Berikut ini ditulis oleh Maulana Manzoor Nomani setelah selesainya buku "Life and Mission of Maulana Ilyas" karya Maulana Syed Abul Hassan Ali Nadwi.
Kata Pengantar
Lebih dari setengah abad yang lalu, ketika saya menjadi santri di Darul Ulum Deoband, saya mendengar tentang Maulana Ilyas. Saya mendengar bahwa beliau mengajarkan Kalimah dan Shalat kepada umat Muslim di Mewat, yang hanya beragama Islam sebatas nama, dan mendirikan Madrasah untuk pendidikan agama dasar bagi anak-anak mereka.
Selanjutnya, saya bertemu dengan beliau beberapa kali saat berkunjung ke Delhi. Pada waktu itu, saya tidak tertarik untuk mengenal lebih jauh Maulana Ilyas dan pekerjaannya. Saya tetap tidak menyadari keistimewaan pikiran dan karakternya, semangat keagamaannya yang berkobar, dan perjuangannya yang tiada bandingnya, meskipun sudah bertemu beberapa kali itu.
Kian bertambahnya kekaguman terhadap Maulana Ilyas
Sekitar tahun 1940, saya mulai memperoleh sedikit gambaran, melalui berbagai sumber, tentang keagungan sang Maulana dan pentingnya gerakan Tabligh yang beliau pimpin. Pada saat yang hampir bersamaan, saya menjalin hubungan dekat dengan Maulana Syed Abul A'la Maududi, yang sangat saya kagumi karena pemahaman dan kebijaksanaannya. Beliau pergi ke Nizamuddin (Delhi) untuk menemui Maulana Ilyas dan memperoleh pengetahuan langsung tentang pekerjaannya. Beliau juga melakukan kunjungan ke Mewat yang merupakan pusat utama kegiatan sang Maulana. Kemudian, beliau menerbitkan sebuah artikel dalam jurnalnya, 'Tarjuman ul-Quran', yang menuliskan kesan-kesannya dari perjalanan tersebut dan mengungkapkan pendapat yang sangat positif tentang usaha Tabligh itu. Saya sangat terpengaruh oleh artikel tersebut. Sahabat saya, Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi, penulis buku yang sedang kita bahas ini (Life and Mission of Maulana Ilyas), sangat terkesan dan diliputi keinginan untuk menemui Maulana Ilyas serta mempelajari lebih jauh misinya. Beliau kemudian sering mengunjungi Maulana Ilyas.
Pada masa itu, saya tinggal di Bareilly. Saya menjalin surat-menyurat secara rutin dengan Maulana Nadwi. Dari surat-suratnya, saya mengetahui bagaimana beliau semakin tertarik kepada Maulana Ilyas dan seruan Tabligh. Beliau juga berusaha meyakinkan saya hingga akhirnya saya pun mulai pergi ke Nizamuddin. Seringkali, kami berdua pergi bersama-sama.
Pengamatan Penting tentang Maulana Ilyas
Setelah mengamati Maulana Ilyas dari dekat, menemaninya dalam perjalanan Tabligh, dan mendengarkan ceramah-ceramahnya, saya sampai pada dua kesimpulan.
- Seruan Maulana Ilyas memiliki dampak yang sangat luas dan dilandasi prinsip-prinsip yang kokoh. Seruan ini tidak lahir dari dorongan sesaat, melainkan buah dari kajian mendalam terhadap Al-Quran, Sunnah, dan kehidupan para Sahabat, serta kesadaran mendalam akan hakikat dan ruh Agama. Maulana Ilyas menyusun langkah-langkahnya setelah pertimbangan yang matang, dan dalam pikirannya terdapat rencana yang pasti dan terpadu, yang mencakup upaya penuh bagi perbaikan agama dan kemajuan seluruh lapisan umat Muslim. Beliau bertujuan menjadikan keyakinan dan keimanan serta cara hidup Islami dan kebangkitan Iman menjadi hal yang umum di tengah Umat.
