Jamaah Tabligh: 100 Tahun Dakwah dan Menghidupkan Kembali Umat

Bismillahirrahmanirrahim. Situs ini menyajikan Sejarah Jamaah Tabligh yang komprehensif dan autentik dari awal mulanya yang sederhana, perkembangannya, hingga pelestariannya. Kami menyediakan kutipan lengkap dari sumber-sumber terpercaya. Jamaah Tabligh (juga dikenal sebagai Tableegi Jamat / Tablig Jamat / Tableeq Jamaah / Tabligi Jamaah / Tabligh Jamaah) adalah nama tidak resmi yang diberikan kepada gerakan Islam terbesar di dunia dengan perkiraan 100 juta pengikut. Gerakan ini berfokus pada menghidupkan kembali Iman umat Muslim dan kembali kepada Sunnah Nabi SAW.

Jamaah Tabligh dimulai pada November 1926 (Jumadal-Awwal 1345). Pada November 2023 (Jumadal-Awwal 1445), Jamaah Tabligh genap berusia 100 tahun menurut Kalender Islam.

Catatan Tambahan: Bagi yang hanya ingin mengetahui tentang Krisis Perpecahan Jamaah Tabligh 2014, silakan baca artikel berikut: 3 Alasan Mengapa Jamaah Tabligh Terpecah & Bagaimana Kembali Bersatu

Jamaah Tabligh: Kronologi Peristiwa

Kronologi ini diambil dari sumber-sumber autentik + kumpulan karya Maulana Abdurrahman Cirebon, Indonesia. Maulana Abdurrahman pernah berkesempatan menjadi Khadim (kepercayaan dekat) Maulana Inaamul Hassan. Beliau saat ini merupakan salah satu Syura Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

1886Maulana Ilyas Kandhalawi bin Maulana Mohammad Ismail lahir di Kandla, Muzaffar Nagar, UP, India.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/14

Maulana Ilyas berasal dari keluarga yang sangat saleh. Ayah Maulana Ilyas, Maulana Mohammad Ismail, dikenal biasa menunggu di jalanan untuk melayani para buruh yang kehausan dengan air. Beliau kemudian akan melaksanakan Shalat 2 Rakaat sebagai ucapan syukur kepada Allah atas kesempatan untuk melayani. Suatu hari, beliau bertemu beberapa buruh dari Mewat yang sedang mencari pekerjaan. Beliau bertanya berapa upah yang akan mereka dapatkan dari pekerjaan tersebut, lalu menawarkan jumlah yang sama jika mereka mau belajar Kalimah dan Shalat darinya. Mereka setuju, dan sejak saat itu hampir 10 murid dari Mewat senantiasa bersamanya setiap waktu. Demikianlah awal mula Madrasah di Masjid Banglawali.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 4-5

Saudara Maulana Ilyas, Maulana Mohammad, tidak pernah melewatkan satu pun Shalat Tahajud selama 16 tahun sebelum wafatnya. Beliau wafat dalam keadaan sujud saat melaksanakan Shalat Witir.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 18

Nenek dari pihak ibu Maulana Ilyas, Ammi Bi, setiap hari membaca Durood Sharif 5000 kali, Ism-i-Zaat Allah 5000 kali, Bismillahirrahmanirrahim 1000 kali, Hasbunallahu-wani'mal wakil 1000 kali, Manzil, dan beberapa Zikir lainnya ribuan kali setiap hari. Selama Ramadhan, di samping semua itu, beliau juga membaca seluruh Al-Qur'an ditambah 10 juz lagi setiap hari. Dengan demikian, beliau menamatkan bacaan Al-Qur'an sebanyak 40 kali selama Ramadhan.

Maulana Ilyas adalah anak kesayangannya, dan beliau pernah berkata kepadanya, "Bagaimana bisa aku melihat sosok-sosok menyerupai para Sahabat berjalan bersamamu?"

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 7

Maulana Ilyas sendiri juga seorang yang sangat saleh. Dikatakan bahwa beliau sering menyendiri berjam-jam dalam Zikir kepada Allah. Ketika berada di Nizamuddin, beliau kadang tinggal berjam-jam hingga tengah hari di Gerbang Arab Sara, tempat di mana Wali Allah yang agung, Hazrat Nizamuddin Aulia, biasa beribadah.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 20

2 Februari 1898 – Shaykhul Hadis Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi bin Maulana Mohammad Yahya lahir, bertepatan dengan 10 Ramadhan 1315 Hijriah. Beliau adalah keponakan Maulana Ilyas.

Sumber: Seerah Maulana Yahya halaman 294

26 Februari 1898Maulana Ismail (ayah Maulana Ilyas) wafat.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 5

20 Maret 1917Maulana Yusuf Kandhalawi bin Maulana Ilyas lahir.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/80

8 Februari 1918Maulana Ilyas (berusia 32 tahun) mulai tinggal di Masjid Banglewali. Pada masa itu, masjid ini hanyalah sebuah masjid kecil dengan sebuah ruangan kecil di dalamnya. Masjid ini dikelilingi hutan lebat. Tidak ada sumber air keran dan air harus diambil dari tempat lain. Hanya 4 hingga 5 orang yang biasa shalat di sana, semuanya adalah murid-muridnya. Maulana Ilyas biasa menghabiskan banyak waktu di masjid untuk berzikir.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/24

Makanan di Madrasah begitu sedikit sehingga mereka sering kali harus menahan lapar, namun Maulana Ilyas menghadapinya semua dengan hati yang gembira. Kemiskinan yang ekstrem itu tidak berpengaruh apa pun padanya, karena yang justru mengkhawatirkannya adalah prospek kelimpahan dan kemakmuran.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, halaman 19

20 Februari 1918Maulana Inamul Hasan Kandhalawi bin Maulana Ikramul Hasan lahir di Kandla, Muzaffar Nagar, UP, India. Beliau adalah keponakan Maulana Ilyas.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/172

1922Haji Abdul Wahab lahir di New Delhi, India. Beliau termasuk di antara lima orang pertama yang berbaiat kepada Maulana Ilyas untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi Tabligh. Beliau juga merupakan khalifah keempat dari Tarekat Sufi Maulana Shah Abdul Qadir Raipuri. Saat ini, beliau adalah salah satu pelopor Tabligh yang Sanad (silsilah)-nya terhubung dengan ketiga Amir Tabligh (Maulana Ilyas, Maulana Yusuf, dan Maulana Inamul Hasan)

Sumber: The Life of Shaikh Zubayr, Halaman 156

1920-anMaulana Ilyas merasa gelisah melihat kebodohan dan ketidaktaatan beragama yang umum terjadi di kalangan umat Muslim, bahkan di kalangan santri Darul Ulum. Suatu ketika, seorang pemuda dihadapkan kepada Maulana dengan pujian bahwa ia telah menamatkan bacaan Al-Qur'an di suatu Maktab di Mewat. Maulana Ilyas terkejut mendapati bahwa jenggot pemuda itu dicukur dan tidak ada seorang pun yang dapat mengenali dari penampilan atau pakaiannya bahwa ia seorang Muslim.

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas – S Abul Hasan Ali Nadwi

29 April 1926Maulana Ilyas (berusia 40 tahun) berangkat Haji bersama beberapa Alim.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits I/31

Mekah (Gambar Lama)
Gambar Lama Mekah

20 Juli 1926 – Rombongan Haji Maulana Ilyas seharusnya kembali ke India pada hari ini, tetapi Maulana Ilyas merasa begitu gelisah dan tidak tenang sehingga ia merasa dorongan kuat untuk tinggal lebih lama di Madinah.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/31

1926 – Suatu malam, di Kota Suci Madinah, Maulana Ilyas tertidur di dalam Masjid Nabawi di Raudhah. Maulana Ilyas bermimpi Rasulullah SAW berkata kepadanya untuk “Kembali ke India karena Allah SWT akan memberikan pekerjaan untukmu”.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/31

1926 NovemberMaulana Ilyas kembali ke India dari Haji dan secara resmi memulai kerja Tabligh pada usia 40 tahun.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/31

1930 – Inamul Hassan, yang merupakan muridnya (berusia 13 tahun), mulai bergabung dengan Maulana Ilyas dalam perjalanan Dakwahnya dan juga sebagai Muqim (penetap) di Nizamuddin.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/222, 248

1930 28 AprilMaulana Ilyas memperkenalkan usaha Dakwah kepada Darul Ulum Saharanpur (untuk pertama kalinya) pada acara tahunan Madrasah tersebut.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/33

1932 – Jamaah pertama terbentuk 6 tahun setelah Maulana Ilyas pertama kali memulai kerja Dakwah dan Tabligh. Kedua jamaah tersebut adalah:

  • Jamaah Maulana Hafiz Maqbul – Dikirim ke Kandhla
  • Jamaah Maulana Dawood Mewati – Dikirim ke Saharanpur

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/40

1933 25 AprilMaulana Ibrahim Dewla lahir di Devla, Jamboosar, distrik Bharuch, Gujarat.

Sumber: Ceramah-ceramah Maulana Ibrahim Dewla

1934 2 Agustus – Sebuah Musyawarah diadakan mengenai bagaimana usaha ini harus dijalankan. Maulana Ilyas (berusia 48 tahun) dan Maulana Zakariyya (berusia 36 tahun) memimpin Musyawarah tersebut. Inilah Musyawarah di mana 6 poin Tabligh disepakati (perlu dicatat bahwa awalnya Maulana Ilyas memiliki hingga 60 poin). Hingga hari ini, 6 poin Tabligh adalah:

  1. Kalimah
  2. Shalat
  3. Ilmu dan Zikir
  4. Ikramul Muslimin
  5. Ikhlas
  6. Dakwah dan Tabligh

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/36

1939 8 November – Maulana Haroon Kandhalawi bin Maulana Yusuf bin Maulana Ilyas (ayah dari Maulana Saad) lahir.

Sumber: Tadzkirah Maulana Haroon, Halaman 23

1941 28 Mei – Maulana Talha, putra Maulana Zakariyya, lahir.

Sumber: Kehidupan Syaikh Zubayr, Halaman 133

Rumah Maulana Zakariyya tempat Maulana Talha dilahirkan
Rumah Maulana Zakariyya tempat Maulana Talha dilahirkan

1941 30 November – Ijtima pertama diadakan di Mewat dengan 25.000 peserta hadir. Banyak Ulama besar juga hadir, termasuk Maulana Ahmad Madani dan Mufti Kifayatullah

Sumber: Kehidupan dan Misi Maulana Ilyas, Halaman 62

1942 – Jamaah Masturat (Wanita) pertama terbentuk dengan Maulana Dawud Mewati sebagai Amir. Beberapa Ulama termasuk Maulana Yusuf dan Maulana Inamul Hasan pada awalnya tidak setuju dengan adanya Jamaah semacam itu. Namun, setelah diberikan penjelasan dan Tarteeb (metodologi) lengkap mengenai Jamaah tersebut, mereka sepenuhnya mendukungnya sejak saat itu.

