Oleh Mufti Shakeel Mansoor Al-Qasimi
Tanggal: 16 Februari 2019
Ucapan "Barangsiapa tidak memiliki pemimpin, maka setan adalah pemimpinnya" tidak ditemukan dalam hadis mana pun, bahkan tidak pula sebagai riwayat terputus.
Ini adalah pernyataan buatan manusia dan kata-kata rekaan mereka sendiri.
Ya! Dalam Islam, kebersamaan memiliki kepentingan yang besar. Itulah sebabnya bahkan dalam situasi sementara seperti bepergian, kebersamaan begitu dianjurkan sehingga seorang musafir yang sendirian disebut sebagai setan.
Itulah sebabnya mengikuti seorang pemimpin administratif dan pemerintahan (pemimpin, penguasa) memiliki kepentingan besar dalam hadis.
Jika para musafir tidak mengikuti pemimpin perjalanan mereka dan rakyat tidak mengikuti pemimpin negara mereka, urusan bersama akan jatuh ke dalam kekacauan dan kemudian setan akan turun tangan serta mulai menyebabkan keburukan dan kerusakan.
Sebuah hadis dengan makna ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr:
"Satu penunggang adalah setan, dua penunggang adalah dua setan, dan tiga adalah rombongan yang bepergian."
(Sunan Abu Dawud - Nomor: 2607)
Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi (1674), Nasa'i dalam Al-Sunan Al-Kubra (8798), dan Ahmad (6748)
Selama bepergian, dalam urusan bersama dan terutama dalam urusan negara, memiliki satu orang sebagai administrator dan pemegang otoritas memungkinkan seluruh pekerjaan bersama terlaksana dengan baik tanpa kekacauan.
Dari sudut pandang administratif, bahkan rombongan dakwah yang sedang khuruj pun sebaiknya memilih seorang amir yang berpengalaman, sabar, mengikuti sunnah, dan berilmu agama, sesuai dengan prinsip yang disebutkan di atas.
Namun, tidak ada teks hadis khusus mengenai administrator ini.
Mengklaim bahwa ucapan Arab yang disebutkan tersebut adalah hadis nabi dengan kata-kata persis demikian berarti menisbahkan pernyataan palsu kepada Nabi (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya), yang merupakan perbuatan terlarang dan pantas mendapatkan neraka.
Demikian pula, tidak benar untuk memperluas keharusan adanya seorang pemimpin dalam perjalanan dan urusan pemerintahan Islam lalu menerapkannya pada situasi-situasi umum.
Dan Allah lebih mengetahui.
Apakah ucapan ini berasal dari Hazrat Maulana Abdul Qadir Jilani (semoga Allah merahmatinya) bahwa "barangsiapa tidak memiliki pembimbing spiritual, maka pembimbingnya adalah setan"?
Ucapan ini dikutip oleh Abu Hamid Ghazali dalam Ihya.
Ini bukan ucapan Syekh Abdul Qadir.
Ucapan ini juga dikutip dalam Awarif al-Ma'arif dari berbagai kalangan sufi.
"Seorang pencari kebenaran pasti membutuhkan seorang syekh dan guru untuk diikuti yang akan membimbingnya ke jalan yang benar, karena jalan agama itu samar sedangkan jalan-jalan setan banyak dan tampak jelas. Barangsiapa tidak memiliki syekh yang membimbingnya, niscaya ia akan dituntun oleh setan menuju jalan-jalannya. Barangsiapa menempuh jalan padang belantara yang mematikan tanpa pembimbing, sungguh ia telah membahayakan dirinya sendiri dan membinasakan dirinya sendiri. Orang yang hanya mengandalkan dirinya sendiri ibarat pohon yang tumbuh dengan sendirinya, ia akan segera mengering, dan bahkan jika ia bertahan hidup dan berdaun untuk sementara waktu, ia tidak akan berbuah. Maka perlindungan bagi pencari kebenaran adalah syekhnya, hendaklah ia berpegang teguh kepadanya."
["Al-Ihya" Jilid 3/hal.65]
Abu Hamid Al-Ghazali
Inti dari ucapan ini hanyalah bahwa karena manusia senantiasa berada di bawah bisikan setan, seseorang hendaknya menjalin hubungan spiritual dengan seorang syekh yang mengikuti sunnah untuk perbaikan diri.
Di bawah pengawasan dan bimbingan seorang syekh yang sempurna, seseorang akan diperbaiki. Jika tidak ada hubungan pembinaan yang terjalin dengan seorang syekh, maka setan akan mendapatkan keleluasaan untuk menyesatkan dan membelokkan mereka, karena setan mengalir dalam pembuluh darah manusia.
Ucapan ini tidak merujuk pada sekadar baiat formal atau bimbingan spiritual tanpa keterikatan hati.
Ucapan sufi ini juga tidak berarti bahwa penjagaan iman bergantung pada baiat kepada seorang syekh.
Karena keyakinan ini bertentangan dengan teks-teks agama.
Ya, untuk perbaikan diri, menjauhi dosa, dan mengikuti agama, seseorang hendaknya menjalin hubungan dengan orang saleh yang mengikuti sunnah.
(Mufti) Shakeel Mansoor Al-Qasimi

