, dijelaskan terlebih dahulu mengapa surat-surat itu diajukan kepada mereka. Hal ini agar mereka dapat merenungkan masalah-masalah yang terkandung di dalamnya. Ini menumbuhkan Fikr Agama, sehingga kemampuan mental mereka dapat digunakan untuk tujuan dan sasaran Agama. Sebelum itu, kemampuan tersebut hanya digunakan untuk urusan duniawi. Surat-surat itu umumnya berkaitan dengan hal-hal yang memerlukan nasihat bagi para pekerja di Mewat dan Delhi. Balasan dikirim melalui musyawarah bersama. Dengan demikian, Maulana Ilyas mempersiapkan rekan-rekannya untuk tanggung jawab yang akan jatuh di pundak mereka setelah kewafatannya.

Para Pengunjung

Jumlah pengunjung bertambah setiap hari. Dua hingga tiga ratus orang biasa hadir di Nizamuddin pada setiap waktu, siang maupun malam. Mereka makan dan juga tidur di sana. Tidak ada lagi tempat di Masjid dan asrama pun tidak ada yang kosong. Ada suasana kesibukan dan kesungguhan di mana-mana. Pada waktu Shalat, saf-saf jamaah terbentuk baik di bagian Masjid yang beratap maupun yang terbuka. Siapa pun yang datang sedikit terlambat tidak akan mendapatkan tempat dalam jamaah, dan jika seseorang terlambat, ia harus rela tidak mendapatkan tempat tidur pada malam harinya.

Sheikhul Hadis Maulana Zakaria telah pergi ke Saharanpur selama beberapa hari untuk mengurus Madrasahnya. Ketika beliau kembali, Maulana Abdul Qadir Raipuri turut datang bersamanya. Hal ini membuat Maulana Ilyas sangat bahagia. Beliau berterima kasih kepada Sheikhul Hadis dengan penuh rasa syukur dan mendoakan keberkahan baginya karena telah menjadi sebab kunjungan Maulana Raipuri.

Rumor

Penduduk Delhi menyadari betapa seriusnya kondisi Maulana Ilyas. Banyak dari mereka mengunjunginya setiap hari. Ketika mereka yang telah menginap semalam pulang pada pagi hari, kerabat dan sahabat mereka bertanya dengan cemas tentang kondisi Maulana Ilyas. Suatu hari, rumor tentang kewafatannya menyebar bagaikan api di padang ilalang di seantero kota, dan orang-orang mulai berdatangan ke Nizamuddin dengan segala jenis kendaraan. Mereka datang dengan mobil, bus, dan tonga dalam arus yang tak berhenti. Tak terhitung banyaknya panggilan telepon yang diterima. Kabar itu segera dibantah, namun butuh waktu untuk meredakannya. Pada kesempatan ini, sebuah Sunnah Rasulullah SAW juga terpenuhi. Maulana Manzoor Nomani menyampaikan pidato yang kuat tentang bagaimana Rasulullah SAW hanyalah seorang Nabi Allah dan telah banyak Nabi sebelumnya. Beliau mengatakan bahwa ini adalah peringatan bagi penduduk Delhi. Mereka yang belum menghiraukan seruan Maulana Ilyas karena kesibukan duniawi mereka masih dapat melakukannya. Meskipun kabar itu pada saat itu tidak benar, kelak suatu hari nanti pasti akan menjadi kenyataan.

Hari-Hari Terakhir

Hujan turun dua atau tiga hari sebelum kewafatan Maulana Ilyas. Udara terasa dingin menusuk. Tempat tidur Maulana Ilyas, atas permintaannya sendiri, biasa diletakkan di udara terbuka untuk waktu yang lama karena beliau merasakan sensasi panas membakar di seluruh tubuhnya. Akibatnya, beliau terserang masuk angin yang segera berkembang menjadi Radang Paru-paru (Pneumonia). Sayangnya, hal itu tidak dapat terdeteksi tepat waktu.

Pada tanggal 8 Juli 1944, sekitar tengah malam, Maulana Nomani keluar untuk berjalan-jalan. Sekembalinya, ia diberitahu bahwa Maulana Ilyas ingin bertemu dengannya. Ia segera menemuinya dan mendekatkan telinganya ke bibir Maulana Ilyas. Untuk pertama kalinya, ia merasakan suaranya gemetar. Beliau berulang kali jatuh dalam ketidaksadaran dan harus mengucapkan setiap kata dua atau tiga kali sebelum dapat mengungkapkan dirinya. Maulana Nomani tidak dapat sepenuhnya memahami apa yang dikatakannya, namun itu adalah sebuah nasihat tentang Zikir dan tentang duduk bersama Maulana Raipuri.