Sumber: Sabilul Khoirot fiJama'atil Mutanaqqibat, Halaman 262

1944 JanuariHaji Abdul Wahab (saat itu berusia 22 tahun) pergi ke Markaz Nizamuddin untuk pertama kalinya dan bergabung dengan kerja Dakwah. Ia dapat bersama dengan Maulana Ilyas selama 6 bulan sebelum Maulana Ilyas wafat.

Sumber: Kehidupan Maulana Zubayr, Halaman 156

1944 Mei hingga Juli – Sepanjang bulan itu, penyakit Maulana Ilyas semakin memburuk dari hari ke hari.

Para Elders dan ulama terkemuka pada masa itu memiliki kekhawatiran yang sama, yaitu; jika Maulana Ilyas wafat, siapa yang akan menggantikan kepemimpinan Jamaah Dakwah dan Tabligh sepeninggalnya?

Pada malam-malam itu, hampir semua ulama terkemuka, seperti; Syekh Abul Hasan Ali Nadwi, Maulana Shah Abdul Qadir Raipuri, Maulana Zhafar Ahmad Usmani, Hafizh Fakhruddin, Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri, dan ulama lain yang mencintainya, baik mereka yang berhubungan dengan Maulana Ilyas dalam dakwah maupun secara pribadi, berkumpul dan bermalam di masjid Markaz Nizamuddin.

Menurut pandangan para ulama ini, yang paling layak untuk menggantikan kepemimpinan Maulana Ilyas dalam Jamaah Dakwah dan Tabligh adalah Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya. Dialah satu-satunya orang yang layak menggantikan Maulana Ilyas sebagai amir Jamaah Dakwah dan Tabligh, baik dari segi ilmu, spiritualitas, amalan, kedudukan yang tinggi, maupun kebijaksanaan.

Kemudian para ulama yang dihormati tersebut datang kepada Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya (berusia 46 tahun) dan menyampaikan pandangan mereka kepadanya. Maulana Zakariyya dengan lembut menolak dan menjawab, “Kalian tidak perlu khawatir tentang hal ini karena Allah SWT akan mengaturnya.”

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/68

11 Juli 1944 – Dua hari sebelum Maulana Ilyas wafat, Maulana Ilyas memanggil Maulana Zakariya dan Shaykh Abdul Qadir Raipuri untuk bermusyawarah. Setelah berkumpul, dalam musyawarah tersebut, beliau berkata di hadapan para ulama dan tokoh agama, “Segera pilih orang-orang yang akan menggantikan saya setelah saya wafat. Saya ingin mereka berbaiat di hadapan saya. Ada enam orang pilihan saya; Maulana Hafiz Maqbul, Maulana Dawud Mewati, Maulana Ihtisyamul Hasan, Maulana Yusuf Kandhalawi, Maulana Inamul Hasan, Maulana Sayyid Ridho Hasan Bhopali. Secara pribadi, saya mengusulkan Maulana Hafiz Maqbul, karena beliau sudah lama terlibat dalam Dzikir maupun usaha ini.”

Maulana Shah Abdul Qadir Raipuri di sisi lain mengusulkan Maulana Yusuf sebagai Amir Dakwah dan Tabligh berikutnya. Ketika kedua pilihan ini muncul, Maulana Ilyas berkata, “Siapa yang bisa menghadapi orang Mewat lebih baik daripada Yusuf?”. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Maulana Abdul Qadir Raipuri akhirnya memutuskan Maulana Yusuf menjadi Amir Dakwah dan Tabligh. Maulana Yusuf saat itu berusia 27 tahun.

Maulana Ilyas berkata, “Jika memang ini pilihan kalian, semoga Allah SWT memberikan kebaikan dan keberkahan. Sebelumnya hati saya tidak merasa tenang, tetapi sekarang jiwa saya merasa sangat tenang. Saya berharap setelah kepergian saya, usaha ini akan terus berjalan dengan baik.”

Kemudian Maulana Zakariya dan Maulana Ilyas menulis di atas kertas yang diberikan kepada Maulana Yusuf; “Saya memberi izin kepadamu untuk mengambil Bai’at dari orang-orang.”

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/65

Maulana Ilyas memberikan izin tertulis untuk mengambil Bai'at kepada Maulana Yusuf
Maulana Ilyas memberikan izin tertulis untuk mengambil Bai’at kepada Maulana Yusuf (Hanya ilustrasi)

13 Juli 1944Maulana Ilyas wafat di Masjid Banglawali dan dimakamkan di luar inti masjid Banglawali, Nizamuddin. Maulana Yusuf dilantik dan disumpah sebagai Amir Dakwah dan Tabligh kedua melalui musyawarah seluruh anggota Dakwah dan Tabligh. Maulana Zakariyya secara seremonial mengenakan sorban Maulana Ilyas di kepala Maulana Yusuf. Bayan pertama Maulana Yusuf disampaikan di bawah sebuah pohon, di halaman Masjid Banglawali, Nizamuddin.

Sumber: Sawanih Hadrathji Tsalits, I/66

Sejarah Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh: Era Maulana Yusuf

1946 – Maulana Yusuf mengirim Jamaah pertama yang bekerja khusus selama musim Haji di Arab Saudi.

Sumber: Sawanih Maulana Yusuf, Halaman 411

1946 – Maulana Yusuf mengirim Maulana Ubaydillah Belyawi untuk menetap di Madinah dan memulai usaha Dakwah di sana di antara orang Arab. Beliau kemudian digantikan oleh Maulana Saeed Ahmad Khan.

Sumber: Life of Maulana Zubayr, Halaman 148

15 Agustus 1947 – Konflik antara India dan Pakistan meletus. Ribuan umat Muslim meninggalkan Islam karena ketakutan. Banyak nyawa hilang. Semua Masyaikh berdoa dan menangis kepada Allah SWT. Sekelompok besar orang dari Mewat mengungsi ke Markaz Nizamuddin. Hadhratji Maulana Yusuf, Maulana Manzhur Nu’mani, Maulana Habiburrahman Ludyanwi, dan Maulana Zakariyya memutuskan bahwa umat Muslim tidak boleh meninggalkan India. Baik tetap tinggal atau mati. Maulana Zakariya berperan penting dalam mendesak dewan fatwa untuk mengeluarkan fatwa agar umat Muslim tidak meninggalkan India. Jika fatwa ini tidak dikeluarkan, mungkin hari ini sudah tidak ada lagi umat Muslim di India.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, 1/121, 129

Agustus 1947 – Maulana Yusuf mengirim banyak Jamaah yang gigih untuk mengajak umat Muslim yang menjadi Murtad kembali kepada Islam. Jamaah-Jamaah ini mempertaruhkan nyawa mereka dan siap menjadi syahid di Jalan Allah.

Sumber: Sawanih Maulana Yusuf, Halaman 306

24 Agustus 1947 – Maulana Yusuf mengirim satu Jamaah yang gigih untuk berhijrah ke Pakistan dan mendirikan usaha di sana. Haji Abdul Wahab Sahab menjadi bagian dari Jamaah ini. Jamaah tersebut menulis surat yang merinci perjalanan berbahaya mereka, di mana mereka bersembunyi di bawah kursi dan di dalam toilet.

Haji Abd Wahab (berusia 25 tahun saat itu) sejak saat itu menetap di Markaz Raiwind di Lahore, Pakistan.

15 September 1947 – Istri Maulana Yusuf wafat saat Sujud (bersujud) ketika melaksanakan Shalat Maghrib. Putra mereka, Maulana Haroon, saat itu baru berusia 8 tahun.

Sumber: Tadzkirah Maulana Haroon, Halaman 31

26 Desember 1947 – Ijtima pertama diadakan di Karachi setelah pemisahan Pakistan dari India.

Sumber: Sawanih Maulana Yusuf, Halaman 380

13 Maret 1948 – Sebuah Ijtima diadakan di Pakistan yang untuk pertama kalinya dihadiri oleh Maulana Yusuf setelah pemisahan Pakistan dari India. Dalam Ijtima ini, diputuskan bahwa Markaz Pakistan adalah Raiwind, Lahore.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/106

Desember 1948 – Maulana Zakariyya menyelesaikan kitab Fadhail Sadaqat

Sumber: Menjawab Keberatan atas Fadhail Amal, Halaman 15

30 Maret 1950 – Maulana Zubair Ul Hassan Kandhalawi bin Maulana Inamul Hasan lahir.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 29

11 Januari 1954 – Ijtima pertama diadakan di Dhaka, Pakistan Timur (sebelum terbentuknya Bangladesh). Maulana Yusuf dan Maulana Inamul Hassan menghadiri Ijtima tersebut.

Sumber: Sawanih Hadrat Maulana Yusuf, Halaman 385

10 April 1954Ijtima Raiwind pertama diselenggarakan

Sumber: Sawanih Hadrat Maulana Yusuf, Halaman 376

1960 – Maulana Yusuf menerbitkan salinan pertama Hayatus Sahaba

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalit, I/165

16 Agustus 1962Maulana Shah Abdul Qadir Raipuri wafat. Beliau bukan hanya seorang Syaikh Sufi yang terkenal, tetapi juga Amir dari Jamaah jalan kaki ketiga dari Delhi ke Arab Saudi, yang dalam Jamaah tersebut juga terdapat Maulana Saeed Ahmad Khan yang saat itu masih muda.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 89

12 April 1965 – Syaikh Maulana Yusuf wafat di Lahore pada pukul 14.50 hari Jumat. Beliau saat itu berusia 48 tahun. Maulana Inamul Hasan membacakan Surat Yasin di sisinya. Maulana Yusuf terus membaca Syahadat hingga napas terakhirnya. Beliau dimakamkan di sebelah makam ayahnya, Maulana Ilyas.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/274

Era Maulana Inamul Hasan

12 April 1965 – Sebuah Musyawarah diadakan oleh Maulana Zakariyya. Dari Musyawarah tersebut diputuskan bahwa Maulana Inamul Hasan akan dilantik sebagai Amir ketiga Dakwah dan Tabligh. Hasil Musyawarah diumumkan oleh Maulana Fakhruddin Deobandi, setelah Bayan (Ceramah) Maulana Umar Palanpuri.

Referensi: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/274

April 1965Sebuah Fitnah muncul. Ada sekelompok orang Mewati yang menginginkan Maulana Harun bin Maulana Yusuf (26 tahun) menjadi Amir Dakwah dan Tabligh berikutnya. Kelompok ini, bersama beberapa orang dari Delhi, mendesak Maulana Zakariyya untuk mengubah keputusannya setelah Musyawarah. Mereka terus mendesaknya melalui surat dan nasihat. Mereka bahkan menuduh Hadhrat Maulana Zakariyya menzalimi Maulana Harun. Maulana Zakariyya tetap teguh pada keputusan Musyawarah. Orang-orang berkata: 'Maulana Inamul Hasan tidak seperti Maulana Yusuf'. Hadhrat Maulana Zakariyya menjawab, "Itu benar, tetapi setelah Maulana Yusuf, Anda tidak akan pernah menemukan Amir seperti dia (Maulana Inamul Hasan)."

