Ikhtilaf, atau lebih tepatnya Ikhtilaf Intra-Sunni adalah ketika dua atau lebih Muslim Sunni tidak sepakat mengenai hal-hal tertentu. Perselisihan pendapat terjadi setiap saat. Tidak sepakat tidak berarti kita harus menjadi musuh. Menunjukkan Adab (perilaku/etika yang baik) dalam suatu perselisihan juga tidak berarti kita mendukung atau setuju dengan posisi yang salah. Ada cara untuk berbeda pendapat sambil tetap menegakkan kebenaran ketika hal ini melibatkan sesama Muslim (Sunni).
Shalat satu tujuan dari situs web ini adalah untuk memperjelas pemisahan Jamaah Tabligh dari versi Maulana Saad (juga dikenal sebagai Faksi Nizamuddin). Kami telah menyediakan klarifikasi, bukti-bukti, fatwa-fatwa, surat-surat asli dan kesaksian audio dari para Ulama dan Para Elders Senior. Kami juga menyediakan sejarah Tabligh yang ditulis dengan baik. Semua ini menjelaskan mengapa Maulana Saad berada di pusat isu yang sedang terjadi dan mengapa kita harus tetap berpegang pada Syura yang sudah ada sebelumnya dan Tabligh yang asli.
Kami mengakui bahwa ini adalah masalah intra-Sunni. Penyimpangan Maulana Saad sama sekali tidak sebanding dengan penyimpangan (non-Sunni) yang jelas-jelas menyimpang. Namun, sekadar menerima kesalahan hanya untuk menyenangkan seseorang atau kelompok tidak memiliki dasar dalam Syariah. Memiliki perbedaan tidak berarti kita harus saling membenci atau bermusuhan satu sama lain. Ada Adab, dan di sinilah letak Adab dari Ikhtilaf.
Artikel ini memberikan panduan sederhana tentang Adab Ikhtilaf.
#1 Berdoalah untuk mereka.
Kita harus berdoa agar Allah SWT memberikan Hidayah dan membuka hati para pengikut Maulana Saad kepada kebenaran. Sebagian besar dari mereka InsyaAllah tulus dalam Dakwah mereka.
Pekerjaan Dakwah ini sendiri sangat sulit. Seseorang harus berkorban, bersabar menghadapi orang lain, dan memiliki banyak Sabar. Kita seharusnya bersimpati kepada mereka karena telah mencurahkan seluruh energi mereka untuk sesuatu yang salah. Bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Allah SWT? Hal ini seharusnya membuat kita meneteskan air mata dalam doa kita.
"Ya Allah, hilangkanlah Fitnah ini! Bimbinglah saudara ini dan itu kepada kebenaran!"
Kita semua melakukan Pekerjaan Dakwah ini demi Islah diri kita sendiri. Sebagaimana kita menginginkan Hidayah untuk diri kita sendiri, kita juga harus menginginkannya untuk orang lain.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Tirmidhi:2515)
#2 Perlakukan mereka sebagai Saudara Muslim kita
Kita harus memperlakukan para pengikut Maulana Saad sebagai saudara Muslim kita dan memberikan mereka semua hak seorang Muslim. Ini termasuk memberi Salam, membantu mereka saat membutuhkan, menghadiri shalat jenazah, dan lain-lain.
Kita tidak boleh memiliki perasaan negatif terhadap mereka. Ya, kita prihatin bahwa mereka perlahan-lahan merusak pekerjaan Dakwah melalui kebingungan dan perpecahan. Namun, kita harus memahami bahwa ini bukan pernah menjadi niat mereka dan pada akhirnya Allah SWT akan melindungi Agama-Nya!
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda, "Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin. (Bukhari:1240)
#3 Jangan mengobarkan perselisihan
Sebagian besar saudara Jamaah Tabligh bersifat lembut dan memiliki Akhlak (perilaku) yang sangat baik. Namun, masyarakat tidak melihat mayoritas ini, melainkan hanya menyoroti yang sedikit. Ketika menyangkut Ikhtilaf, sangat disayangkan bahwa beberapa saudara bertindak dengan kekasaran yang ekstrem bahkan kekerasan. Mereka memiliki masalah amarah.
Untuk menghindari kemarahan, kita harus:
- Memahami mengapa Maulana Saad salah menurut Ulama dan Para Elders.
- Memahami bahwa para pengikut Maulana Saad hanya keliru informasi.
Di atas segalanya, jangan pernah mengobarkan permusuhan terhadap orang lain.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang kuat bukanlah orang yang mengalahkan orang lain dengan kekuatannya, melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (Bukhari:6114)
Pertanyaan: Jika mereka mengikuti Baatil, bukankah kita harus menegur mereka?
Berdasarkan berbagai Fatwa mengenai pemimpin mereka, jelas bahwa para pengikut Maulana Saad memegang posisi yang salah. Haruskah kita menegur mereka?
Jawaban atas pertanyaan ini termasuk dalam topik bagaimana melakukan Nahi Munkar (mencegah kemungkaran). Ada banyak tulisan tentang topik ini dan Syariah kita sangat jelas:
- Kapan seseorang seharusnya bersikap samar untuk menghindari perselisihan dibandingkan mengoreksi keyakinan Islam yang salah?
