Apakah Ada Hadis Palsu/Mawdu di dalam Fadhail Amal?

Belakangan ini muncul fitnah palsu yang menuduh bahwa buku Fadhail Amal mengandung Hadis palsu/Mawdu. Ini adalah fitnah yang sangat berat dan belum pernah muncul sebelumnya. Alasan mengapa fitnah ini belum pernah muncul sebelumnya adalah karena sama sekali tidak berdasar!

Di sini kami menjawab tuduhan tersebut karena TIDAK ADA HADIS PALSU YANG JELAS di dalam FADHAIL AMAL.

Jika Anda tidak percaya kepada kami, unduh terjemahan bahasa Inggris atau naskah asli bahasa Urdu dari Fadhail Amal dan periksalah sendiri.

Ada total sekitar 800 lebih Hadis di dalam Fadhail Amal.

Maulana Zakariyya adalah salah satu Ulama Hadis terbesar di zaman kita

Beliau menjadi Sheikhul Hadis selama lebih dari 50 tahun

Maulana Zakariyya mengajarkan Hadis selama lebih dari 50 tahun.

Beliau adalah Sheikhul Hadis di Mazahirul Ulum Saharanpur, sebuah kedudukan yang mustahil diraih kecuali oleh seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu Hadis.

Beliau menulis begitu banyak kitab syarah (komentar) Hadis

Di antara karya-karya besar Syekh Zakariyya adalah:

  • Badhl al-Majhud (syarah Abu Dawud)
  • Al-Hall al-Mufhim (syarah Muslim)
  • Al-La'ali al-Dirari (syarah Bukhari)
  • Awjaz al-Masalik (syarah Muwatta lebih dari 20 jilid)
  • Khasa'il al-Nabawi (Syarah atas Syama'il karya Tirmidzi)

Kitab-kitab ini masih digunakan hingga hari ini

Beliau diundang ke Madinah oleh para ulama Saudi dan wafat di sana.

Karena karya-karyanya yang luas dalam bidang Hadis, beliau diundang untuk berpindah ke Madinah oleh para ulama di sana (konon Syekh Bin Baz juga mengundangnya).

Pada tahun 1973, di usia 75 tahun, beliau akhirnya berpindah ke Madinah dan wafat 9 tahun kemudian pada tahun 1982. Beliau dimakamkan di Jannatul Baqi.

#Tuduhan 1 – Hadis tentang Nabi Adam (AS)

Ada lebih dari 800 Hadis di dalam Fadhail Amal. Para penuduh memilih-milih (cherry pick) hadis ini yang terdapat pada halaman 142 Fadhail Amal (bahasa Inggris) – Keutamaan Dzikir (Hadis #28). Hadis tersebut menceritakan tentang Nabi Adam (AS) memohon ampunan setelah melihat nama Nabi Muhammad ﷺ tertulis di 'Arsy'.

Fadhail Amal – Terjemahan Bahasa Inggris dari Hadis yang Dimaksud
Fadhail Amal Halaman 575 – Naskah Asli Bahasa Urdu dari Hadis yang Dimaksud
Fadhail Amal Halaman 576 – Naskah Asli Bahasa Urdu dari Hadis yang Dimaksud

Hadisnya

Dari Umar, ia berkata: Rasulullah (Sallallahu alaihi wasallam) bersabda: "Setelah Hadhrat Adam (AS) melakukan kesalahan yang menyebabkan ia dipindahkan dari Surga ke Bumi ini, ia menghabiskan seluruh waktunya dengan menangis, berdoa, dan bertaubat, dan suatu kali ia menengadah ke langit dan berdoa: 'Ya Allah! Aku memohon ampunan-Mu dengan nama Muhammad (Sallallahu alaihi wasallam).' 'Siapakah Muhammad?' datang pertanyaan melalui wahyu Ilahi. Ia menjawab: 'Ketika Engkau menciptakanku, aku melihat kata-kata لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ مُحَمَّدٌ رُسُولُ اللَّهِ tertulis di 'Arsy-Mu, dan sejak itu aku meyakini bahwa tidak ada manusia yang lebih mulia daripada Muhammad (Sallallahu alaihi wasallam), yang namanya tertulis berdampingan dengan nama-Mu.' Sebagai jawaban, diwahyukan, 'Dialah yang akan menjadi penutup para nabi, dan akan menjadi keturunanmu. Jika ia tidak diciptakan, engkau pun tidak akan diciptakan.'"