Referensi: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/276, 277

1965 – Maulana Harun menerima dengan rela – Maulana Harun sendiri merasa senang dan sama sekali tidak tergoda maupun terpengaruh oleh desakan mereka yang ingin menjadikannya Amir. Ia menerima keputusan Musyawarah dengan hati terbuka. Ia bahkan memberikan Bayan (Ceramah) tentang pentingnya menaati keputusan Musyawarah, dan apa pun keputusannya, itulah yang benar.

Referensi: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/277

3 April 1965Bai'at kepada Maulana Inamul Hasan dimulai. Shalat satu alasan mengapa Maulana Inamul Hasan dipilih menjadi Amir Dakwah dan Tabligh adalah karena ia merupakan sahabat terdekat Maulana Yusuf, sejak kecil hingga wafat. Selain itu, Maulana Inamul Hasan juga merupakan murid langsung Maulana Ilyas. Ia menemani Maulana Ilyas dalam sebagian besar perjalanan dakwahnya, sehingga memahami seluk-beluk dan pekerjaan dakwah.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 31

10 Mei 1965Maulana Saad Kandhalawi bin Maulana Harun lahir.

21 Agustus 1967Maulana Inamul Hasan melakukan Safar Dakwah pertamanya ke luar negeri setelah dilantik sebagai Amir Dakwah dan Tabligh. Yaitu Ijtima Sri Lanka yang diadakan antara tanggal 26 hingga 30 Agustus di Colombo.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 159

November 1967 – Ijtima Tonggi pertama kali diadakan di Pakistan Timur (sebelum pembentukan Bangladesh).

Referensi: Sawanih Hadhratji Tsalits, II/452

1969Maulana Ibrahim Dewla berangkat untuk Khuruj setahun pada usia 36 tahun ke Turki, Yordania, dan Irak. Khuruj tersebut diperpanjang menjadi 19 bulan.

Referensi: Discourses of Maulana Ibrahim, Halaman 36

26 Maret 1971 – Pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Banyak umat Muslim kehilangan nyawa.

Referensi: Sawanih Hadhratji Tsalits, I/441

23 April 1973 – Maulana Zakariyya berhijrah ke Madinah Al Munawwarah pada usia 75 tahun.

Referensi: The Life of Maulana Muhammad Yahya al-Kandahlawi, Halaman 307.

28 September 1973 – Maulana Harun Kandhalawi bin Maulana Yusuf (ayah Maulana Saad) wafat pada usia 35 tahun setelah dilanda sakit dan dirawat di rumah sakit selama 13 hari. Shalat Jenazahnya diimami oleh Maulana Inamul Hassan, 55 tahun. Saat itu, putranya, Maulana Saad berusia 8 tahun.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 379

Diduga Maulana Harun terkena Sihir Hitam karena sebelum wafatnya, ia dalam keadaan benar-benar sehat. Penyakitnya datang tanpa gejala awal apa pun. Ia batuk mengeluarkan Lendir Hitam.

Tanpa dasar apa pun, rumor mulai bermunculan bahwa Maulana Inaamul Hassan sendirilah yang melakukan Sihir Hitam tersebut. Maulana Inaamul Hassan terluka secara emosional akibat tuduhan tanpa dasar tersebut. Yang lebih memperburuk keadaan, sebagian penuduh berasal dari keluarga Maulana Harun sendiri, seperti istri Maulana Harun, Khalida (yakni ibu Maulana Saad). Khalida adalah putri Maulana Izharul Hassan.

Tercatat dalam sebuah surat bahwa pada suatu titik ia sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan tanpa dasar tersebut sehingga ia berkonsultasi dengan Maulana Zakariyya. Ia bertanya apakah baik baginya untuk berhijrah ke Madinah (Saudi) seperti Maulana Zakariyya yang juga telah berhijrah. Maulana Zakariyya memintanya untuk bersabar dan tetap tinggal di Nizamuddin. Ia mematuhi hal ini.

9 Agustus 1974 – Maulana Zubayr (usia 25 tahun) memulai perjalanan setahun di jalan Allah.

Referensi: Sawanih Hadhratii Tsalits, I/239

10 Februari 1978 – Maulana Zakariyya (yang saat itu tinggal di Madinah) secara resmi mengizinkan Maulana Zubayr untuk menerima Bai'at bagi Tareqatnya (Tarekat Sufi). Upacara tersebut diadakan di depan Masjid Nabawi.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 98

Masjid An Nabawi (Foto Lama)

Maulana Zubayr telah memperoleh Ijazah (Sertifikasi) Tareqat (Tarekat Sufi) dari 4 Masyaikh: (1) Maulana In'amul Hasan, (2) Maulana Zakariyya, (3) Maulana Sayeed Abul Hasan Ali Nadwi, dan (4) Maulana Iftikhar-ul Hasan. Hal ini, dengan standar apa pun, menjadikannya seorang 'pencapai luar biasa' dalam dunia Tazkiyah karena kesalehan dan dedikasinya yang luar biasa.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 107

27 Juli 1980 – Maulana Hafiz Maqbul wafat. Ia adalah Amir dari Jamaah pertama yang dibentuk oleh Maulana Ilyas pada tahun 1932 dan merupakan pilihan utama Maulana Ilyas sebagai penerusnya (Amir berikutnya). Namun, Maulana Shah Abdul Qadir Raipuri justru memutuskan Maulana Yusuf.

Referensi: Ahwal wa Atsar, Halaman 387

24 Mei 1982 – Maulana Zakariya Kandhalawi wafat di Madinah al-Munawwarah (84 tahun), dan dimakamkan di 'Jannatul Baqi' pemakaman para Sahabat. Kata-kata terakhir dari mulutnya adalah; 'Allah….Allah". Ia wafat pukul 17:40 sebelum Maghrib dan dimakamkan setelah Isya pada hari yang sama.

Referensi: The Life of Maulana Muhammad Yahya, Halaman 308

Jamaah Tabligh History
Pemakaman Baqi

4 November 1983Ijtima Raiwind di Pakistan diadakan dan dihadiri oleh semua Para Elders senior. Pada Ijtima tersebut, konsep Sistem Syura untuk Tabligh pertama kali diperkenalkan oleh Maulana Inamul Hasan pada Musyawarah Dunia yang diadakan seminggu setelah Ijtima tersebut pada tanggal 12 November.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 311, Halaman 450

Sejak saat itu, Maulana Inamul Hasan mendirikan Syura di seluruh wilayah India dan banyak bagian dunia lainnya.

Sumber: Surat yang ditulis oleh Maulana Shahid Saharanpuri kepada Maulana Saleemullah Khan

20 Mei 1993 – Kondisi Maulana Inamul Hasan semakin memburuk. Beliau pingsan di Mekah. Sejak 1990, ini adalah kali ketujuh beliau pingsan.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, III/440

Mei 1993 – Selama musim Haji, di Mekah, Maulana Inamul Hasan memberikan ceramah kepada Mufti Zainal Abidin, Maulana Saeed Ahmad Khan, Haji Afdhal, Haji Abdul Muqit, Haji Abdul Wahab, dan beberapa Para Elders lainnya: “Kalian tahu kesehatan saya semakin memburuk karena penyakit saya dan saya tidak lagi memiliki vitalitas yang sama. Pekerjaan ini sudah menyebar ke seluruh dunia dan kini menjadi berat bagi saya. Untuk itu, saya ingin membentuk sebuah Syura yang akan membantu pekerjaan Dakwah ini.

Sumber: Dakwah wa Tabligh Azhim Mehnat ke Maujudah Halat, Halaman 15,16

14 Juni 1993 – Di Markas Nizamuddin, seluruh Para Elders berkumpul di kamar Maulana Inamul Hasan. Mereka adalah: Maulana Saeed Ahmad Khan, Mufti Zainal Abidin, Haji Afdhal, Haji Abdul Muqit, Haji Abdul Wahab, Maulana Izharul Hasan, Maulana Umar Palanpuri, dan Maulana Zubayr.

Hadratji Maulana Inamul Hasan berkata kepada mereka yang hadir, “Kalian sudah tahu kondisi kesehatan saya sekarang. Kesehatan saya terus menurun, sementara pekerjaan ini terus bertambah. Saya tidak bisa lagi menangani pekerjaan ini sendirian. Kita harus bekerja sama.” Kemudian beliau berkata, “Mulai sekarang kalian adalah Syura saya. Dan tambahkan dua orang lagi; Miyaji Mehrab dan Maulana Saad. Insya Allah, dengan sepuluh anggota Syura ini, pekerjaan ini akan terus berjalan dengan baik.”

Maka Syura pun dibentuk: (1) Maulana Saeed Ahmad Khan, (2) Mufti Zainal Abidin, (3) Haji Afdhal, (4) Haji Abdul Muqit, (5) Haji Abdul Wahab, (6) Maulana Izharul Hasan, (7) Maulana Umar Palanpuri, (8) Maulana Zubayr, (9) Miyaji Mehrab Mewati, dan (10) Maulana Saad.

Sumber: Dakwah wa Tabligh Azhim Mehnat ke Maujudah Halat, Halaman 16

Juni 1993 – Pergiliran Faisal. Setelah Syura dibentuk, Maulana Saeed Ahmad Khan bertanya kepada Maulana Inamul Hasan di hadapan seluruh anggota Syura yang telah ditunjuk, “Ketika Anda ada di sini, Anda adalah Amir dan Faisal kami. Namun jika Anda tidak ada, bagaimana kami membuat Faisala?”. Maulana Inamul Hasan menjawab, “Pilihlah seorang Faisala di antara kalian secara bergiliran.”

Sumber: Dakwah wa Tabligh Azhim Mehnat ke Maujudah Halat, Halaman 12

Mengapa Maulana Saad tetap disertakan meskipun tidak pernah menghabiskan waktu di Jalan Allah

Maulana Inamul Hasan sengaja menyertakan Maulana Saad dalam Syura, karena beliau ingin menghindari masalah dari kalangan orang Mewat. Dikhawatirkan akan muncul masalah serupa dengan yang terjadi setelah wafatnya Maulana Yusuf. Pada saat itu, Maulana Saad berusia 26 tahun dan belum pernah menghabiskan waktu di Jalan Allah, namun ia sudah ditunjuk masuk ke dalam Syura dunia.

Hingga saat ini Maulana Saad tidak pernah menghabiskan waktu dalam Jamaah

Sumber 1: Penjelasan Rinci C Amaantullah.

Sumber 2: Pernyataan Haji Abdul Wahab Sahab, Ijtima Raiwind 2017 (Maulana Saad bahkan belum menghabiskan 40 hari di Jalan Allah)

Maulana Inamul Hasan tidak pernah berniat menjadikan putranya, Maulana Zubayr, sebagai penggantinya. Beliau ingin menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak didasarkan pada keturunan, garis nasab, atau hubungan kekerabatan, meskipun Maulana Zubayr sangat memenuhi syarat untuk menjadi Amir Dakwah dan Tabligh berikutnya. Maulana Zubayr telah menghabiskan satu tahun di jalan Allah. Ia juga ikut serta dalam berbagai Safar (perjalanan) ayahnya dan merupakan murid dari Maulana Zakariyya juga. Pada saat yang sama, ia memperoleh Ijazah (izin) untuk mengambil Bai'at bagi keduanya. Meski memiliki semua kualifikasi ini, Maulana Inamul Hasan tidak menunjuknya sebagai penggantinya, melainkan membentuk sebuah Syura.