Sekitar pukul 9 malam berikutnya, Maulana Nomani kebetulan melewati kamar Maulana Ilyas dan melihatnya terjaga sementara beberapa pelayan sedang melakukan sesuatu. Ia masuk ke dalam kamar dan duduk. Setelah beberapa saat tidak sadarkan diri, Maulana Ilyas memintanya untuk pergi menemui seseorang di kampung halamannya dan mengajaknya kepada kerja Tabligh. Maulana Nomani menjawab bahwa InsyaAllah, ia akan melakukannya. Untuk semakin menambah kepuasan Maulana Ilyas, Maulana Nomani juga mengatakan bahwa ia sangat berpengaruh di sana dan perkataannya akan sangat dihormati. Maulana Ilyas berkata, “Ya, orang-orang Allah memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain.” Beliau kembali terjatuh dalam keadaan tidak sadar. Setelah beberapa saat, sambil membuka matanya, beliau berkata, “Akan sangat baik jika sebuah pertemuan dapat diadakan di Baghpat dengan bantuan Molvi Tayyab (dari Rampur Maniharan), Molvi Zahirul Hasan (dari Kandhla), dan Hafiz Usman Khan (dari Islamia College, Peshawar)”

Pada malam tanggal 10 Juli 1944, Maulana Ilyas mendesak para Ulama untuk turut serta dalam gerakan Tabligh yang layak dengan kedudukan mereka.

Pada pagi hari tanggal 10 Juli 1944, sambil meminum air Zamzam, beliau membacakan doa termasyhur dari Hazrat Umar RA: “Ya Allah! Anugerahkanlah kepadaku syahid di jalan-Mu dan tetapkanlah kematianku di kota Nabi-Mu (yaitu Madinah)”.

Pada hari yang sama, ketika melihat seorang pria, beliau berkata, “Tanyakan kepadanya apakah ia telah menyampaikan pesan Tabligh kepada masyarakatnya dan apa yang sedang ia lakukan mengenai hal itu.”

Seorang dokter yang saat itu merawatnya memberitahu saya bahwa seluruh organ vital Maulana Ilyas telah berhenti berfungsi. Hanya kekuatan jantungnyalah yang membuatnya tetap bertahan hidup. Ia juga mengatakan bahwa kita tidak seharusnya menilai kondisinya dengan standar medis. Apa yang kita saksikan bukanlah vitalitas jasmani, melainkan vitalitas spiritual.

Pada tanggal 12 Juli 1944, Maulana Ilyas mengirimkan pesan kepada Sheikhul Hadis Maulana Zakaria, Maulana Abdul Qadir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad bahwa di antara para pengikutnya, ia menaruh kepercayaan terbesar kepada Hafiz Maqbool Hasan, Qazi Dawood, Maulana Ihtishamul Hasan, Maulana Yusuf, Maulana Inamul Hasan, dan Maulana Syed Raza Hasan. Orang-orang yang ingin melakukan bai'at hendaknya melakukannya di tangan salah satu dari mereka karena mereka semua dianggap paling layak. Para tokoh ini kemudian mengadakan musyawarah di antara mereka sendiri dan memberi tahu Maulana Ilyas bahwa mereka lebih memilih Maulana Yusuf karena beliau memenuhi seluruh syarat yang ditetapkan oleh Shah Waliullah dalam Al-Qaulul-Jamil. Beliau sangat menguasai ilmu-ilmu keislaman, seorang yang bertakwa, dan senantiasa teguh menjaga ilmu agama. Maulana Ilyas menjawab bahwa jika demikian pilihan mereka, semoga Allah SWT memberkatinya. Beliau menambahkan, “Saya sangat khawatir dan memiliki keraguan, namun sekarang saya merasa puas. InsyaAllah, kerja ini akan terus berlanjut sepeninggal saya.”

Menjelang malam, Maulana Ilyas telah siap untuk perjalanan terakhirnya. Beliau bertanya apakah esok hari adalah hari Kamis. Setelah diberitahu bahwa memang benar demikian, beliau meminta para pelayan untuk memeriksa apakah ada jejak najis pada pakaiannya. Beliau senang mengetahui bahwa pakaiannya bersih. Kemudian beliau menyatakan keinginan untuk turun dari tempat tidur dan mendirikan Shalat dengan Wudhu, namun disarankan untuk tidak melakukannya. Maulana Ilyas memulai Shalat Isya bersama jamaah namun harus menghentikannya karena panggilan alam yang mendadak. Beliau kemudian mendirikannya bersama jamaah lain di kamarnya.