Tuduhan Palsu

Tanpa membaca syarah bahasa Arab Maulana Zakariyya secara utuh, para penuduh mengklaim bahwa Maulana Zakariyya menulis kata 'Mawdu' (مَوْضُوعٌ) di sampingnya, sehingga mengklaim bahwa Maulana Zakariyya gemar menggunakan Hadis 'Mawdu' (مَوْضُوعٌ).

Silakan baca Syarah Bahasa Arab Maulana Zakariyya!

Syarah bahasa Arab tersebut dapat dilihat dengan jelas sebagai berikut:

أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الصَّغِيرِ وَالْحَاكِمُ وَأَبُو نُعَيْمٍ وَالْبَيْهَقِيُّ كِلَاهُمَا فِي الدَّلَائِلِ، وَابْنُ عَسَاكِرَ فِي الدُّرِّ، وَفِي مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَالصَّغِيرِ وَفِيهِ مَنْ لَمْ أَعْرِفْهُمْ، قُلْتُ: وَيُؤَيِّدُ الْآخَرَ الْحَدِيثَ الْمَشْهُورَ "وَلَوْلَاكَ لَمَا خَلَقْتُ الْأَفْلَاكَ" قَالَ الْقَارِيُّ فِي الْمَوْضُوعَاتِ الْكَبِيرِ: مَوْضُوعٌ لَكِنْ مَعْنَاهُ صَحِيحٌ، وَفِي التَّشَرُّفِ مَعْنَاهُ ثَابِتٌ، وَيُؤَيِّدُ الْأَوَّلَ مَا وَرَدَ فِي غَيْرِ رِوَايَةٍ مِنْ أَنَّهُ مَكْتُوبٌ عَلَى الْعَرْشِ وَلَوْحِ الْجَنَّةِ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ" كَمَا بَسَطَ طُرُقَهُ السُّيُوطِيُّ فِي مَنَاقِبِ اللَّآلِي فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ، وَبَسَطَ لَهُ شَوَاهِدَ أَيْضًا فِي تَفْسِيرِهِ فِي سُورَةِ أَلَمْ نَشْرَحْ

Terjemahan

Al-Tabarani mencantumkannya dalam Al-Saghir, begitu pula Al-Hakim, Abu Nu'aim, dan Al-Bayhaqi, keduanya dalam Al-Dala'il, serta Ibnu Asakir dalam Al-Durr. Dalam Majma' Al-Zawa'id, hadis ini diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam Al-Awsat dan Al-Saghir, yang di dalamnya terdapat para perawi yang tidak saya kenal. Saya katakan: Ini didukung oleh hadis masyhur "Seandainya bukan karenamu, Aku tidak akan menciptakan langit." Al-Qari berkata dalam Al-Mawdu'at Al-Kabir: Ini adalah hadis palsu (mawdu) namun maknanya sahih, dan dalam At-Tasyarruf maknanya telah ditetapkan. Yang pertama didukung oleh apa yang disebutkan dalam beberapa riwayat lain bahwa hal itu tertulis di Arsy dan di pintu Surga: "Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah," sebagaimana As-Suyuti menjabarkan jalur-jalur periwayatannya dalam Manaqib Al-La'ali di beberapa tempat, dan ia juga memberikan bukti-bukti pendukung dalam tafsirnya pada Surah Alam Nasyrah.

Maulana Zakariyya mengutip hadis ini dari 5 sumber dalam syarahnya.

Dari syarah bahasa Arab tersebut, Maulana Zakariyya dengan jelas menyebutkan bahwa Hadis ini telah dikutip oleh para ulama besar berikut:

  • Imam Tabrani mengutip hadis ini dalam kitabnya yang terkenal Al-Saghir.
  • Imam Hakim mengutip hadis ini dalam kitabnya yang terkenal Mustadrak Al Hakim
  • Imam Abu Nuaim mengutip hadis ini dalam kitabnya Dala'il al-Nubuwwa (Tanda-Tanda dan Bukti-Bukti Kenabian)
  • Imam Bayhaqi, yang melanjutkan karya Imam Abu Nuaim, mengutip hadis ini dalam kitabnya dengan nama yang sama Dala'il al-Nubuwwa (Tanda-Tanda dan Bukti-Bukti Kenabian). Dalam kitab itu, ia tetap menyebutkan hadis tersebut.
  • Hadis ini juga dikutip dalam kitab terkenal Majma Al-Zawaid (karya Imam Haythami), yang menyatakan bahwa ada beberapa orang dalam rangkaian perawi yang tidak ia kenal. Namun, ia lebih lanjut mengomentari bahwa Hadis ini didukung oleh hadis masyhur "Seandainya bukan karenamu (Muhammad SAW), Aku tidak akan menciptakan langit".

Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran ilmiah dengan juga memberikan pandangan kritis terhadap Hadis tersebut

Kata 'Mawdu' yang disebutkan dalam komentar Maulana Zakariyya merujuk pada komentar oleh Mulla Ali Qari dalam bukunya Mawdu'at al Kabeer. Mulla Ali Qari berpendapat bahwa Hadis tersebut Mawdu (palsu). Namun, Mulla Ali Qari sendiri mengatakan bahwa meskipun palsu, maknanya tetap dapat ditegakkan.

Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran akademis dengan memberikan pandangan kritis, yang tampaknya hanya berasal dari satu sumber. Bahkan begitu, komentator tersebut mengatakan bahwa makna Hadis tersebut tetap dapat ditegakkan.

Beliau lebih lanjut mengutip hadis terkenal (dengan makna yang mendekati) "di atas Arsy dan di pintu-pintu Surga (terlihat tertulis): 'Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah'". Imam Suyuti telah mengomentari Hadis ini dalam bukunya dan mengatakan bahwa hadis ini didukung oleh Surah Ash-Sharh (Alam Nashrah).

Kesimpulan

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Tidak jujur untuk memilih-milih satu hadis dan memilih-milih pandangan negatif tentang Sanad-nya. Untuk Hadis khusus ini, ada 5 ulama besar Islam dengan pandangan yang mendukung Hadis ini, termasuk Tabrani dan Al-Hakim.

Maulana Zakariyya adalah seorang Ulama Hadis yang terpelajar. Tidak benar untuk mengklaim bahwa beliau senang menggunakan Hadis palsu dengan memilih-milih pandangan negatif tentang Sanad (rantai periwayatan), padahal ada pendapat lain yang mendukungnya.

#Tuduhan 2 – Hadis tentang 5 Ganjaran Shalat

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Para penuduh telah memilih-milih hadis ini yang terdapat pada halaman 39 Fadhail Amaal – Keutamaan Shalat (Hadis #7). Hadis ini menceritakan tentang 5 ganjaran yang akan diperoleh seseorang jika ia istiqamah dalam shalatnya.

Hadis pada Halaman 39 – Fadhail Amal – Keutamaan Shalat – Terjemahan Bahasa Inggris
Hadis pada Halaman 40 – Fadhail Amal – Keutamaan Shalat – Terjemahan Bahasa Inggris
Hadis pada Halaman 383 – Fadhail Amaal Urdu
Hadis pada Halaman 384 – Fadhail Amaal Urdu

