Maulana Mohammad adalah kakak tertua Maulana Ilyas. Maulana Ilyas adalah pendiri Jamaah Tabligh.
Ayah Maulana Ilyas, Maulana Mohammad Ismail memiliki 4 anak.
- Dari istri pertamanya: Maulana Mohammad.
- Dari istri keduanya: Maulana Yahya, Maulana Ilyas, dan Humera Khatoon. Maulana Yahya adalah ayah dari Sheikhul Hadis Maulana Zakariyya Khadhlawi. Humera Khatoon adalah ibu dari Maulana Inaamul Hasan (Amir Tabligh yang ketiga Amir Jamaah Tabligh).
Maulana Mohammad menggantikan posisi ayahnya di Nizamuddin setelah ayahnya wafat pada tahun 1898. Maulana Ilyas kemudian menggantikan Maulana Mohammad setelah Maulana Mohammad wafat pada tahun 1918.
Kutipan berikut diambil dari buku "Life and Mission of Maulana Ilyas" karya Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi.
Maulana Mohammad adalah sosok berperangai bak malaikat dan perwujudan kasih sayang, ketakwaan, dan kerendahan hati. Ia menyukai kesendirian dan tidak peduli dengan kenyamanan duniawi. Ia tinggal di Bangle Wali Masjid, di Nizamuddin setelah ayahnya yang telah tiada (Maulana Mohammad Ismail) wafat. Ada sebuah Madrasah di dalam Masjid tersebut yang didirikan oleh Maulana Mohammad Ismail. Hanya pendidikan dasar yang diajarkan di sana, dan murid-muridnya sebagian besar adalah anak-anak dari Mewat. Madrasah itu tidak memiliki sumber pemasukan tetap dan hanya bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT untuk memenuhi kebutuhannya.
Ketakwaan Maulana Mohammad
Banyak orang di Delhi dan Mewat yang begitu setia kepada Maulana Mohammad dan telah memperoleh manfaat dari bimbingannya. Wajahnya memancarkan cahaya spiritualitas. Ia sering menyampaikan ceramah dengan cara yang santai dan seperti perbincangan biasa. Ia tetap duduk selama menyampaikannya, dan umumnya membacakan Hadis tentang akhlak yang baik dan zuhud, lalu menjelaskan maknanya dengan bahasa yang sederhana.
Suatu kali, Maulana Mohammad mengalami bisul di bawah matanya yang harus dibuka sebanyak tujuh kali. Para dokter bersikeras memberikan obat bius, namun ia menolak untuk menerimanya dan berbaring tanpa bergerak sepanjang operasi berlangsung. Sang ahli bedah kemudian berkata bahwa ia belum pernah menyaksikan hal semacam itu seumur hidupnya.
Maulana Mohammad Wafat dalam Keadaan Sujud
Maulana Mohammad menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Shalat dan bermuhasabah diri. Selama 16 tahun sebelum wafatnya, ia tidak pernah sekali pun meninggalkan shalat Tahajud. Ia menghembuskan napas terakhirnya saat sedang melakukan Sujud dalam Shalat Witir pada tahun 1917.
Maulana Ilyas datang ke Delhi untuk merawat kakaknya yang sakit dan tinggal bersamanya di Nawan Wali Masjid, Qassab Para. Di sanalah Maulana Mohammad wafat, dan pemakamannya dilaksanakan di Nizamuddin. Ribuan orang menghadiri pemakamannya.

