Haji Abdul Wahab adalah Amir ketiga Jamaah Tabligh di Pakistan dan pemimpin de facto Syura Jamaah Tabligh hingga wafatnya. Ia juga merupakan Khalifah keempat dari Tarekat Sufi Maulana Syah Abdul Qadir Raipuri. Haji Abdul Wahhab menempati peringkat ke-14 di antara 500 Muslim paling berpengaruh di dunia.
Masa Kecil Haji Abdul Wahhab
Haji Abdul Wahhab lahir pada tahun 1923. Ia berasal dari wilayah Saharanpur (UP), India, dan secara etnis merupakan seorang Rajput dari klan Rao.
Pada masa kecilnya, keluarga Haji Abdul Wahhab pindah ke Burewala, Punjab. Pada waktu itu Burewala masih menjadi bagian dari India Britania. Ia lulus dari Islamic College Lahore dan menjadi seorang Tehsildar (petugas pajak) di Pakistan. Semasa mudanya, ia bergabung dengan Majlis-e-Ahrar-ul-Islam, di mana ia menjadi ketua organisasi tersebut di Burewala. Ia juga bergabung dengan Tarekat Sufi Maulana Abdul-Qadir Raipuri (RA).
Haji Abdul Wahhab Bergabung dengan Jamaah Tabligh
Pada tahun 1944, Haji Abdul Wahab pergi ke Markaz Nizamuddin untuk pertama kalinya dan bergabung dengan Jamaah Tabligh pada usia 22 tahun.
Dikisahkan bahwa pendiri Jamaah Tabligh, Maulana Ilyas (yang saat itu berusia 58 tahun), sangat mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada usaha Dakwah setelah beliau wafat. Suatu hari, beliau melihat Haji Abdul Wahhab yang saat itu masih berusia 22 tahun. Hatinya tiba-tiba dipenuhi harapan. Beliau tahu bahwa melalui orang inilah, usaha ini akan terjaga di tangan yang baik. Beliau wafat 6 bulan kemudian.
Haji Abdul Wahhab dapat bersama Maulana Ilyas selama 6 bulan.
Haji Abdul Wahhab kemudian berhenti dari pekerjaannya dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk usaha Tabligh. Ia menjadi salah satu dari 5 orang di Pakistan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk usaha Dakwah.
Sejarah Lengkap Tabligh – Asal Usul, Perkembangan, dan Fitnah (Perpecahan)
Haji Abdul Wahhab Berhijrah ke Pakistan
Pada tahun 1947, Haji Abd Wahhab bersama sebuah Jamaah diperintahkan oleh Maulana Yusuf (Amir kedua Jamaah Tabligh) untuk berhijrah ke Pakistan selama Konflik Pemisahan India-Pakistan. Jamaah tersebut selamat dari pembantaian kereta api. Setibanya di Pakistan, Haji Abdul Wahhab tinggal di Markaz Raiwind di Lahore dan tinggal di sana sejak saat itu.
Pada bulan April 1954, saat Ijtima pertama yang diadakan di Markaz Raiwind, Maulana Yusuf, yang saat itu menjabat sebagai Amir Jamaah Tabligh, membuat sebuah Tasykil (permintaan terbuka) khusus: Siapa yang bersedia mengorbankan hidupnya untuk usaha Agama (Tabligh)? Haji Abdul Wahhab adalah orang pertama dari 18 orang yang berdiri. Kedelapan belas orang tersebut memberikan Bai'at (Sumpah Setia) mereka kepada Maulana Yusuf dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Markaz Raiwind meskipun harus mati karenanya.
Kesulitan pada Masa-Masa Awal di Markaz Raiwind
Hafiz Sulaiman, salah satu dari 18 orang yang memberikan janji seumur hidup, mengisahkan kesulitan yang mereka alami pada masa-masa awal di Markaz Raiwind. Tiga hari kelaparan adalah hal biasa. Ia berkata:
“Kadang kami mengalami kelaparan yang luar biasa. Allah SWT kemudian mengirimkan makanan kepada kami. Kami bersyukur kepada Allah SWT, namun tiba-tiba ada tamu yang datang. Miyaji Mehrab akan mengambil makanan itu dan menyajikannya kepada para tamu. Kami sering membagi sepotong kecil roti menjadi empat bagian. Roti tersebut terbuat dari jagung atau gandum jelai, dan sangat jarang bagi kami untuk mendapatkan roti gandum. Kami juga sangat jarang memiliki kari. Biasanya, kami makan cabai kering dan garam yang dicampur air untuk membuat kari, yang kami makan bersama sepotong kecil roti. Dan meskipun mengalami semua kesulitan ini, hampir tidak ada yang datang ke Markaz. Kami juga harus mengumpulkan kayu bakar dari semak-semak secara manual dan membawanya di atas kepala kami. Kadang, setelah kami menurunkan kayu bakar itu, ada ular di dalamnya.”