Hadisnya

Dikatakan dalam sebuah hadis bahwa Allah menganugerahkan lima keutamaan kepada seseorang yang senantiasa menjaga shalatnya, yaitu: rezekinya dimudahkan; ia diselamatkan dari siksa kubur; ia akan menerima catatan amalnya di tangan kanan pada Hari Kiamat; ia akan melewati Siraat dengan kecepatan kilat dan ia akan memasuki Surga tanpa hisab. Adapun bagi orang yang melalaikan shalatnya, ia akan menghadapi lima jenis siksaan di dunia ini, tiga pada saat kematian, tiga di dalam kubur dan tiga setelah kebangkitan. Yang di dunia ini adalah: ia tidak diberkahi dalam hidupnya; ia dijauhkan dari cahaya yang menghiasi wajah orang-orang saleh; ia tidak mendapat ganjaran atas amal baiknya; doanya tidak dikabulkan; dan ia tidak mendapat bagian dari doa orang-orang saleh. Yang pada saat kematian adalah: ia mati dalam keadaan hina; ia mati dalam keadaan lapar; ia mati dalam keadaan haus, yang air di lautan dunia pun tidak dapat memuaskannya. Yang di dalam kubur adalah: Ia dihimpit sedemikian rupa sehingga tulang rusuk satu sisi menembus tulang rusuk sisi lainnya; api dinyalakan di dalamnya untuknya dan ia digulingkan di atas bara api siang dan malam; seekor ular dengan mata berapi dan kuku besi yang panjangnya sama dengan perjalanan sehari dilepaskan kepadanya dan berteriak dengan suara menggelegar, 'Tuhanku telah memerintahkan aku untuk mencambukmu hingga terbit matahari karena melalaikan Subuh, hingga Ashar karena melalaikan Zuhur, hingga terbenam matahari karena melalaikan Ashar, hingga Isya karena melalaikan Maghrib dan hingga fajar karena melalaikan Isya.' Ular itu akan terus mencambuknya demikian hingga Hari Kiamat. Setiap cambukan mendorongnya sedalam tujuh puluh hasta. Siksaan ini akan berlangsung hingga Hari Pembalasan. Yang setelah kebangkitan adalah: Perhitungan amalnya akan berat; Allah akan murka kepadanya; dan ia akan dilemparkan ke dalam Api.

Tuduhan Palsu

Tanpa membaca komentar bahasa Arab Maulana Zakariyya secara lengkap, para penuduh mengklaim bahwa Hadis ini 'Baatil' (بَاطِلٌ) (Palsu).

Sanggahan: Silakan Baca Komentar Bahasa Arab Maulana Zakariyya!

Komentar bahasa Arab tersebut dapat dilihat dengan jelas sebagai berikut:

وَمَا ذُكِرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ تَفْصِيلِ الْعَدَدِ لَا يُطَابِقُ جُمْلَةً لِخَمْسِ عَشْرَةَ لِأَنَّ الْمُفَصَّلَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ فَقَطْ، فَلَعَلَّ الرَّاوِي نَسِيَ الْخَامِسَ عَشَرَ، كَذَا فِي الزَّوَاجِرِ لِابْنِ حَجَرٍ الْمَكِّي قُلْتُ: وَهُوَ كَذَلِكَ فَإِنَّ أَبَا اللَّيْثِ السَّمَرْقَنْدِي ذَكَرَ الْحَدِيثَ فِي قُرَّةِ الْعُيُونِ، فَجَعَلَ سِتَّةً فِي الدُّنْيَا فَقَالَ: الْخَامِسَةُ تَمْقُتُهُ الْخَلَائِقُ فِي الدَّارِ الدُّنْيَا وَالسَّادِسُ لَيْسَ لَهُ حَظٌّ فِي دُعَاءِ الصَّالِحِينَ، ثُمَّ ذَكَرَ الْحَدِيثَ بِتَمَامِهِ، وَلَمْ يَعْزُهُ إِلَى أَحَدٍ. وَفِي تَنْبِيهِ الْغَافِلِينَ لِلشَّيْخِ نَصْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ السَّمَرْقَنْدِي يُقَالُ: مَنْ دَاوَمَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَةِ أَعْطَاهُ اللهُ خَمْسَ خِصَالٍ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِهَا فِي الْجَمَاعَةِ عَاقَبَهُ اللهُ بِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ خَصْلَةً، ثَلَاثَةٌ فِي الدُّنْيَا وَثَلَاثَةٌ عِنْدَ الْمَوْتِ وَثَلَاثَةٌ فِي الْقَبْرِ، وَثَلَاثَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَهَا، ثُمَّ قَالَ: وَرُوِيَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوَ هَذَا، وَذَكَرَ السُّيُوطِيُّ فِي ذَيْلِ اللَّآلِئِ بَعْدَ مَا أَخْرَجَ بِمَعْنَاهُ مِنْ تَخْرِيجِ ابْنِ النَّجَّارِ فِي تَارِيخِ بَغْدَادَ يُسْنِدُهُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ فِي الْمِيزَانِ هَذَا حَدِيثٌ بَاطِلٌ رَكَّبَهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَبَّاسٍ عَلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ زِيَادٍ النَّيْسَابُورِي، قُلْتُ: لَكِنْ ذَكَرَ الْحَافِظُ فِي الْمُنَبِّهَاتِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا، الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ وَفِيهَا عَشْرُ خِصَالٍ، الْحَدِيثَ ذَكَرْتُهُ فِي الْهِنْدِيَّةِ وَذَكَرَ الْغَزَالِيُّ فِي دَقَائِقِ الْأَخْبَارِ بِنَحْوِ هَذَا أَتَمَّ مِنْهُ وَقَالَ: مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا أَكْرَمَهُ اللهُ بِخَمْسَ عَشْرَةَ إلخ مُفَصَّلًا