Maulana Ibrahim Dewla tidak ditunjuk masuk ke dalam Syura karena beliau tidak selalu berada di Markas Nizamuddin dan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam Khuruj yang panjang (di Jalan Allah)

31 Maret 1994 – Maulana Inamul Hasan pingsan saat mengambil Bai'at pada Ijtima di Hyderabad karena kesehatannya yang memburuk.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 148

22 Juni hingga 2 Juli 1994 – Maulana Inamul Hasan melakukan Safar ke Inggris untuk sebuah Ijtima di Dewsbury. Ini adalah Safar terakhir Maulana Inamul Hasan ke luar negeri, selain untuk Haji dan Umrah. Sekitar 80.000 orang hadir dalam Ijtima tersebut.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, III/139

29 Maret 1995 – Maulana Inamul Hasan melaksanakan Haji bersama seluruh anggota Syura. Itu adalah Haji terakhir yang dilaksanakan Maulana Inamul Hasan semasa hidupnya, di mana beliau telah melaksanakan Haji sebanyak 17 kali.

Selama Haji ini, diadakan sebuah Musyawarah yang memutuskan bahwa Maulana Inamul Hasan dan seluruh Syura akan melakukan Safar panjang dari Sri Lanka ke Australia.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 183

6 Juni 1995 – Ijtima Muzaffar Nagar, UP, India adalah Ijtima terakhir yang dihadiri oleh Maulana Inamul Hasan. Dalam Bayan terakhirnya, hal pertama yang beliau katakan adalah (setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW) “Allah sama sekali tidak melihat keluarga dan garis keturunan, Allah SWT hanya melihat perbuatan seseorang. Jika seseorang memiliki amal yang baik, maka ia dekat dengan Allah SWT. Sebaliknya, jika perbuatan seseorang buruk, maka sesungguhnya ia jauh dari Allah SWT”

Sumber: Sawanih Hadhratii Tsalits, III/365

Jamaah Tabligh: Era Syura Alami Dunia

10 Juni 1995 – Pada pukul 1.20 dini hari Hadratji Maulana Inamul Hasan wafat pada usia 77 tahun. Kata-kata terakhirnya adalah “Syukur kepada Allah.” dan itulah napas terakhirnya. Jenazahnya dishalatkan oleh setengah juta orang dari seluruh dunia dan dimakamkan di samping Maulana Yusuf.

Sumber: Sawanih Hadhratji Tsalits, III/368, 369

10 hingga 12 Juni 1995 – Seluruh anggota Syura (dari India, Pakistan, dan Bangladesh) berkumpul di Markas Nizamuddin untuk sebuah Musyawarah yang berlangsung selama 3 hari. Hasil-hasil utama dari Musyawarah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Mulai saat ini, tanggung jawab membina pekerjaan ini tidak lagi berada di tangan satu individu; melainkan sebuah Syura (Dunia)
  • Mereka yang tinggal di Nizamuddin dari Syura (Dunia) akan menjadi anggota Syura Nizamuddin. Mereka akan mengelola pekerjaan di sana.
  • Bai'at (sumpah kesetiaan) akan dihentikan di Nizamuddin

Sumber 1: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 3

Sumber 2: Ahwal wa Atsar, Halaman 421

Sumber 3: Surat Dr Khalid Siddiqui

Sumber 4: Surat Maulana Yaqub

Sumber 5: Pernyataan/surat-surat Haji Abdul Wahab

Haji Abdul Wahab, yang saat itu berusia 72 tahun, mengenang dengan jelas peristiwa Musyawarah ini:

“Kami duduk dalam sebuah Musyawarah setelah wafatnya Maulana Inamul Hasan. Saad berkata bahwa jika saya diangkat sebagai Amir, mereka yang menginginkan Maulana Zubayr akan memisahkan diri (dari usaha ini). Jika Maulana Zubayr dijadikan Amir, mereka yang menginginkan saya akan memisahkan diri (dari usaha ini). Oleh karena itu usaha ini harus dijalankan melalui Musyawarah dan Bai’ah tidak akan terjadi di sana. Hal ini disepakati bersama”

Sumber: Haji Abdul Wahab Sahab (Audio), Raiwind November 2016

Juni 1995 – Pada saat itu, terdapat rasa kekecewaan dari pihak yang menginginkan Maulana Zubayr menjadi Amir berikutnya, mengingat berbagai kualifikasi yang beliau miliki. Namun Maulana Zubayr tidak menunjukkan rasa kecewa, apalagi kemarahan, karena beliau tidak diangkat sebagai Amir. Melihat bahwa Maulana Zubayr sendiri menerima keputusan itu dengan lapang dada, persoalan ini pun akhirnya mereda.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 3

Pada waktu itu, Maulana Saad berusia 30 tahun. Selain di kalangan orang Mewat, beliau belum begitu dikenal dalam Jamaah Tabligh. Beliau belum memperoleh Ishlahi Ta’alluq (memiliki seorang Syekh sebagai pembimbing spiritual) dan belum pernah keluar di Jalan Allah, selain mengikuti Ijtima. Perlu dicatat bahwa hingga saat itu beliau belum pernah menghabiskan waktu 40 hari sekalipun di Jalan Allah, sebagaimana disaksikan oleh Haji Abdul Wahab dan Chaudry Amanatullah (Syura Madrasah Nizamuddin)

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 3

1995 – Tercatat bahwa dalam beberapa tahun setelah wafatnya Maulana Inamul Hasan, Maulana Saad biasa berkata:

Musuh Dakwah ada dua: Syaikhul Hadis Maulana Zakariyya karena beliau tidak menjadikan ayah saya sebagai Amir; dan musuh kedua adalah Maulana Inamul Hasan

Maulana Saad, 1995

Kata-kata seperti itu sangat beracun dan membuat banyak orang marah.

Sumber: Ahwal Wa Atsar, Halaman 425

1996 – Maulana Zubayr diangkat sebagai Syaikhul Hadis Madrasah Kashiful Ulum Nizamuddin. Meskipun Maulana Zubayr adalah satu-satunya orang di Nizamuddin yang memperoleh Ijazah (izin) untuk mengambil Bai’ah dari ayahnya maupun dari Maulana Zakariyya, beliau tidak pernah mengambil Bai’ah dari siapa pun hingga akhir hayatnya. Beliau menghormati kesepakatan/musyawarah 1995.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 106, Halaman 421

1996 – Seluruh Para Elders Syura melakukan Safar dari Sri Lanka ke Australia. Safar ini adalah untuk menghormati keputusan Maulana Inamul Hasan sebelum wafatnya untuk pergi ke negara-negara tersebut. Selama Safar, banyak Musyawarah diadakan di antara anggota Syura.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 183

Agustus 1996 – Maulana Izharul Hasan wafat. Beliau adalah anggota Syura paling senior di Markaz Nizamuddin. Beliau juga adalah Imam Masjid, kepala sekolah Madrasah Kashiful Ulum Nizamuddin, Syaikhul Hadis, dan Pengelola Markaz Nizamuddin. Setelah wafatnya, Maulana Saad mengambil alih perbendaharaan dan keuangan Markaz. Hingga kini, catatan keuangan Markaz Nizamuddin hanya diketahui oleh Maulana Saad dan tidak pernah diaudit.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 4

Mei 1997Maulana Umar Palanpuri wafat. Beliau sering disebut sebagai ‘Suara Tabligh’, atau ‘Mutakallim Tabligh’.

Sumber: Tabligh Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 5

Agustus 1997 – Miyaji Mehrab wafat.

Sumber: Tabligh Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 5

1998 – Seluruh Para Elders Syura melakukan Safar ke beberapa negara Afrika, yaitu; Kenya, Malawi, Zambia, Mozambik, Zimbabwe, Afrika Selatan, Re-Union, Madagaskar, dan Mauritius. Selama perjalanan, Faisal Musyawarah selalu bergantian di antara mereka.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 190

18 Oktober 1999 – Seorang anggota Syura dunia, Haji Abdul Muqit, wafat di Bangladesh. Beliau masih hidup pada masa Maulana Ilyas.

Sumber: Maujudah Ahwal ki Wadhahat se Muta’alliq, Halaman 13

15 November 1999 – Seorang anggota Syura dunia, Maulana Saeed Ahmad Khan, wafat di Madinah Al Munawwarah dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 319

1999 – Dari sepuluh anggota Syura, 5 telah wafat dan 5 tersisa, yaitu: Mufti Zainal Abidin (Faisalabad Pakistan), Haji Afdhal, Haji Abdul Wahab, Maulana Saad, dan Maulana Zubayr.

31 Desember 1999Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi wafat. Beliau berada dalam pergaulan langsung dengan Maulana Ilyas.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 409

2000 – Seluruh Para Elders dari 5 Syura yang tersisa melakukan Safar ke Amerika dan Eropa. Pada tahun ini juga, dua anggota Syura wafat, yaitu: Mufti Zainal Abidin dan Bhay Haji Afdhal. Tersisa 3 anggota Syura, yaitu Haji Abdul Wahab, Maulana Saad, dan Maulana Zubayr. Haji Abdul Wahab adalah yang paling senior di antara ketiganya karena beliau bersama Maulana Ilyas.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 321

2000 hingga 2014 – Sejak wafatnya Mufti Zainal Abidin dan Haji Afdhal, ada berbagai usulan dari berbagai pihak untuk menambah jumlah anggota Syura. Usulan-usulan tersebut selalu tertunda dengan berbagai persoalan yang diajukan.

Sumber: Maulana Ahmad Mewati, khadim Maulana Zubayr

2 November 2001 – Kritik pertama yang pernah ada terhadap ceramah Maulana Saad muncul dalam bentuk surat dari Maulana Muhammad Ishaq Utarwi yang ditujukan kepada Maulana Saad, Maulana Zubairul Hasan, dan Maulana Iftikhar ul Hassan. Surat itu mengangkat kekhawatiran mengenai ceramah Maulana Saad pada 2 November 2001. Dalam Bayan tersebut, Maulana Saad menyebarkan pemahaman yang keliru tentang Iman. Beliau juga secara keliru mengatakan ‘Allah berkata demikian…’, menisbatkan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh Allah SWT sendiri! Na’uzubillah!

Sumber 1: Maulana Saad se Ulama Umat ke Ikhtilaf ki Bunyadi Wujuhat, Halaman 7 8

Sumber 2: Moulana Saad – Wifaaqul Ulama Al Hind, Halaman 6-7

2002 – Maulana Saad mulai mendistribusikan Muntakhab Ahadith.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 359

15 Mei 2004 – Shalat satu anggota Syura dunia, Mufti Zainal Abideen, wafat di Faisalabad, Pakistan.

Sumber: Tadzkirah Maulana Zubayr, Halaman 127

11 April 2005 – Shalat satu anggota Syura dunia, Haji Afdhal dari Pakistan, wafat.

Sumber: Dakwah was Tabligh Azhim Mehnat ke Maujudah Halat, Halaman 18

2005 – Sebuah surat pengaduan datang kepada Darul Ulum Deoband dari seorang ulama terkemuka Kanpur yang mengkritik Bayan Maulana Saad. Dalam suratnya, beliau menyimpulkan bahwa Jamaah Dakwah ini telah berubah menjadi sebuah sekte tersendiri. Pengaduan ini mengejutkan para Ulama Deoband.