- Kesimpulan kedua menyangkut pribadi Maulana Ilyas. Semakin saya mengenal Maulana Ilyas, semakin saya terkesan olehnya. Beberapa teman saya yang dianugerahi cahaya dan wawasan spiritual sepakat bahwa keberadaan sang Maulana di zaman sekarang merupakan tanda Kekuasaan dan Kewenangan Allah SWT serta mukjizat dari risalah Nabi SAW yang menjadi bukti keabadian Islam. Hal ini memberi kami sedikit gambaran tentang semangat keagamaan para Sahabat dan secercah kilasan dari dekade-dekade awal masa kejayaan Islam.
Dalam kebersamaan dengan Maulana Ilyas, saya juga menyadari bahwa betapapun rincinya riwayat hidup orang-orang saleh yang dapat ditemukan dalam buku-buku, kisah-kisah itu tidak sepenuhnya menggambarkan karakter pribadi mereka yang khas serta keunggulan moral dan spiritual mereka yang sesungguhnya. Kecenderungan alami penulis atau penyusun riwayat hidup pun turut berperan dalam pemilihan peristiwa yang dituliskan. Selama masa kebersamaan saya dengan para Guru yang hidup, saya merasakan bahwa meskipun tidak ada yang menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap keotentikan dan kecermatan dibanding para penulis biografi Nabi dan para penyusun Hadis beliau, mereka, bagaimanapun, hanya mampu menuliskan apa yang dapat disampaikan oleh kata-kata tertulis. Meski demikian, apa yang telah disimpan oleh para pencatat dan penulis riwayat hidup itu tentu jauh lebih berharga dan informatif dibandingkan kisah-kisah yang hanya sampai kepada kita melalui ingatan dan penuturan lisan semata.
Oleh karena itu, kita dapati bahwa hari ini, sangat sedikit yang diketahui tentang orang-orang yang tidak memiliki catatan semacam itu. Didorong oleh pertimbangan ini, saya mulai mencatat ucapan-ucapan penting dari Maulana Ilyas. Saya juga menerbitkannya dalam Al-Furqan dengan izin beliau semasa hidupnya. Kemudian, kumpulan ucapan-ucapan ini diterbitkan dalam bentuk buku, dan sebagian di antaranya juga dimuat dalam jilid ini.
Niat untuk Menulis Biografi Maulana Ilyas
Saya berpikir untuk menulis biografi Maulana Ilyas tetapi belum bisa mengambil keputusan yang pasti. Maulana Ilyas sangat menentang dikaitkannya seruannya dengan dirinya sendiri. Menjelang akhir hayatnya, beliau bahkan tidak suka namanya disebut dalam kaitan tersebut. Selain karena keikhlasan dan sikap merendah diri, kehati-hatian Maulana Ilyas juga bersumber dari pertimbangan-pertimbangan agama yang penting. Namun, kami harus mengakui ketidakmampuan kami untuk sepenuhnya mematuhi keinginan Maulana Ilyas. Terkadang, demi kepentingan Gerakan, menjadi perlu untuk menggambarkan semangat pengabdian, gairah keagamaan, dan kepedulian terhadap Agama dari sang pendiri, serta menceritakan pengalaman pribadinya ketika menjelaskan aturan dan prinsip-prinsipnya atau menguraikan wujud dampaknya.
Mengingat semua ini, selama masa tinggal saya di Nizamuddin, terlintas berulang kali dalam pikiran saya, selama sakit yang membawa Maulana Ilyas kepada ajalnya, bahwa biografinya, termasuk catatan rinci tentang gerakan Tabligh, harus ditulis. Ketika saya membicarakan hal ini dengan Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi yang juga sedang tinggal di sana pada hari-hari itu, saya mendapati bahwa beliau pun berpikir ke arah yang sama. Beliau bahkan sudah mulai menyusun catatan. Bagaimanapun, sepeninggal Maulana Ilyas, diputuskan untuk melanjutkan tugas tersebut.