- Haruskah saya mengatakan sesuatu?
Secara umum, kita hanya boleh melakukan Nahi Munkar dalam batas-batas pengaruh dan otoritas kita. Jika kita tidak memilikinya, pendekatan terbaik adalah memenangkan hati mereka melalui Ikraam dan Akhlak. Inilah metode Jamaah Tabligh.
Dalam hal yang berkaitan dengan pekerjaan, pemisahan tetap harus dipertahankan karena di sinilah kita melihat kesalahan sedang disebarkan.
Menghina mereka dengan menyebut mereka salah hanya akan memperburuk situasi dan mendorong mereka semakin menjauh dari kebenaran.
#4 Bersatu dalam hal-hal yang berkaitan dengan Ummat
Meskipun kita berbeda pendapat, kita harus siap bersatu dalam setiap usaha yang berkaitan dengan Ummat Muslim secara keseluruhan. Misalnya, mendukung penderitaan orang-orang yang tertindas atau melawan penindasan. Jangan pernah meragukan bahwa kita semua adalah saudara Muslim.
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم، مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
Numan bin Bashir RS meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, belas kasihan, dan simpati mereka satu sama lain, seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, seluruh tubuh merespons dengan tidak bisa tidur dan demam" (Riyadus-Saliheen:224)
#5 Siap untuk menegur saudara kita sendiri jika mereka melakukan kesalahan
Shalat satu bahaya dari loyalitas kelompok yang fanatik adalah seseorang akan "membela" anggota kelompoknya bahkan ketika mereka melihat orang tersebut melakukan sesuatu yang salah. Allah SWT sendiri telah menyebutkan dalam Al-Qur'an:
۞ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًۭا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat. Jika ia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan."
Sumber: Al-Qur'an 4:135
Jika kita melihat anggota tim kita sendiri melakukan sesuatu yang salah dan tim lain melakukan sesuatu yang benar, kita harus siap untuk menegur kesalahan tersebut, sambil tetap mempertahankan perbedaan yang ada.
Kita juga harus siap untuk membela yang tertindas tidak peduli kelompok mana pun mereka berasal.
#6 Jangan bergembira ketika mereka lemah atau membanggakan diri ketika kita kuat
Kita harus menghindari persaingan, terutama membandingkan jumlah dengan mereka. Usaha Dakwah ini tidak pernah tentang jumlah. Kita harus mengaitkan segala kondisi baik dan buruk kepada Allah SWT. Kita tidak boleh menyombongkan diri ketika kita kuat, atau bergembira ketika mereka lemah atau ketika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
Wathilah bin Al-Asqa' meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu bergembira atas musibah yang menimpa saudaramu sehingga Allah merahmatinya dan mengujimu." (Tirmidhi:2506)
Begitu pula, kita harus bersabar ketika kita lemah dan tidak terpengaruh ketika mereka kuat.
#7 Berbaik sangka dan jangan pernah menilai mereka secara keseluruhan.
Kita tidak boleh pernah menilai para pengikut Maulana Saad secara keseluruhan. Sejauh mungkin, pemimpin merekalah yang menjadi pusat masalah ini. Kita harus mengambil sikap "Husnudzan" (berbaik sangka) terhadap para pengikut Maulana Saad. Kenyataannya:
- Sebagian besar dari mereka tidak memiliki akses ke kebenaran karena keadaan mereka.
- Sebagian besar dari mereka hanya mengikuti Markaz lokal mereka dan tidak mengikuti setiap ideologi Maulana Saad yang salah.
- Sebagian besar dari mereka tulus dan hanya ingin melakukan Dakwah.
Kita harus jelas mengenai siapa masalah utamanya, dan jangan pernah menyalahkan masyarakat secara keseluruhan.
لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Waspadalah terhadap Zann (prasangka), karena sesungguhnya Zann adalah perkataan yang paling dusta."
Sumber: Tirmidhi:2506
#8 Jangan menyamakan mereka dengan Baatil murni atau Kelompok Non-Sunni
Ketika menyangkut penyimpangan intra-sunni, penggunaan bahasa kita sangatlah penting. Ada berbagai tingkatan penyimpangan. Beberapa penyimpangan lebih kecil dari penyimpangan besar. Yang paling penting adalah tidak menyamakan Sunni yang tidak kita setujui dengan kelompok Baatil murni seperti Syiah, Qadyani, dan lain-lain.
Ini adalah salah satu masalah dengan kelompok Salafi zaman sekarang. Mereka menyamakan semua orang yang tidak setuju dengan mereka sebagai 'Ahlul Bid'ah', 'Syirik', 'Orang-orang Neraka', dan lain-lain
Meskipun penyimpangan Maulana Saad telah disorot oleh banyak Ulama dan Fatwa, penyimpangannya sama sekali tidak sebanding dengan kategori mereka yang jelas-jelas sesat seperti Syiah atau Qadyani. Ini lebih berlaku lagi bagi para pengikutnya. Sebagian besar dari mereka berhati tulus dan hanya ingin terlibat dalam Dakwah.