Sumber: Darul Ulum Deoband ke Mauqif, Halaman 17

12 September 2006Maulana Saad untuk pertama kalinya menginstruksikan orang-orang (para hadirin di Nizamuddin Markaz) untuk mulai membaca Muntakhab Ahadith dalam Ijtimai Amaal. Ini menjadi kewaspadaan tinggi dan hampir semua Para Elders di Nizamuddin menyampaikan kekhawatiran atas hal ini. Perubahan besar dalam Tarteeb (Metodologi) kerja ini dilakukan tanpa Musyawarah. Maulana Saad mengabaikan semua kekhawatiran tersebut dan terus meminta saudara-saudara untuk memasukkan Muntakhab Ahadith dalam Ijtimai Amaal.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 460

Januari 2010 – Ijtima Tongi/Bishwa untuk pertama kalinya diselenggarakan dalam dua tahap karena jumlah peserta yang sangat banyak.

Sumber: Banglapedia – Viswa Ijtima

18 Maret 2014 – Syaikhul Hadis Maulana Muhammad Zubayr wafat di masjid Banglawali, Nizamuddin, saat berada di Rumah Sakit Dr Ram Manohar Lohia (RML), Delhi. Beliau berusia 63 tahun saat wafat. Ketika hendak dibawa ke rumah sakit, beliau berkata, "Bawakan aku kain Ihram, aku ingin melaksanakan Umrah." Keluarganya berkata, "Tidak, Anda harus ke rumah sakit." Beliau berkata, "Tidak, aku ingin melaksanakan Umrah. Bawakan aku kain Ihram."

Maulana Zubayr pergi ke Rumah Sakit dengan niat Umrah. Ketika meninggalkan Nizamuddin, beliau berkata, "Assalamu'alaikum. Selamat tinggal, Nizamuddin."

Semasa hidupnya, salah satu doanya adalah, "Ya Allah, ambillah nyawaku sebelum Fitnah menimpa Nizamuddin."

Ratusan ribu umat Muslim menghadiri salat jenazahnya yang dipimpin oleh Maulana Iftikharul Hasan Kandhalawi (pamannya).

Sumber: Jejak Dakwah Melawan Fitnah, Halaman 75

Setelah Wafatnya Maulana Zubayr

Assalamualaikum, sebelum membaca lebih lanjut, mohon dipahami bahwa kami bertujuan untuk menjaga sejarah Tabligh yang sebenarnya, sepahit apa pun itu. Seiring berjalannya generasi, sejarah ini mungkin terlupakan. Kami tidak mempromosikan kebencian, dan tentu saja bukan ghibah. Lihat artikel kami 'Ghibah vs Peringatan'. Seburuk apa pun seorang Muslim, ia tetap saudara Muslim kita. Kita mencintai dan membenci hanya karena Allah.

November 2014 – Fitnah Perpecahan Jamaah Tabligh dimulai setelah wafatnya Maulana Zubayr. Diputuskan dalam Musyawarah dunia oleh Haji Abdul Wahab bahwa pembacaan Doa dan Musafahah (jabat tangan perpisahan seremonial sebelum seseorang keluar di Jalan Allah), yang biasa dilakukan Maulana Zubayr, akan digantikan oleh putranya, Maulana Zuhairul Hassan, untuk menghormati warisan ayahnya. Maulana Saad sangat kecewa dengan keputusan ini.

Selama Ijtima Raiwind, di hadapan seluruh Para Elders, Maulana Saad kembali mengungkapkan ketidakpuasannya mengenai Musafahah yang akan dibagikan bersama Maulana Zuhair. Ia tidak ingin membaginya dengan siapa pun yang lain. Detail lebih lanjut: Baca: Maulana Saad Mendesak Musafahah dengan Agresif

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 76

Untuk informasi lebih lengkap LIHAT: 3 Alasan Mengapa Jamaah Tabligh Terpecah

Desember 2014 – Selama Ijtima Bhopal, ketika orang-orang meminta Maulana Zuhair untuk duduk di atas panggung untuk Musafahah, Maulana Saad begitu marah hingga meninggalkan panggung.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq

2014Maulana Saad melakukan langkah khianat dengan mulai mengambil Bay'ah (sumpah setia) kepada dirinya sendiri di Nizamuddin Markaz. Ini merupakan pelanggaran langsung terhadap kesepakatan tahun 1995. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, ia melakukan Bay'ah tersebut atas nama Maulana Ilyas yang tidak pernah ia temui maupun menerima Ijazah (izin) darinya.

Sumber: Maujudah Ahwal ki Wadhahat se Muta'alliq, Halaman 21

2014 – Maulana Saad dikenal menyampaikan banyak ceramah yang mengkritik para Ulama. Ceramah-ceramah ini banyak dikritik. Banyak surat masuk ke Darul Ulum Deoband yang mengkritik Bayan Maulana Saad dalam Ijtima dan perbincangannya secara umum. Isi Bayan-nya bertentangan dengan Ijma Ulama dan sering kali penuh dengan Ghuluw (berlebih-lebihan dalam Islam).

Darul Ulum Deoband melakukan investigasi yang memakan waktu beberapa tahun. Pertama, mereka mengumpulkan bukti dan saksi atas pelanggaran-pelanggaran Maulana Saad. Selanjutnya, mereka mengirim surat kepada Maulana Saad untuk menegurnya sebelum menerbitkan Fatwa, karena mereka ingin menjaga kehormatannya, sekaligus citra baik dari kerja Dakwah. Mereka menunggu cukup lama, namun Maulana Saad tidak memberikan tanggapan apa pun.

Sumber: Mawqif Darul Ulum Deoband, Halaman 5, 20

2014 hingga 2015 – Seluruh Para Elders senior Markas Pusat Nizamuddin terus-menerus memperingatkan Maulana Saad untuk berhati-hati dalam berbicara, terutama saat menyampaikan Bayan di hadapan publik. Shalat satu prinsip Dakwah dan Tabligh adalah tidak membahas isu-isu kontemporer, atau fikih Islam, dan menghindari empat hal, yaitu 'Membandingkan' (Taqabul), 'Merendahkan' (Tanqish), 'Mengkritik' (Tanqid), dan 'Menolak' (Tardid).

Maulana Ibrahim Devla (82 tahun), yang merupakan guru Maulana Saad, selalu mengajaknya untuk bermusyawarah sebelum menyampaikan Bayan-nya. Sayangnya, Maulana Saad tidak pernah menghiraukannya.

Maulana Saad merasa tidak nyaman dengan segala kritik terhadap dirinya. Ia memulai Tarteeb dua bulan untuk Hirasah (keamanan pribadinya). Banyak pemuda tak dikenal datang dari Mewat. Sebagian besar dari mereka belum pernah menghabiskan satu hari pun di jalan Allah. Mereka menunjukkan disiplin yang rendah dan berperilaku agresif serta mengintimidasi. Jumlah mereka rata-rata lebih dari seratus orang. Tugas mereka bukan hanya menjaga Maulana Saad, tetapi juga memata-matai siapa pun yang tidak sejalan dengannya.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 13

18 Agustus 2015 – Setelah penutupan Jod Pekerja Lama Uttar Pradesh di Nizamuddin Markaz, para pengawal Maulana Saad membuat kekacauan. Mereka melarang dan mengusir mereka yang ingin melakukan Musafahah (Jabat Tangan Seremonial) dengan Maulana Zuhairul Hasan.

Detail lebih lanjut: Maulana Saad Mendesak Musafahah dengan Agresif)

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 10

20 Agustus 2015 – Selama malam Shabguzari di Nizamuddin Markaz, para penanggung jawab dari Delhi terprovokasi. Pada saat itu terjadi kegaduhan di Nizamuddin Markaz antara orang-orang Delhi dan para pengawal Maulana Saad. Para pengawal Maulana Saad telah mengadopsi sikap kecurigaan yang ekstrem ini. Setiap kali muncul sedikit saja bukti tentang seseorang yang mencemarkan nama Maulana Saad, orang tersebut akan dipukuli.

Sumber: Tabligh Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 10

23 Agustus 2015 – Seiring situasi yang semakin kacau, sekelompok Para Elders Senior (termasuk Maulana Ibrahim & Prof Sanaullah) datang untuk menyampaikan kekhawatiran mereka selama Musyawarah Markaz yang dipimpin Maulana Saad. Mereka menyampaikan kekhawatiran tentang para preman yang menguasai Nizamuddin Markaz. Namun, sebelum mereka sempat berbicara, mereka langsung dikritik dan diancam, dan terjadilah kegaduhan. Pada saat itu Maulana Saad menyatakan, "..Akulah Amir. Demi Allah, aku adalah Amir bagi kalian semua…" Seorang mukmin berkata, "Siapa yang menjadikanmu Amir?!" Ia terdiam. Kemudian orang-orang berkata, "Kami menolak." Ia berkata dengan marah, "Kalian semua pergilah ke neraka (Jahannam)…!"

Sumber: Rekaman Audio Maulana Saad Menyatakan Dirinya Amir Umat

September 2015 – Selama Bayan Fajar, Maulana Saad berkata, "Di dalam empat dinding ruangan ini, tidak ada Amir selain saya." Ucapannya ditentang oleh Maulana Yaqub dalam Bayan berikutnya. Keesokan harinya, Maulana Saad kembali memberikan Bayan dan berkata, "Orang yang mengatakan tidak ada Amir (merujuk pada Maulana Yaqub), adalah Majnun (Gila). Tidak ada Amir di sini selain saya."

Catatan: Maulana Yaqub bukan hanya guru Maulana Saad, tetapi juga guru ayahnya, Maulana Haroon.

Sumber: Maujudah Ahwal ki Wadhahat se Muta'alliq, Halaman 23

Oktober 2015 – Berbagai nasihat dan peringatan kepada Maulana Saad sepenuhnya diabaikan. Karena hal ini, Para Elders markas Nizamuddin berkumpul. Mereka sepakat untuk menulis surat secara Ijtimai kepada Maulana Saad. Dalam surat itu, mereka menyebutkan kekhawatiran mereka mengenai kondisi Nizamuddin, ceramah-ceramahnya yang kontroversial yang menyinggung para Ulama, serta ideologinya yang Ghuluw (ekstrem) dalam dakwah, dan lain-lain.

Surat itu ditandatangani oleh; Dr Khalid Shiddiqi, Bhay Faruq Ahmad Bangalore, Prof Tsanaullah, Prof. Abdurrahman, Maulana Ismail Ghodrah, dan Maulana Abdurrahman.