Terjemahan Komentar Bahasa Arab Maulana Zakariyya

“Apa yang disebutkan dalam hadis ini mengenai jumlah rinciannya tidak sesuai dengan total lima belas, karena jumlah rinciannya hanya empat belas, sehingga mungkin perawi lupa menyebutkan yang kelima belas, sebagaimana disebutkan dalam ‘Al-Zawajir’ oleh Ibnu Hajar Al-Makki. Saya katakan: Dan memang demikian, karena Imam Abu Al-Laits Al-Samarqandi mengutip hadis ini dari kitab ‘Qurrat Al-Uyun,’ di mana disebutkan enam hal di dunia ini, dengan mengatakan: Yang kelima adalah bahwa makhluk membencinya dalam kehidupan dunia ini, dan yang keenam adalah bahwa ia tidak memperoleh bagian dari doa orang-orang saleh. Kemudian beliau menyebutkan hadis secara lengkap tanpa menyandarkannya kepada siapa pun. Dan dalam ‘Tanbih Al-Ghafilin’, Imam Abu Al-Laits Al-Samarqandi mengutip: Barangsiapa yang senantiasa melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, Allah memberinya lima keutamaan, dan barangsiapa yang meninggalkannya secara berjamaah, Allah menghukumnya dengan dua belas hal: tiga di dunia, tiga saat kematian, tiga di dalam kubur, dan tiga pada Hari Kebangkitan. Kemudian beliau menyebutkan hal-hal serupa, lalu berkata: Dan diriwayatkan dari Abu Dzar dari Nabi ﷺ sesuatu yang serupa dengan ini. Al-Suyuti menyebutkan dalam ‘Dhail Al-La’ali,’ setelah mengutip apa yang diekstraksi dengan makna serupa dari ekstraksi Ibnu Al-Najjar dalam ‘Sejarah Baghdad’ dengan sanadnya kepada Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya). Beliau berkata dalam ‘Al-Mizan’: Ini adalah hadis palsu yang dibuat-buat oleh Muhammad bin Ali bin Abbas atas nama Abu Bakar bin Ziyad Al-Nisaburi. Saya katakan: Namun, Al-Hafiz menyebutkan dalam ‘Al-Munabbihat’ dari Abu Hurairah sebagai hadis Marfu: Shalat adalah tiang agama dan ia memiliki sepuluh keutamaan. Saya menyebutkan hadis ini dalam ‘Al-Hindiya,’ dan Al-Ghazali mengutip dari kitab dalam ‘Daqa’iq Al-Akhbar’ sesuatu yang serupa namun lebih lengkap dari ini, dan berkata: Barangsiapa yang menjaganya, Allah memuliakannya dengan lima belas keutamaan, dan seterusnya, secara rinci.”

Maulana Zakariyya mengutip hadis ini dari 5 sumber dalam komentarnya.

Maulana Zakariyya dengan jelas menyebutkan bahwa Hadis ini telah dikutip oleh para ulama besar Islam berikut:

  • Ibnu Hajar Al-Makki mengutip hadis ini dalam kitabnya Al-Zawajir.
  • Abu Al-Laits Al-Samarqandi mengutip hadis ini dari kitab Qurrat Al-Uyun. Beliau juga mengutip hadis serupa dalam kitabnya yang terkenal Tanbih Al-Ghafilin. Di tempat lain beliau mengutip riwayat serupa dari Abu Dzar (RA).
  • Hafiz Ibnu Hajar (dikenal juga sebagai Al-Hafiz) mengutip versi serupa dari hadis ini dalam kitab ‘Al-Munabbihat’ dan mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis Marfu‘ (حديث مرفوع), yaitu hadis yang secara khusus disandarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, baik berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan diamnya. Dalam ilmu hadis, hadis Marfu‘ umumnya memiliki bobot yang lebih besar dalam pengambilan hukum Islam dibandingkan kategori lainnya.
  • Imam Al-Ghazali mengutip versi lengkap dari hadis ini dengan merujuknya dari kitab ‘Daqaiq Al Akhbar’.
  • Imam Al-Suyuti mengutip hadis ini dalam Dhayl Al-La’ali di mana beliau menunjukkan Sanad hingga Abu Hurairah RA. Namun, Imam Suyuti berpendapat bahwa Hadis ini adalah Batil (Palsu) (بَاطِلٌ) dan mungkin dibuat-buat oleh Muhammad bin Ali bin Abbas (yang tampak dalam rantai periwayatan) sebagaimana disebutkan dalam Al-Mizan.

Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran akademis dengan memberikan pandangan kritis terhadap Hadis tersebut

Kata ‘Batil’ yang disebutkan dalam komentar Maulana Zakariyya merujuk pada pandangan Imam Al Suyuti (1445-1505) dalam buklet tambahannya, ‘Dhayl al-Lalai al-Masnu’ah fi al-Ahadith al-Mawdu’ah’ yang berarti ‘Tambahan bagi ‘Mutiara Palsu’ Mengenai Hadis-Hadis Palsu’.

Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran akademis dengan menyertakan sumber-sumber kritis tersebut, yang hanya merupakan satu dari 5 sumber yang dikutip.

Meskipun Imam Suyuti adalah ulama besar dalam Islam, Hafiz Ibnu Hajar (1372-1449) memiliki otoritas yang lebih tinggi, namun beliau tetap mengutip Hadis ini dalam kitabnya Al-Munabbihat dan menyatakan bahwa hadis ini adalah Marfu’, sebuah kategori hadis yang merujuk pada riwayat apa pun yang secara khusus disandarkan kepada Nabi Muhammad (SAW) dan memiliki bobot yang lebih besar.

Kesimpulan

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Adalah tidak jujur untuk memilih satu hadis secara selektif dan hanya memilih pandangan negatif mengenai Sanadnya. Untuk hadis khusus ini, terdapat 4 ulama besar Islam dengan pandangan yang mendukung, termasuk Ibnu Hajar yang menyebutkan Hadis ini sebagai Marfu’ (Hadis yang Diangkat).

Maulana Zakariyya adalah seorang Ulama Hadis yang berilmu. Adalah tidak tepat untuk mengklaim bahwa beliau gemar menggunakan Hadis palsu dengan memilih secara selektif pandangan-pandangan negatif mengenai Sanad, padahal ada pendapat-pendapat lain yang mendukungnya.

#Tuduhan 3 – Hadis tentang Berdiri Tanpa Bergerak dalam Shalat (SAW)

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Para penuduh telah memilih secara selektif sebuah hadis yang terdapat pada halaman 434 Fadhail Amaal – Versi Urdu Asli (Hadis #6).

Hadis pada Halaman 434 – Fadhail Amaal Urdu
Hadis pada Halaman 435 – Fadhail Amaal Urdu

Hadis & Komentar

عن أم رومان والدة عائشة قالت: أتى أبو بكر الصديق في صلوتي، فجرني وزجرة كذلك انصرف من صلوتي، قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: إذا قام أحدكم في الصلاة فليسكن أطرافه لا يتميل تميل اليهود، فإن سكون الأطراف في الصلاة من تمام الصلوة.

(أخرجه الحكيم الترمذي من طريق القاسم بن محمد عن أسماء بنت أبي بكر عن أم رومان، كذا في الدر وعزاه السيوطي في الجامع الصغير إلى ابن نعيم في الحلية) وابن عدي في الكامل، ورمز له بالضعف، وذكر أيضاً برواية ابن عساكر عن أبي بكر، من تمام الصلاة سكون الأطراف

Hadhrat Umme Roomaan (istri Abu Bakar) (Radhiyal-laho anha) meriwayatkan, “Suatu ketika saya sedang melaksanakan shalat saya, ketika tanpa sadar saya mulai condong terkadang ke satu sisi dan terkadang ke sisi lain. Hadhrat Abu Bakar (Radhiyallaho anho) melihat saya melakukan hal itu dan menegur saya dengan sangat keras hingga saya hampir meninggalkan shalat saya karena takut. Beliau kemudian memberitahu saya bahwa beliau pernah mendengar Nabi (Sallallaho alaihe wasallam) bersabda, “Apabila seseorang berdiri untuk shalat, hendaklah ia menenangkan tubuhnya dan tidak berperilaku seperti orang Yahudi, karena diam tanpa bergerak adalah salah satu penyempurna shalat.”

