Saudara Maulana Ilyas: Maulana Mohammad Yahya Kandhlawi

Maulana Mohammad Yahya Kandhlawi (Singkat: Maulana Yahya) adalah kakak dari Maulana Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh dan ayah dari Sheikhul Hadis Maulana Zakariyya. Ayah Maulana Ilyas, Maulana Mohammad Ismail memiliki 4 orang anak.

Maulana Yahya menghafal Al-Qur'an yang mulia pada usia tujuh tahun dan memperoleh pendidikan agama dari Darul Ulum Deoband.

Pada tahun 1893, Maulana Yahya pergi tinggal di Gangoh bersama Maulana Rasheed Ahmad Gangohi. Maulana Ilyas kemudian menyusul bergabung dengannya di sana. Selama di sana, Maulana Yahya menjadi guru ideal bagi Maulana Ilyas.

Gaya Mengajar Maulana Yahya

Metode mengajar Maulana Yahya sangat orisinal. Ia tidak memulai dengan mengajarkan buku pada tahap awal, melainkan mendiktekan aturan tata bahasa kepada para murid. Kemudian, ia memberi mereka kata-kata dua huruf atau tiga huruf untuk dikonjugasikan dan diinfleksikan. Penekanan diberikan pada sastra sejak awal. Ia memulai dengan 'Chahl Hadees' karya Shah Waliullah dan 'Sipara of Aam', dan mengatakan bahwa karena seorang anak Muslim sudah hafal 'Sipara' di luar kepala, ia tidak perlu lagi mempelajari kata-katanya, melainkan hanya maknanya saja. Namun, ia akan menambahkan bahwa kata-kata Hadis dan Al-Qur'an memiliki keberkahan tersendiri.

Perhatian utama Maulana Yahya adalah pengembangan daya nalar para muridnya. Ia bahkan tidak peduli apakah sebuah buku selesai dibaca atau tidak. Umumnya, ia memberikan sebuah buku, tanpa catatan dan penjelasan, kepada murid untuk dibaca sendiri. Ketika ia yakin bahwa murid tersebut dapat membaca dan menjelaskan sejumlah halaman dengan baik, ia memberinya buku lain. Cara ini sangat membantu mengembangkan sifat percaya diri pada murid-muridnya.

Usaha Maulana Yahya

Maulana Yahya adalah orang yang rajin bekerja. Ia memiliki sebuah toko buku yang dikelolanya dengan sangat teliti. Toko itu bukan hanya menjadi sumber penghidupannya, tetapi juga sumber penghidupan saudara-saudaranya.

Suatu hari, pengelola toko mengatakan bahwa Maulana Ilyas tidak menunjukkan minat dalam usaha tersebut, yang tidak baik karena ia pun turut mendapat manfaat darinya. Mendengar hal itu, Maulana Yahya menjadi sangat marah dan berkata, "Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa rezeki yang sampai kepadamu dan pertolongan yang engkau terima dari Allah adalah karena keberkahan orang-orang yang lemah di antara kalian. Saya percaya bahwa saya menerima rezeki saya karena keberuntungan anak ini. Tidak boleh ada apa pun yang dikatakan kepadanya di masa depan. Jika ada sesuatu yang perlu disampaikan, sampaikanlah kepada saya."

Wafatnya Maulana Yahya

Maulana Yahya wafat pada hari Rabu, 9 Agustus 1915. Ini merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan bagi Maulana Ilyas. Selain sebagai kakak yang paling penyayang, ia juga merupakan guru dan pembimbing Maulana Ilyas. Maulana Ilyas tidak pernah bisa benar-benar pulih dari kesedihan itu hingga akhir hayatnya. Maulana Ilyas sering tenggelam dalam pikiran dan diliputi oleh semacam keheningan mendalam yang khas setiap kali ia membicarakan saudaranya itu.