Sumber: Majmoo Khutoot, Surat 5, Halaman 55

15 November 2015Ijtima Raiwind, Pakistan. Akibat kekacauan yang melanda Markas Nizamuddin, banyak Elders sepakat bahwa cara untuk meluruskan hal ini adalah dengan menyempurnakan Syura Alami yang kuat.

Sebuah Musyawarah khusus diadakan di Haweli di Raiwind. Haweli adalah sebuah bangunan tempat semua Elders diinapkan selama Ijtima Raiwind. Mereka yang hadir kurang lebih 30 orang dari Raiwind, 25 orang dari Nizamuddin, sekitar 7-10 orang dari Bangladesh. Haji Mumtaz yang merupakan ayah angkat Maulana Saad juga hadir.

Dalam pertemuan itu Haji Abdul Wahab meminta nominasi untuk anggota Syura Alami yang baru. Maulana Saad dengan tegas menolak penambahan Syura Alami tersebut.

Maulana Saad berkata kepada Haji Abdul Wahab, "Ini tidak perlu. Saya tidak setuju dengan ini. Tidak boleh ada pembahasan tentang ini di sini. Persoalan untuk Nizamuddin harus dibahas di Nizamuddin!" Haji Mumtaz, yang juga hadir dalam Musyawarah itu, keberatan dan berkata, "(Waktu kita di Nizamuddin) Anda mengatakan kepada kami bahwa semua pembahasan tentang pembentukan Syura harus dibicarakan di sini (di Raiwind). Sekarang Anda mengatakan bahwa Syura tidak boleh dibentuk di sini, bagaimana ini bisa terjadi?" Maulana Saad berkata, "Sudah ada syura (di Markas Nizamuddin)". Ketika ditanya siapa syura itu, Maulana Saad menjawab: "Kami akan segera membentuknya ketika kami kembali".

Sumber: Audio dan Terjemahan Asli Musyawarah Raiwind 2015

Haji Abdul Wahab, yang merupakan Faisal (ketua pengambil keputusan) Musyawarah tersebut, tetap melanjutkan pengangkatan dan penambahan 11 anggota baru Syura Alami . Anggota Syura kini menjadi:

  1. Haji Abdul Wahab, 93 tahun [Anggota Lama]
  2. Maulana Saad (Nizamuddin), 50 tahun [Anggota Lama]
  3. Maulana Ibrahim Dewla (Nizamuddin), 82 tahun
  4. Maulana Yaqoob (Nizamuddin)
  5. Maulana Ahmed Laat (Nizamuddin)
  6. Maulana Zuhairul Hasan (Nizamuddin)
  7. Maulana Nazrur Rahman (Raiwind)
  8. Maulana Abdur Rahman (Raiwind)
  9. Maulana Ubaidullah Khurshid (Raiwind)
  10. Maulana Zia ul Haq (Raiwind)
  11. Maulana Qari Zubair (Kakrail)
  12. Maulana Rabiul Haque (Kakrail)
  13. Wasiful Islam (Kakrail)

Sebuah kesepakatan disusun dan akhirnya ditandatangani oleh semua anggota kecuali Maulana Saad dan Wasiful Islam.

Kesepakatan itu juga menetapkan bahwa semua anggota Syura Alami yang berbasis di Nizamuddin juga akan membentuk Syura Nizamuddin.

Sumber: Surat Pengangkatan Syura Alami Dunia

Dalam Musyawarah itu juga ditanyakan mengenai Maulana Saad yang menyatakan dirinya sebagai Amir Umat (pada 23/8/2015). Maulana Saad membantahnya. Sebuah rekaman audio ucapannya kemudian disebutkan, di mana ia menjawab bahwa ia sedang marah pada saat itu.

Sumber 1: Audio dan Terjemahan Asli Musyawarah Raiwind 2015

Sumber 2: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 14

16 November 2015 – Dengan kecewa dan marah, Maulana Saad segera meninggalkan Raiwind karena amarahnya, mendahului Elders lainnya.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, Halaman 11

17 November 2015 – Maulana Saad mengumpulkan semua pengikutnya di Markas Nizamuddin, dan di hadapan mereka, ia berkata: "Tidak ada pembentukan syura di sana (Ijtima Raiwind). Saya dihina di sana. Beberapa pekerja dari Delhi juga menghina saya. Kalian semua harus memboikot mereka semua."

Maulana Saad begitu kesal dan marah sehingga ia tidak mengizinkan Jamaah manapun masuk ke Markas Nizamuddin selama beberapa hari. Ini adalah 'Mogok' pertama dalam sejarah Markas tersebut. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Maulana Saad juga memerintahkan pengumuman dibuat di masjid-masjid di sekitar Delhi agar untuk sementara tidak pergi ke Markas Nizamuddin. Dari akhir November hingga awal Desember, Markas Nizamuddin sangat sepi bahkan pada Malam Shabguzari-nya dan hanya dihadiri oleh orang asing.

Sumber 1: Kesaksian Dr Khalid Siddiqui – Majmoo Khutoot Surat 8

Sumber 2: Markas Tablighi Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat (h12)

6 Desember 2015 – Belum genap sebulan berlalu, Maulana Saad membentuk Syuranya sendiri untuk Markas Nizamuddin, meskipun sebelumnya ia sangat menentangnya. Syura itu termasuk putranya yang berusia 22 tahun, Maulana Yusuf Bin Saad. Ia akan menjadi satu-satunya Amir tanpa Faisal yang bergantian. Syuranya adalah: (1) Maulana Saad, (2) Maulana Ibrahim Dewla, (3) Maulana Yaqub, (4) Maulana Ahmed Laat, (5) Maulana Zuhairul Hasan, (6) Maulana Yusuf bin Saad, (7) Maulana Abdus Sattar, (8) Miyaji Azhmat (9) Dr Abdul Aleem.

Sumber: Markas Tablighi Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, Halaman 12

Desember 2015 – Sepanjang bulan ini, tanpa Musyawarah (keputusan), Maulana Saad mengganti penanggung jawab di beberapa daerah dengan orang-orang pilihannya. Ia memberhentikan mereka yang tidak sejalan dengannya.

Sumber: Markas Tablighi Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, Halaman 12

Sebuah fitnah tanpa dasar dibuat oleh para pengikut Maulana Saad bahwa orang-orang Gujarat; termasuk Maulana Ibrahim Dewla, Maulana Ahmed Laat, dan lainnya, ingin mengambil alih kendali Markas Nizamuddin dan merebut kekuasaan dari Maulana Saad. Ini adalah fitnah yang berbahaya dan tanpa dasar karena untuk pertama kalinya, gagasan untuk mencari kekuasaan dan memihak suatu ras tertentu dituduhkan kepada para Elders senior.

Sejak saat ini, klaim palsu, fitnah, pemutarbalikan fakta, dan kekerasan menjadi semakin umum di kalangan sebagian pengikut Maulana Saad.

Sumber: Tablighi Markaz Nizamuddin Kuch Haqaiq, Halaman 13

Setelah Pertumpahan Darah Nizamuddin

19 Juni 2016 – 13 Ramadan 1437 – Pertumpahan darah pertama kali terjadi di Nizamuddin Markaz. Sekelompok preman yang berada dalam pelayanan Maulana Saad memutuskan untuk membersihkan Nizamuddin Markaz. Dalam rencana yang disusun rapi, sebagian besar orang asing lebih dulu dikirim keluar dalam Jamaah. Sisanya tidak diizinkan turun ke bawah. Pintu gerbang depan dikunci dari dalam.

Peristiwa itu terjadi tepat setelah Iftar (berbuka puasa setelah Ramadhan). Tiba-tiba, sekitar seratus preman menyerbu Nizamuddin Markaz. Siapa pun yang tidak sejalan dengan Maulana Saad dipukuli dengan brutal. Beberapa kamar para Elders dirusak parah, bahkan perabotannya dihancurkan.

Tidak kurang dari 15 orang menyerbu rumah Maulana Zuhair dan merusaknya. Pintu rumah itu dihancurkan berkeping-keping. Dalam suasana yang mencekam ini, Maulana Zuhairul Hasan tidak dapat pergi ke Masjid untuk melaksanakan Tarawih. Keluarganya menghabiskan sepanjang malam dalam ketakutan dan teror; tidak ada persiapan yang dapat dilakukan untuk Sahur (makan sebelum fajar di bulan Ramadhan) keesokan paginya.

Beberapa dari orang-orang ini mencapai lantai satu (tempat kamar Maulana Yaqub dan Maulana Ibrahim berada), mematahkan kunci dua kamar, dan mencuri barang-barang di dalamnya. Shalat satu kamar ini digunakan oleh tamu Maulana Ahmad Laat. Ketika Maulana Ahmad Laat mengetahui kebiadaban terang-terangan ini, ia pergi keesokan harinya dan kembali ke kampung halamannya.

Darah berceceran di mana-mana. Jeritan para wanita dan tangisan anak-anak yang ketakutan terdengar dari dalam kompleks perumahan Nizamuddin Markaz. Para preman itu juga mendatangi toko-toko di luar Nizamuddin Markaz. Setiap toko yang terkait atau milik orang Gujarat dijarah dan dihancurkan. Kerusuhan ini menyebabkan beberapa orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Beberapa di antaranya dipukuli begitu parah hingga harus dilarikan ke ICU.

Polisi datang dan Nizamuddin Markaz ditutup sementara. Alih-alih bertindak terhadap para perusuh ini, Maulana Saad hampir tidak melakukan apa-apa. Ia hanya mengadu kepada polisi tentang warga setempat yang tidak sejalan dengannya. Penjelasannya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi memberikan keadilan bagi para korban.

Pada hari ini, prinsip-prinsip akhlak, Ikramul Muslimin, kasih sayang, dan penghormatan kepada sesama Muslim telah dilanggar dengan serius.

Sumber: Tablighi Headquarters Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, halaman 13.

Lihat pertumpahan darah pertama Nizamuddin: Hari para Elders kita pergi.

20 Juni 2016 – Surat kabar dan media lokal seketika dipenuhi dengan judul berita 'Pertumpahan Darah di Nizamuddin'.

Shalat satu korban adalah anggota keluarga Maulana Ubaidillah Belyawi yang membuat pernyataan audio mengenai insiden ini. Kesucian Nizamuddin Markaz sangat dirusak oleh tindakan satu orang.

Beberapa ulama mendatangi Maulana Saad, termasuk Mufti Abul Qasim Nu'mani, dan Maulana Salimullah Khan. Bahkan Maulana Arshad Madani (Mufti Senior terkemuka dari Darul Ulum Deoband) harus menghentikan Itikafnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk menemui Maulana Saad guna menyelesaikan masalah ini. Semua nasihat berharga mereka diabaikan oleh Maulana Saad. Mereka semua pulang dengan kekecewaan mendalam. Maulana Arshad Madani sendiri menyatakan dalam sebuah rekaman audio bahwa "Jelas bahwa Maulana Saad tidak mendapatkan Tarbiyah (pendidikan akhlak yang baik) yang semestinya"

Sumber 1: Tablighi Headquarters Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, halaman 13,14.