(Diriwayatkan oleh Al-Hakim Al-Tirmidhi melalui jalur Al-Qasim bin Muhammad dari Asma binti Abu Bakar dari Umm Ruman, sebagaimana disebutkan dalam Al-Durr, dan Al-Suyuti menyandarkannya dalam Al-Jami Al-Saghir kepada Ibnu Nu’aim dalam Al-Hilyah) dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil, dan beliau menandainya sebagai lemah, dan juga disebutkan dalam riwayat Ibnu Asakir dari Abu Bakar, [dengan lafal] ‘diamnya anggota tubuh adalah bagian dari kesempurnaan shalat

Tuduhan yang Shalat

Tanpa membaca komentar lengkap berbahasa Arab dari Maulana Zakariyya, para penuduh mengklaim bahwa Hadis ini adalah PALSU.

Maulana Zakariyya mengutip hadis ini dari 3 sumber dalam komentarnya.

Maulana Zakariyya dengan jelas menyebutkan bahwa Hadis ini telah dikutip oleh para ulama besar Islam berikut:

Maulana Zakariyya mengutip Hadis ini dari 2 sumber pendukung dan menunjukkan kejujuran akademis dengan juga mengutip pandangan kritis yang menilai Hadis ini sebagai lemah (ضعيف).

Karena Maulana Zakariyya tidak mengutip pandangan Mawdu terhadap Hadis ini, dari mana asal Fitnah ini?

Tidak ada penyebutan bahwa Hadis ini dianggap Mawdhu/Palsu oleh Maulana Zakariyya. Pelemahan Hadis ini mungkin dilakukan oleh para ulama kontemporer.

Setelah penelusuran lebih lanjut, kami menemukan bahwa pelemahan Hadis ini bukan pada hadis yang persis sama, melainkan pada versi yang lebih pendek darinya:

عن أسماء بنت أبي بكر ، عن أم روثة قالت رأسي أبو بكر رضي الله عنه لا مولاي وخرجني وحجرة كنت انصرف ، ثم قال : سمعت رسول الله ﷺ يقول إنه لا ينبغي لأحدكم أطرافه ولا يعجل كما يعجل اليهود ، إذا أراد أن يقوم من قبل أن يكون الأطراف في الصلاة .

فضعيف جداً

"Dari Asma binti Abi Bakr, dari Umm Rutha yang berkata: Abu Bakr (semoga Allah meridhainya) [melihat] aku. Bukan tuanku, dan dia membawaku keluar sementara aku sedang pergi, lalu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah salah seorang di antara kalian tergesa-gesa dalam gerakannya dan janganlah tergesa-gesa sebagaimana orang Yahudi tergesa-gesa, ketika mereka hendak berdiri sebelum menyempurnakan gerakan yang semestinya dalam shalat.'"

[Diklasifikasikan sebagai: Sangat Lemah (Da'if Jiddan)]

Ini ditemukan dalam sebuah video Youtube berjudul: Membongkar Kebohongan Buku-Buku Tablighi | Fazail-Ul-Amaal | Syekh Uthman Ibn Farooq

Komentar terhadap Hadis ini dari sebuah buku yang tidak diketahui, dibagikan dalam sebuah Video Youtube. Perhatikan bahwa kategorisasi hadis ini adalah Sangat Lemah (BUKAN Palsu)

Tanpa membahas lebih jauh pandangan kontemporer ini, penulis komentar buku itu sendiri menyebutkan Hadis ini sebagai sangat lemah! (فضعيف جداً) (Bukan Palsu). Selain itu, ini pun bukan Hadis yang persis sama!

Kesimpulan

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Merupakan tindakan yang tidak jujur untuk memilih satu hadis secara selektif dan hanya mengambil pandangan negatif terhadap hadis tersebut tanpa menyebutkan pandangan-pandangan pendukungnya. Untuk hadis khusus ini, terdapat 3 pandangan pendukung. Pandangan kritis berasal dari buku lain yang namanya tidak disebutkan oleh penuduh. Bahkan begitu, buku yang tidak diketahui itu pun tidak menyimpulkannya sebagai Palsu, melainkan menandainya sebagai 'Sangat Lemah'.