Penulisan Biografi Maulana Ilyas oleh Maulana Syed Abul Hasan Ali Nadwi
Hampir semua rekan lama dan kerabat Maulana Ilyas berkumpul di Nizamuddin pada saat wafatnya Maulana Ilyas. Maulana Nadwi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengumpulkan fakta-fakta dari mereka. Korespondensi Maulana Ilyas juga disediakan baginya. Maulana Ilyas rupanya telah menulis surat-surat paling rinci mengenai tujuan dan prinsip-prinsip Gerakan itu kepada Maulana Nadwi sendiri. Beberapa teman lain mengirimkan kepadanya surat-surat Maulana Ilyas yang berada di tangan mereka dan memberikan informasi berharga lainnya ketika mereka mengetahui bahwa beliau sedang menulis buku itu. Bantuan dan kerja sama yang diberikan oleh Sheikhul Hadees Maulana Zakaria terbukti sangat bermanfaat.
Ketika naskah sudah siap, naskah itu disebarkan kepada rekan-rekan terpercaya dan kerabat dekat Maulana Ilyas untuk dimintai masukan. Naskah itu juga dibacakan pada berbagai pertemuan selama perjalanan Tabligh, sehingga tidak ada yang tersisa untuk diinginkan lagi dari segi keakuratan maupun perincian.
Sebelum mengakhiri, saya ingin menegaskan bahwa meskipun penulis telah berhasil dengan sangat baik dalam upayanya, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan penghormatan yang lebih adil terhadap subjek ini. Kesan apa pun yang akan terbentuk pada para pembaca yang tidak pernah bertemu langsung dengan Maulana Ilyas dari halaman-halaman ini akan jauh lebih rendah dari kenyataan dirinya yang sesungguhnya. Kasus saya sendiri adalah, baru pada masa sakit terakhir Maulana Ilyas sajalah saya memperoleh kesempatan untuk mengamatinya dari dekat, dan saya dapat mengatakan tanpa ragu bahwa setiap hari saya merasakan bahwa beliau jauh lebih agung daripada yang saya bayangkan pada hari sebelumnya.
Sekitar empat bulan sebelum wafatnya Maulana Ilyas, seorang hamba Allah yang saleh dari kalangan tertinggi berkata bahwa "sekarang ini beliau (Maulana Ilyas) sedang melakukan perjalanan dengan kecepatan ribuan mil per jam." Saya tidak dapat memahami maknanya saat itu, tetapi seiring saya semakin memahami keadaan batin Maulana Ilyas, saya menyadari perjalanan macam apa yang ada dalam pikirannya.
Kesimpulan
Maulana Ilyas sering berkata tentang Gerakannya bahwa itu adalah permata dari zaman keemasan (Islam). Tentang Maulana Ilyas sendiri, saya dapat mengatakan tanpa berlebihan bahwa beliau adalah mutiara dari perbendaharaan agung zaman itu. Kita banyak membaca tentang para Salaf dalam buku-buku, yang terasa sulit dipercaya bagi pikiran materialistis kita. Namun, dengan menyaksikan hal-hal tersebut dengan mata kepala saya sendiri pada diri Maulana Ilyas, saya memperoleh kepuasan yang tidak mungkin dicapai dengan seribu argumen sekalipun.
Dalam buku ini (Life and Mission of Maulana Ilyas), para pembaca akan menemukan pernyataan-pernyataan tentang Maulana Ilyas dan leluhurnya yang mungkin tampak sulit dipercaya di dunia sekarang yang penuh fanatisme dan kedangkalan. Namun penulis telah sepenuhnya memverifikasi pernyataan-pernyataan tersebut dan hanya menyertakan fakta-fakta yang diketahuinya melalui sumber-sumber yang dapat dipercaya. Sesungguhnya, sebagian besar kejadian yang diceritakan di sini mengenai Maulana Ilyas terjadi langsung di hadapan penulis, baik dalam perjalanan Tabligh maupun selama masa tinggalnya di Nizamuddin.
Buku ini lebih banyak membahas seruan dan misi Maulana Ilyas daripada kehidupannya. Namun sudah sewajarnya tujuan utama penulis adalah memperkenalkan dunia dengan usaha unik Maulana Ilyas untuk kebangkitan dan pemeliharaan Agama.
MAULANA MANZOOR NOMANI, LUCKNOW 15 DESEMBER 1978