Sumber 2: Rekaman Audio Maulana Arshad Madani pada menit 5:26 "Maulana Saad tidak mendapatkan Tarbiyah yang semestinya"

17 Juli 2016 – Karena semua nasihat diabaikan oleh Maulana Saad, beberapa Elders senior menulis surat kepada Maulana Saad. Di antara isi surat tersebut adalah:

"Kesucian Nizamuddin selama satu abad terakhir telah dihancurkan akibat peristiwa baru-baru ini. Hal ini secara keliru digambarkan sebagai konflik kepemimpinan, padahal sebenarnya ini adalah konflik antara pola dan doktrin kerja yang benar dan disetujui dengan inovasi yang tidak disetujui dari satu orang saja. Sekian lama kami telah berusaha menyelesaikan masalah ini, namun kini para pengikut Anda telah menyerahkan urusan ini kepada sekelompok preman yang menggunakan kekerasan dan menyiksa secara fisik siapa pun yang tidak sependapat dengan Anda. Inti dari masalah ini adalah bahwa para Elders yang telah terlibat dalam kerja ini sejak era Maulana Yusuf dan Maulana In'amul Hasan telah memohon agar usaha ini dilanjutkan sesuai dengan pola dan doktrin asli yang disetujui, di bawah pengawasan Syura (yang disetujui), sementara para pengikut Anda ingin memaksakan kepemimpinan mutlak Anda tanpa syarat."

"Maulana Ilyas selalu merasa tidak nyaman jika usaha ini dilanjutkan di bawah satu Amir saja. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kekurangan, dan seiring waktu, kekurangan itu akan bertambah. Solusi bagi masalah saat ini, sebagaimana disarankan oleh Maulana Ilyas, adalah adanya Jamaah khusus (sekelompok orang), tempat usaha ini akan terus mendapatkan bimbingan dan pengawasan. Inilah pendirian kami serta pendirian orang-orang setempat dan para Elders di luar negeri. Inovasi-inovasi yang Anda perkenalkan tidak pernah disetujui, dan tidak pernah ada pada masa 3 Hadratji (para pemimpin) sebelumnya. Kami telah berulang kali menyampaikan hal ini kepada Anda karena masalah ini sudah memecah belah kami. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ancaman yang telah diperingatkan oleh Maulana Ilyas: 'Jika Usul (Doktrin) dari usaha ini dilanggar, maka fitnah yang seharusnya membutuhkan waktu berabad-abad untuk datang, akan datang dalam hitungan hari.' Tanda-tanda itu kini sudah terlihat.

Kedua, Anda telah membuat pernyataan-pernyataan dalam ceramah Anda yang bertentangan dengan mazhab (aliran ilmu) dan Ijma (kesepakatan mayoritas ulama). Pernyataan-pernyataan ini digemakan dan dipraktikkan oleh para pengikut Anda. Para Ulama sangat prihatin dengan arah usaha ini akibat hal tersebut. Anda juga mengkritik lembaga-lembaga keagamaan dan beberapa tokoh. Para Elders kami terdahulu selalu menasihati kami untuk menghindari segala ucapan yang mengkritik, merendahkan, dan membanding-bandingkan orang lain secara negatif, agar usaha ini tetap terbuka bagi semua orang.

Allah SWT telah menghidupkan kembali usaha ini melalui Maulana Ilyas; menjelaskan usaha ini melalui Maulana Yusuf dalam terang Al-Qur'an, Hadis, dan kehidupan para Sahabat; dan menjaga pola serta memperluas usaha ini melalui Maulana Inamul Hassan. Jika dianggap perlu untuk mengubah pola usaha ini, perubahan tersebut harus dilakukan melalui kesepakatan bulat Syura dari ketiga negara (India, Pakistan, dan Bangladesh).

Kami berada di penghujung hidup kami dan ingin menyatakan bahwa kami tidak setuju dengan kondisi usaha ini saat ini (di Nizamuddin). Itulah sebabnya kami tidak lagi menghadiri Musyawarah (pertemuan) triwulanan. Usaha ini perlu dijalankan di bawah pengawasan Syura, jika tidak, kita akan kehilangan para pekerja lama yang berpengalaman yang tidak setuju dengan cara Anda mengubah usaha ini.

Tabligh adalah tujuan hidup kami dan Nizamuddin adalah tanah air kami. Jika keadaan membaik, InsyaAllah, kami akan segera kembali ke Nizamuddin. Hari ini, para pekerja dari seluruh dunia sibuk membicarakan apa yang terjadi di Nizamuddin, alih-alih melakukan kerja yang sesungguhnya. Setiap Musyawarah membahas tentang Nizamuddin. Semoga Allah menghilangkan penderitaan dari hati kami dan mengembalikan kami kepada Fikr (kekhawatiran dan keprihatinan) agama yang benar. Amin.

Ditandatangani Oleh: Maulana Ismail Ghodrah, Maulana Abdurrahman Mumbay, Maulana Uthman Kakosi, Haji Faruq Ahmad Banglore, Muhsin Ottoman Luknow, Prof Tsanaullah Khan Aligarh, Prof Abdurrahman Madras.

Sumber: Majmoo Khutoot, Surat Nomor 14, Halaman 93

18 Juli 2016 – Karena mendapat perlakuan buruk akibat fitnah tak berdasar bahwa ia ingin menjadi Amir baru Tabligh, Maulana Zuhairul Hasan menulis sebuah surat yang menyatakan:

Saya ingin dengan rendah hati menyatakan bahwa saya tidak pernah menginginkan untuk menjadi Amir dan tidak pernah menuntutnya. Bagaimana mungkin saya melakukannya, sedangkan ayah saya yang telah wafat, Maulana Zubairul Hasan sbرحمۃ اللہ علیہ, sepanjang hidupnya tidak pernah mengklaim maupun bercita-cita untuk menjadi Amir? Beliau selalu taat pada Musyawarah lokal maupun dunia. Karena itu, bagaimana mungkin saya berani mengklaim IMARAT (kepemimpinan)?

Sumber: Ahwal Wa Atsar, Halaman 77

Seiring berjalannya waktu, semakin jelas bahwa keinginan untuk menjadi Amir Tabligh hanya berasal dari Maulana Saad. Atas kehendak Allah, nama baik Maulana Zuhair dibersihkan dari fitnah jahat ini.

Sumber: Ahwal wa Atsar, Halaman 78

12 Agustus 2016 – Meskipun semua rekannya telah pergi, Maulana Ibrahim Dewla masih berharap bahwa usaha Dakwah dapat diselamatkan di Nizamuddin Markaz.

Namun, Maulana Ibrahim sering menerima ancaman dari para fanatik Maulana Saad. Mereka sering bertanya kepadanya, "Maulana, jika Anda tidak merasa betah di sini, pergi saja"

Akhirnya, Maulana Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan Nizamuddin Markaz. Para fanatik Maulana Saad mengancam Maulana Ibrahim agar pergi diam-diam dan tidak berani mengungkap kejadian-kejadian di Nizamuddin. Mereka mengarang rumor bahwa Maulana Ibrahim pergi karena sakit.

Sumber: Tablighi Headquarters Hadrat Nizamuddin Dehli Kuch Haqaiq Kuch Waqiat, Halaman 14

15 Agustus 2016 – Rumor palsu tentang alasan kepergian Maulana Ibrahim Dewla dari Nizamuddin mulai menyebar. Maulana Ibrahim Dewla menulis sebuah surat yang ditujukan kepada seluruh pekerja Tabligh. Ia membantah semua rumor tentang alasan kepergiannya dari Nizamuddin.

Sumber: Surat Maulana Ibrahim Dewla

27 Agustus 2016 – Maulana Yaqub, yang merupakan Elders tertua di Nizamuddin dan guru dari Maulana Saad maupun Maulana Harun (ayah Maulana Saad), akhirnya menulis sebuah surat yang menegur Maulana Saad.

Sumber: Surat Maulana Yaqub

13 Oktober 2016 – Para Elders Arab Saudi (dipimpin oleh Syekh Ghassan Madinah dan Syekh Fadil Makkah) pergi menemui Maulana Saad sesuai pertemuan yang telah disepakati. Mereka ingin memediasi sebuah diskusi antara Maulana Saad dan Para Elders serta menyelesaikan perbedaan mereka. Para Elders datang dari seluruh penjuru India memenuhi undangan tersebut.

Namun Maulana Saad menolak untuk menemui para Elders. Sebaliknya, ia membuat pernyataan yang mengancam kepada Para Elders Arab: "Jika mereka pernah membuka topik ini, saya akan kesal dan suara saya akan keras. Jika itu terjadi, Markaz ini akan dipenuhi orang Mewati dalam waktu satu jam. Mereka tidak akan bisa keluar dari kamar saya, apalagi meninggalkan Markaz".

Keesokan harinya, Jamaah Para Elders Arab dikunjungi oleh polisi yang mengatakan mereka menerima keluhan adanya teroris. Mereka terkejut!

Pertemuan itu akhirnya tidak terjadi, dan baik Para Elders Arab maupun mantan Elders Nizamuddin pergi dengan kesedihan.

Sumber: Surat Syekh Ghassan Madinah & Syekh Fazil Makkah

13 November 2016 – Ijtima Raiwind, Pakistan. Meskipun banyak permintaan undangan untuk hadir dan menyelesaikan masalah yang sedang terjadi dalam usaha ini, Maulana Saad menolak untuk menghadiri Ijtima Raiwind. Semua Elders senior datang ke Ijtima Raiwind kecuali dirinya.

Di hadapan delegasi dari Nizamuddin, Kakrail, dan Raiwind, Haji Abdul Wahab berkata:

"Tidak ada Amir yang akan berlaku. Apa yang telah disepakati adalah apa yang akan terjadi (merujuk pada kesepakatan 1995). Kemarin, orang-orang Nizamuddin datang dan saya berbicara dengan mereka. Jika dalam keinginan Saad, ada hal ini "Saya adalah Amir", "Saya adalah seseorang", dan semua orang berbaiat kepadanya, bahkan begitu pun, tidak ada mobil yang akan bergerak (sebuah metafora yang merujuk bahwa hal itu tidak akan berjalan). Apa yang telah disepakati adalah apa yang akan terjadi. Saya telah mengatakan kepada orang-orang Nizamuddin: Para anggota Musyawarah datang kepada saya dan setelah berdiskusi dengan mereka, saya sepakat dengan mereka. Ketika ada masalah dari berbagai negara, Maulana Yusuf mengatakan kepada saya, bahwa anggota Syura saya tidak ada di sini, sebagian ada di Mekah dan sebagian di Pakistan. Keputusan hanya akan dibuat ketika semua orang berkumpul.