Maulana Zakariyya adalah seorang Ulama Hadis yang terpelajar. Tidaklah benar untuk menuduh bahwa beliau gemar menggunakan Hadis palsu berdasarkan pemilihan selektif terhadap pandangan kritis mengenai Sanad (Rantai periwayatan), padahal terdapat pandangan-pandangan lain yang mendukungnya.

#Tuduhan 4 – Hadis tentang Menziarahi Makam Nabi Muhammad (SAW)

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Para penuduh telah memilih secara selektif sebuah hadis yang terdapat pada halaman 157 Fadhail Amaal – Versi Urdu Asli (Hadis #5).

Halaman 157 – Fadhail Amal Urdu Asli

Hadis & Komentar

عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من حج البيت ولم يزرنى فقد جفانى رواه ابن عدى في الكامل وغيره كذا في شفاء السقام وفى شرح البارى رواه ابن عدى بسند حسن وبسط في تخريجه صاحب الاتحاف وقال شرح السيوطى ان ابن الجوزى اورده في الموضوعات وقال لم يصح اه وقال القارى في شرح الشفاء رواه ابن عدى بسند يحتج به

Terjemahan:

Dari Ibnu Umar yang berkata: Rasulullah (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya) bersabda: 'Barangsiapa menunaikan Haji dan tidak menziarahiku, maka sungguh dia telah bersikap kasar kepadaku.'

Komentar: Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam kitabnya Al-Kamil. Riwayat ini kemudian dikutip/disebutkan dalam Syifa al-Siqam (oleh Al-Subki) dan dalam Fath al-Bari, di mana disebutkan bahwa Ibnu Adi meriwayatkannya dengan sanad yang baik. Penulis Al-It'haaf menguraikan lebih lanjut tentang keabsahannya, dan Syarh Al-Suyuti menyebutkan bahwa Ibnu Al-Jawzi memasukkannya ke dalam kumpulan hadis palsunya dan menyatakannya tidak sahih. Dan Al-Qari dalam Syarh Al-Shifa menyebutkan bahwa Ibnu Adiy meriwayatkannya dengan sanad yang dapat dijadikan hujjah.

Klaim yang Shalat

Tanpa membaca komentar bahasa Arab lengkap dari Maulana Zakariyya, para penuduh mengklaim bahwa Hadis ini PALSU karena terdapat kata Mawdhu'at (الموضوعات) di dalamnya.

Bantahan: Maulana Zakariyya mengutip hadis ini dari 5 sumber dalam komentarnya.

Maulana Zakariyya dengan jelas menyebutkan bahwa Hadis ini telah dikutip oleh:

Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran akademis dengan menyajikan pandangan kritis terhadap Hadis ini

Kata 'Mawduat' (الموضوعات) yang disebutkan dalam komentar Maulana Zakariyya merujuk pada pandangan Imam Al Jawzi (1445-1505) dalam bukunya 'Kitab al-Mawduat' (Kitab Hadis-Hadis Palsu). Maulana Zakariyya menunjukkan kejujuran akademis dengan menyajikan sumber kritis tersebut, yang hanya merupakan satu dari 5 sumber yang dikutip. Sumber-sumber lainnya menyebutkan bahwa Sanad (Rantai periwayatan) tersebut baik.

Kesimpulan

Terdapat lebih dari 800 Hadis dalam Fadhail Amaal. Merupakan tindakan yang tidak jujur untuk memilih satu hadis secara selektif dan hanya mengambil pandangan negatif terhadap Sanad-nya. Untuk hadis khusus ini, terdapat 4 pandangan pendukung yang menyatakan bahwa Hadis tersebut memiliki Sanad yang baik dan bahkan dikutip oleh Hafiz Ibnu Hajar.

Maulana Zakariyya adalah seorang Ulama Hadis yang terpelajar. Tidaklah benar untuk menuduh bahwa beliau gemar menggunakan Hadis palsu berdasarkan pemilihan selektif terhadap pandangan kritis mengenai Sanad (rantai periwayatan), padahal terdapat pandangan-pandangan lain yang mendukungnya.