Hafiz Sulaiman selanjutnya menuturkan:
“Suatu kali, tidak ada makanan selama 18 hari. Kami berdoa kepada Allah untuk mengirimkan makanan kepada kami. Setelah 18 hari, saya menerima kabar bahwa putri saya sakit dan dalam kondisi sekarat, sehingga saya harus menjenguknya. Ketika saya sampai di rumah, putri saya sudah meninggal dunia. Kerabat saya kemudian datang dan membawakan kari serta roti. Ketika saya melihat makanan itu, saya lupa akan kematian putri saya dan makan sekenyang-kenyangnya. Melihat saya seperti itu, para tamu menegur saya karena dianggap sebagai ayah yang tidak berperasaan. Mereka tidak tahu bahwa saya sudah tidak makan selama 18 hari.”
Pengangkatan Haji Abdul Wahhab sebagai Amir Pakistan dan Anggota Syura Dunia
Selama Ijtima Raiwind tahun 1992, Haji Abdul Wahhab (yang saat itu berusia 70 tahun) diangkat sebagai Amir Pakistan berikutnya.
Pada tanggal 14 Juni 1993, Haji Abdul Wahhab diangkat menjadi anggota Syura Dunia oleh Maulana Inaamul Hasan (Amir ketiga Jamaah Tabligh).
Usia Haji Abdul Wahhab (Wafat)
Haji Abdul Wahhab berusia 96 tahun saat wafat. Ia wafat pada tanggal 18 November 2018 setelah terjangkit Demam Berdarah, mengikuti Sunnah Nabi SAW yang juga wafat akibat demam tinggi.
Kesehatan Haji Abdul Wahhab terus menurun sejak tahun 2010. Seiring memburuknya kesehatannya, ia diketahui berbicara dengan suara yang parau sehingga memerlukan seorang penerjemah yang duduk di sampingnya untuk mengulang kata-katanya dengan jelas. Maulana Fahim Khan biasanya menjadi penerjemahnya. Maulana Fahim Khan adalah orang yang menulis biografinya (Meray Haji Sahab).
Pemakaman Haji Abdul Wahhab (Jenazah/Janazah)
Shalat jenazah Haji Abdul Wahhab dilaksanakan pada tanggal 18 November 2018, hari yang sama dengan wafatnya. Ia berusia 96 tahun pada saat wafat. Jenazah Haji Abdul Wahhab dipimpin oleh Maulana Nazrur Rehman, yang saat itu berusia 90 tahun. Maulana Nazrur Rehman dipandang sebagai penerus alami Haji Abdul Wahhab. Ribuan orang menghadiri shalat jenazah Haji Abdul Wahhab.
Wafatnya beliau ditangisi oleh banyak orang. Bahkan Perdana Menteri Pakistan saat itu, Imran Khan, turut menyampaikan belasungkawa. Ia dimakamkan di dekat Markaz Raiwind.
Terdapat beberapa saksi yang mencium keharuman yang indah dari makam Haji Abdul Wahhab. Maulana Makki Al Hijazi mengklaim bahwa keharuman tersebut merupakan bukti bahwa Allah SWT ingin kita tahu bahwa beliau adalah seorang yang benar (Ahlul Haq), meskipun banyak yang mengingkari dan memfitnahnya (sebagian besar karena Perpecahan Jamaah Tabligh).
SELANJUTNYA: Baca Sejarah Lengkap Tabligh – Asal Usul, Perkembangan, dan Fitnah (Perpecahan)
Unduh Meray Haji Sahab
‘Meray Haji Sahab’ / ‘My Haji Sahab’ (میرے حاجی صاحب) adalah sebuah buku yang ditulis oleh Maulana Fahim Khan Sahab (yang merupakan penerjemah resmi Haji Sahab). Buku ini memuat biografi lengkapnya yang ditulis dalam bahasa Urdu.