#9 Jangan berbenturan dengan kegiatan mereka
Dengan Musyawarah, kita harus menghindari potensi konflik atau benturan dengan kegiatan mereka. Misalnya, jika mereka telah menggunakan sebuah Masjid untuk Jamaah atau Gasht, kita dapat mempertimbangkan Masjid lain atau melaksanakan kegiatan kita pada waktu yang berbeda.
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ وَلَمَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
Diriwayatkan dari Al-Miqdad ibn al-Aswad, saya bersumpah demi Allah, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Orang yang berbahagia adalah orang yang menghindari fitnah; berbahagialah orang yang menghindari fitnah; berbahagialah orang yang menghindari fitnah: tetapi alangkah baiknya orang yang diuji dan menunjukkan kesabaran.
Sumber: Abu Dawood:4263
#10 Untuk menghindari konfrontasi, pisahkan kegiatan kita dari mereka secara damai
Bagaimana kita bisa bekerja sama ketika kelompok-kelompok mengambil instruksi dari kepemimpinan yang berbeda? Konflik pasti akan muncul.
Untuk menghindari konflik semacam itu, kita harus memisahkan kegiatan kita dari mereka secara damai. Ini termasuk menghindari program mereka, bergabung dalam Joula/Gasht mereka, dan lain-lain.
Ini sebenarnya telah menjadi nasihat dari para Elders kita, yang sebagian besar adalah para Ulama.
Referensi: Sikap Syura dalam menyikapi perbedaan pendapat
Pemisahan tidak berarti kita bermusuhan. Kita tidak boleh pernah menyabotase atau langsung berkonfrontasi dengan mereka. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, mereka adalah saudara Muslim kita yang InsyaAllah tulus dalam Dakwah mereka.
#11 Hanya membicarakan Ikhtilaf dengan Hikmah atau ketika diminta
Kecuali kita memiliki otoritas langsung atau 'Taaluq' (pengaruh yang kuat) terhadap seseorang, kita tidak boleh membicarakan atau mendiskusikan Ikhtilaf kecuali seseorang bertanya mengenainya.
Yang terbaik adalah hanya fokus pada pekerjaan Dakwah. Tidak perlu lagi mengeskalasikan masalah ini.
خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا . وَلَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا
Abdullah bin Amr RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan Nabi bukanlah orang yang berkata keji, atau orang yang mengucapkan kata-kata keji."
Sumber: Tirmidhi:1975
#12 Berusaha memberi peringatan, bukan menggunjing
Jika kita harus mengkritik seseorang di antara mereka, hal itu harus dalam batasan "Peringatan," bukan "Ghibah (menggunjing)." Shalat satu syarat untuk "Peringatan" adalah bahwa bahaya yang ditimbulkan oleh individu tersebut harus sudah diketahui secara luas (Lihat artikel kami: "Menggunjing vs Memberi Peringatan") dan orang tersebut harus seseorang yang menjadi rujukan Agama bagi orang lain.
أَلاَ لاَ يَمْنَعَنَّ رَجُلاً هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ " . قَالَ فَبَكَى أَبُو سَعِيدٍ وَقَالَ قَدْ وَاللَّهِ رَأَيْنَا أَشْيَاءَ فَهِبْنَا
Diriwayatkan dari Abu Sa'eed Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW berdiri untuk menyampaikan khutbah dan salah satu yang beliau katakan adalah: "Ketahuilah, janganlah rasa segan terhadap manusia mencegah seseorang untuk mengatakan kebenaran jika ia mengetahuinya." Kemudian Abu Sa'eed menangis dan berkata: "Demi Allah, kami telah melihat hal-hal yang membuat kami takut (dan kami tidak berbicara)."
Sumber: Ibn Majah:4007
Catatan akhir
Hari ini, kita hidup di masa di mana gagasan-gagasan yang tidak Islami menyebar dengan kedok "Toleransi/Persatuan".
Telah diriwayatkan oleh Ibn Mas'ood (RA) bahwa Nabi yang mulia (SAW) bersabda: "Kemunduran dan kejatuhan Bani Israil dimulai ketika orang-orang saleh di antara mereka melihat dosa-dosa tertentu dilakukan oleh para pelanggar, mereka melarang mereka dari melakukan hal yang sama; tetapi ketika para pendosa tidak bertobat, orang-orang saleh itu karena hubungan dan persahabatan mereka terus bergaul dengan mereka. Maka, ketika keadaan ini mulai berlaku, Allah menyebabkan hati mereka menjadi terkutuk dengan cara yang sama."
Sumber: Tirmidhi dan Abu Dawood
Adapun mengenai para pengikut Maulana Saad, kita tetap bersatu sebagai saudara Muslim (Sunni), namun tidak ada keperluan untuk bekerja bersama dalam usaha ini. Kita tidak sepakat dengan mereka namun memiliki perbedaan bukan berarti kita harus menjadi musuh.
Allah SWT yang lebih tahu.