Kami duduk dalam sebuah Musyawarah setelah wafatnya Maulana Inamul Hasan. Saad berkata bahwa jika saya diangkat sebagai Amir, mereka yang menginginkan Maulana Zubayr akan memutuskan diri (dari usaha ini). Jika Maulana Zubayr dijadikan Amir, mereka yang menginginkan saya akan memutuskan diri (dari usaha ini). Oleh karena itu usaha ini harus dijalankan oleh Musyawarah dan baiat tidak akan terjadi di sana. Hal ini telah disepakati. Apakah Anda mengerti? Berhentilah bersikap besar dan berhentilah mengambil baiat. Ia (penerjemah merujuk pada Haji Abdul Wahab) berkata kepada mereka "Kalian semua (merujuk pada Orang-orang Nizamuddin) harus kembali ke Nizamuddin, dan di sana, berdoalah kepada Allah Pak, dan ketika Anda sampai di sana, apa pun yang telah diputuskan oleh Musyawarah, lanjutkanlah itu. Dan teruslah berdoa. Ya Allah, dengan mempertimbangkan seluruh umat manusia, apa pun yang seharusnya saya lakukan, tolong tanamkan itu di hati saya!"

Sumber: Pernyataan Haji Abdul Wahab (Rekaman Audio)

November 2016Darul Ulum Deoband mengirimkan surat kepada Maulana Saad yang menegurnya dan memberitahunya tentang niat mereka untuk mengeluarkan Fatwa terhadapnya. Mereka merasa adil untuk memberinya kesempatan dan melindungi nama serta kehormatannya sebelum mengeluarkan Fatwa tersebut.

Sumber: Ruju' Maulana Saad (Inkishaf Haqeeqat, Krisis Dakwah dan Tabligh)

30 November 2016 – Maulana Saad mengirimkan surat resmi kepada Darul Ulum Deoband untuk melakukan Ruju' (menarik kembali pernyataannya). Namun, Darul Ulum Deoband tidak puas dengan surat tersebut karena dalam surat ini, ia berusaha membela kesalahan-kesalahannya. Ia juga menuduh Darul Ulum Deoband memiliki pikiran buruk tentangnya dan menentang usaha Dakwah. Ia menulis:

Orang yang hina ini menganggap sebagai hal yang sangat mengecewakan adanya pikiran buruk yang dimiliki oleh orang-orang penting seperti Anda sekalian, yang bertanggung jawab atas sebuah pusat akademik Internasional. Pikiran buruk ini, mengenai ideologi, posisi, dan metode orang hina ini beserta rekan-rekannya, menunjukkan sikap tidak kooperatif terhadap usaha Dakwah dan Tabligh yang penuh berkah beserta Markaznya.

Surat Ruju' Pertama Maulana Saad, 30 November

Sumber: Ruju' Pertama Maulana Saad

6 Desember 2016Darul Ulum Deoband tidak dapat menerima surat Ruju' pertama Maulana Saad dan secara resmi menerbitkan fatwa pertama mereka terhadap Maulana Saad.

Sumber: Fatwa Pertama Darul Ulum Deoband tentang M Saad, Ruju' Maulana Saad

11 Desember 2016 – Maulana Saad mengirimkan surat Ruju' kedua untuk berdamai dengan Darul Ulum Deoband. Darul Ulum puas dengan hal ini dan mengirimkan delegasi untuk menemui Maulana Saad dua hari kemudian.

Atas kehendak Allah, dalam sebuah peristiwa yang tak terduga, saat delegasi sedang dalam perjalanan untuk menemui Maulana Saad, Darul Ulum Deoband menerima bukti yang mengejutkan (disertai Audio) bahwa Maulana Saad baru saja mengulangi pernyataan kontroversialnya tentang Nabi Musa AS dalam Bayan Fajr pada hari itu juga! Delegasi tersebut dipanggil kembali.

Sumber: Ruju' Kedua Maulana Saad

Desember 2016 – Mazahirul Ulum Saharanpur, tempat lahirnya Tabligh, juga mengeluarkan sebuah fatwa/sikap terhadap Maulana Saad yang mendukung fatwa Darul Ulum Deoband. Fatwa ini ditandatangani oleh 8 ulama, termasuk Maulana Salman Saharanpuri yang merupakan mertua dari Maulana Saad.

Sumber: Fatwa Mazahirul Ulum Saharanpur tentang M Saad

2016-2018 – Kami telah mengumpulkan sebanyak lebih dari 40 fatwa/sikap yang telah dikeluarkan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia terhadap Maulana Saad. Mereka telah menyampaikan keprihatinan tentang kerusakan yang telah ia timbulkan dan fakta bahwa ia telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Sumber: Kumpulan Lebih dari 40 Fatwa terhadap Maulana Saad

2017 – Sebuah surat Ruju' "palsu" disebarkan untuk merusak dan memburukkan nama Darul Ulum Deoband. Surat Ruju' "palsu" ini secara keliru diklaim sebagai surat Ruju' asli Maulana Saad. Dalam surat ini, terlihat bahwa Maulana Saad dengan tulus meminta maaf dan bahkan menyatakan bahwa ia ingin bekerja sama dengan Syura.

Sumber: Inkishaf Haqeeqat, hlm.10

2017 September – Para Ulama senior paling terkemuka di Bangladesh memutuskan untuk turun tangan dalam masalah ini. Sebuah pertemuan diadakan antara mereka, perwakilan pemerintah, Syura Kakrail, dan para ulama yang terkait dengan Darul Ulum Deoband. Untuk memaksakan rekonsiliasi damai, mereka menetapkan syarat bagi Maulana Saad. Ia hanya boleh memasuki Ijtima Tongi jika syarat berikut dipenuhi:

  • Maulana Saad harus berdamai dan datang ke Ijtima Tongi bersama Maulana Ibrahim dan Maulana Ahmad Laat.
  • Maulana Saad harus menyelesaikan Ruju'-nya dengan Darul Ulum Deoband.

Sumber: Inkishaf Haqeeqat, hlm.22

2017 November 11Ijtima Raiwind, Pakistan. Maulana Saad tidak hadir. Namun, sebuah utusan dari Nizamuddin datang yang terdiri dari Maulana Shaukat, Mufti Shehzad, dan Bhai Mursalin. Haji Abdul Wahab mengumpulkan sekitar 500 saudara penanggung jawab dan anggota Syura dari seluruh dunia di Raiwind Markaz pukul 11:00 pagi. Haji Abdul Wahab menjelaskan Ikhtilaf tersebut. Setelah membacakan beberapa perkataan Maulana Yusuf (Amir kedua Tabligh), ia berkata,

Orang-orang Markaz Nizamuddin harus bertaubat dan beristighfar sekarang. Kalian semua sebaiknya jangan pergi ke Nizamuddin. Markaz Nizamuddin sudah tidak seperti dulu. Nizamuddin telah dikuasai oleh orang-orang yang tidak keluar di Jalan Allah. Bahkan (Maulana) Saad pun belum pernah keluar 40 hari di Jalan Allah."

Sumber: Pernyataan Haji Abdul Wahab, Ijtima Raiwind, November 2017

2018 Januari 10Maulana Saad tidak diizinkan menghadiri Ijtima Tongi, Bangladesh. Alasannya adalah Maulana Saad tidak memenuhi syarat masuk yang ditetapkan pada September 2017 oleh para Ulama paling senior di Bangladesh.

  • Maulana Saad gagal melakukan usaha rekonsiliasi sekecil apa pun dengan Maulana Ibrahim dan Maulana Ahmad Laat.
  • Maulana Saad masih dianggap sebagai orang yang menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ia belum menyelesaikan Ruju'-nya dengan Darul Ulum Deoband.

Namun Maulana Saad memasuki Bangladesh dengan visa turis dari Thailand. Ketika manuver ini diketahui, para Ulama murka karena hal ini dianggap sebagai pembangkangan dan tidak menghormati arahan para Ulama senior Bangladesh. Ribuan Ulama memprotes kedatangan Maulana Saad dan memblokir semua pintu keluar dari bandara Shahjalal, Dhaka.

Wasiful Islam secara diam-diam membawa keluar Maulana Saad dari bandara Dhaka melalui jalur belakang menuju Kakrail Markaz. Ketika manuver ini terbongkar, ribuan Ulama mengepung Kakrail Markaz dan memblokir semua jalan keluar dari Markaz.

Sumber: Dhaka Tribune

2018 Januari 11 – Ijtima Tongi ke-53, Bangladesh dimulai. Karena adanya gelombang protes yang begitu besar atas kedatangan Maulana Saad, pemerintah Bangladesh melarang Maulana Saad dan para pengikutnya meninggalkan Kakrail Markaz.

Sumber: Dhaka Tribune

2018 Maret 20 – Pertanyaan datang dari berbagai negara mengenai penyebab krisis ini. Karena itu, para Elders paling senior yang dipimpin oleh Haji Abdul Wahab Sahab membuat pernyataan tegas dan ultimatum:

"Solusi atas masalah ini bergantung sepenuhnya pada satu individu"

(1) Maulana Saad harus menerima Syura dan menerima sistem Faisal (ketua pengambil keputusan) bergilir bersama mereka.

(2) Usaha Tabligh harus dipertahankan dalam pola dan doktrin asli yang telah disetujui dari Maulana Ilyas, Maulana Yusuf, dan Maulana Inamul Hasan. Maulana Saad tidak boleh memperkenalkan perubahan apa pun tanpa persetujuan Syura.

(3) Maulana Saad harus menghentikan penyebaran pernyataan dan gagasan yang telah dikeberatani oleh Darul Ulum Deoband. Ia harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk berdamai dengan Darul Ulum Deoband."

Ditandatangani oleh: Haji Abdul Wahab, Maulana Ibrahim Dewla, Maulana Zuhairul Hasan, Maulana Abdurrahman Mumbai, Maulana Ubaidullah Khurshid, Bhai Hashmat Ali, Chaudhry Muhammed Rafiq, Maulana Muhammed Yaqub, Maulana Ahmed Laat, Maulana Nazur Rahman, Maulana Zia ul Haq, Maulana Uthman Kakosi, Maulana Ehsanul Haq, Maulana Ahmed Batlah, Dr Ruhullah, Bhai Babar Javed, Mian Muhammed Anwar, Bhai Irshad Ahmed, Bhai Fida Muhammed Piracha, Prof Muhammad Shahid, Bhai Bakht Munir, Bhai Sultan Iqbal, Bhai Naushad Baig, Bhai Muhammed Ali, Dr Manzur Ahmed.

Sumber: Surat Bersama Haji Abdul Wahab

2018 November 18Haji Abdul Wahab Sahab wafat setelah terkena demam berdarah. Kematian seperti ini menyerupai Sunnah Nabi Muhammad SAW yang juga wafat karena demam tinggi. Ia berusia 96 tahun saat wafat.

Jenazah Haji Abdul Wahhab dishalatkan oleh Maulana Nazrur Rehman, yang saat itu berusia 90 tahun. Ribuan orang menghadiri shalat jenazah Haji Abdul Wahhab.

Ada beberapa saksi yang mencium keharuman yang menakjubkan dari makam Haji Abdul Wahhab. Maulana Makki Al Hijazi mengklaim bahwa keharuman tersebut adalah bukti bahwa Allah SWT ingin kita tahu bahwa ia adalah seorang yang benar (Ahlul Haq) meskipun banyak yang telah menyangkal dan memfitnahnya (karena sikap tegasnya selama Krisis Jamaah Tabligh).

Sumber: Meray Haji Sahab (Biografi Haji Abdul Wahab)

BERSAMBUNG…