Beliau menginginkan banyak Doa dan Dam pada malam itu dan mengatakan bahwa hanya mereka yang tinggal bersamanya yang dapat membedakan antara pengaruh Syaitan dan malaikat. Beliau kemudian bertanya kepada Maulana Inamul Hasan bagaimana doa, “Allahumma inna maghfiratika….”. Maulana Inamul Hasan membantunya mengingat doa tersebut: “Allahumma inna maghfiratika ausa'u min zunubi wa rahmataka arja 'indi min amali (Ya Allah! Ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku dan aku lebih berharap pada rahmat-Mu daripada amalku).” Doa itu terus terucap di bibirnya sesudahnya. Beliau berkata bahwa beliau ingin para pelayan memandikannya dan menurunkannya dari tempat tidur. Beliau ingin mendirikan dua Rakaat Shalat dan melihat buah yang dihasilkannya.

Sekitar tengah malam, Maulana Ilyas mengalami kegelisahan. Dokter dipanggil dan memberikan beberapa obat kepadanya. Suara “Allahu Akbar, Allahu Akbar” terdengar bergema dari tenggorokannya. Menjelang pagi, beliau memanggil Maulana Yusuf dan Maulana Inamul Hasan. Ketika mereka datang, beliau berkata kepada yang pertama, “Kemarilah. Biarkan aku memelukmu. Aku akan pergi.” Ajal pun tiba sesaat sebelum Azan Subuh.

Musafir yang letih dan penat itu akhirnya tiba di penghujung perjalanannya.

Upacara suksesi Maulana Yusuf dilaksanakan pada pagi hari. Di tengah linangan air mata, Sorban Maulana Ilyas diikatkan ke kepala Maulana Yusuf.

Pemandian jenazah, pengafanan dan pemakaman

Pemandian jenazah dimulai tidak lama kemudian. Hal ini dilakukan dengan tangan mereka sendiri, oleh para ulama dan ahli fikih. Ketika wewangian sedang dioleskan pada anggota tubuh sujud, Haji Abdur Rahman menyampaikan bahwa hal itu harus dilakukan secara berlimpah pada dahi yang telah lama menempel di tanah untuk sujud.

Dalam hitungan menit, kabar wafatnya Maulana Ilyas telah sampai ke Delhi dan orang-orang mulai berdatangan dari segala penjuru. Kerumunan besar pun berkumpul. Maulana Zakaria dan Maulana Yusuf menyampaikan bahwa orang-orang harus diberi tahu untuk berkumpul di ruang terbuka di bawah dan seseorang harus berbicara kepada mereka. Tema apa yang lebih tepat untuk pidato tersebut selain "Muhammad hanyalah seorang Nabi Allah, dan telah ada banyak Nabi sebelum beliau." Maulana Zafar Ahmad dan Mufti Kifayatullah berbicara dengan nada yang sama dan menasihati kesabaran dan keteguhan hati.

Menjelang Shalat Zuhur, kerumunan telah melampaui segala batas. Begitu banyak orang yang berwudhu sehingga permukaan air kolam menurun. Tidak ada satu pun ruang kosong yang dapat ditemukan di Masjid, baik di lantai bawah maupun lantai atas. Ketika keranda dibawa keluar untuk shalat jenazah, kerumunan menjadi tidak terkendali. Tiang-tiang harus dipasang padanya agar orang-orang dapat ikut memikulnya. Dengan susah payah, keranda dibawa ke pemakaman. Syaikhul Hadis Maulana Zakaria memimpin shalat tersebut. Keranda kemudian dibawa kembali ke Masjid untuk pemakaman. Sangat sulit untuk menerobos masuk ke dalam Masjid. Orang-orang bahkan memanjat tembok dengan tali. Liang lahat telah digali di sudut timur Masjid, di samping makam ayah Maulana Ilyas (Maulana Mohammad Ismail) dan saudara laki-lakinya (Maulana Mohammad). Jenazah akhirnya diturunkan ke liang lahat. Pada akhir hari itu, matahari yang telah menerangi hati jutaan orang dan menyebarkan kehangatan Iman ke segala penjuru pun telah lenyap dari muka bumi.

Para Ahli Waris

Maulana Ilyas hanya meninggalkan satu putri yang menikah dengan keponakannya dan murid kesayangannya, Syaikhul Hadis Maulana Zakaria.

Sketsa Pribadi

Kulit Maulana Ilyas berwarna sawo matang. Perawakannya pendek dan tubuhnya kurus. Namun demikian, ia penuh energi dan memiliki kapasitas kerja yang luar biasa. Ia tidak pernah berdiam diri. Janggutnya lebat dan hitam dengan beberapa helai uban yang hanya terlihat jika diperhatikan dengan saksama. Ia memiliki tatapan yang penuh pemikiran dan wajahnya menyimpan tanda-tanda kesalehan seumur hidup, disiplin moral, spiritual, dan ketaatan beribadah. Dahinya menunjukkan keluhuran budi dan kemurahan hati. Ia sedikit gagap ketika berbicara, tetapi suaranya lantang. Cara bicaranya tegas dan penuh semangat.