Maulana Shamim adalah pendukung utama Maulana Saad. Ia dilaporkan sering bepergian ke berbagai tempat, mendesak orang-orang untuk menerima Maulana Saad sebagai pemimpin mereka. Karena tidak pantas bagi Maulana Saad untuk berbicara secara langsung tentang dirinya sendiri atau meminta orang lain untuk mematuhinya, ia menggunakan orang lain seperti Maulana Shamim untuk melakukannya.
Biografi Maulana Shamim
Nama – Maulana Shamim Ahmad Azmi
Nama Asli – Shamim Ahmad
Tanggal Lahir – 20 Juni 1951
Tempat Lahir – Azamgarh, Uttar Pradesh (UP)
Usia – 72 Tahun (per Maret 2024)
Jenis Kelamin – Laki-laki
Kewarganegaraan – India
Agama – Islam, Sunni
Profesi – Ulama Muslim India, pendukung utama Maulana Saad.

Analisis Pernyataan Keliru Maulana Shamim
Pada bagian berikutnya, diberikan transkrip lengkap ceramah Maulana Shamim di Malaysia pada Desember 2016. Ceramah ini tampak dirancang dengan sengaja dalam upaya memaksa orang-orang untuk menerima Maulana Saad sebagai Amir. Banyak informasi di dalamnya ternyata keliru dan disalahartikan.
Analisis kami mengenai fakta-fakta yang diputarbalikkan adalah sebagai berikut:
-
Maulana Shamim mengklaim bahwa Syura Nizamuddin berada di atas Syura Dunia.
Klaim ini keliru karena keberadaan Syura Dunia itu sendiri berarti bahwa Syura Dunia berada di atas Syura Nizamuddin yang bersifat lokal. Jika Syura Nizamuddin memiliki otoritas lebih tinggi, lalu untuk apa Syura Dunia dibutuhkan?Ribuan orang juga telah menyaksikan beberapa anggota Syura Dunia memiliki otoritas lebih tinggi daripada Syura Nizamuddin ketika mereka menggelar Musyawarah mereka secara terbuka. Banyak yang mengamati siapa sebenarnya pengambil keputusan dalam Musyawarah-musyawarah Dunia tersebut. Hampir tidak pernah itu adalah Syura Nizamuddin. Bahkan, sebagian besar waktu yang menjadi pengambil keputusan adalah Mufti Zainal Abidin, Maulana Saeed Ahmad Khan, atau Haji Abdul Wahab. Mereka semua adalah anggota Syura Dunia, bukan Syura Nizamuddin.
-
Maulana Shamim mengklaim bahwa karena Maulana Saad adalah anggota Syura Nizamuddin yang tersisa terakhir, ia secara otomatis menjadi Amir yang baru
Agar hal ini benar, fakta sebelumnya (yang pertama) harus benar terlebih dahulu. Selain itu, Maulana Shamim gagal menyebutkan tentang kesepakatan 1995 yang di dalamnya Maulana Saad sendiri setuju bahwa tidak akan ada lagi Amir, melainkan sebuah Syura. Dengan demikian, Maulana Saad telah melanggar sumpahnya sendiri, menyatakan dirinya sebagai Amir tanpa disahkan atau ditetapkan oleh Syura. -
Maulana Shamim mengklaim bahwa Syura Dunia yang baru (yang diperluas) tidak sah karena Maulana Saad tidak menyetujuinya
Ini adalah klaim yang tidak masuk akal. Cara kerja Musyawarah (pertemuan) adalah bahwa ada seorang Faisal (pengambil keputusan) yang mendengarkan pendapat para anggota dan memutuskan setelah mempertimbangkannya. Perluasan Syura Dunia (Syura Alami) diputuskan oleh Haji Abdul Wahab Sahab yang saat itu menjadi Faisal (pengambil keputusan). -
Maulana Shamim mengklaim bahwa Haji Abdul Wahab tidak menyetujui Muntakhab Ahadith karena tulisannya tidak dimasukkan ke dalamnya
Ini jelas merupakan fitnah dan tidak ada buktinya. Dengan menyebarkan klaim yang tidak berdasar kepada khalayak yang luas, ceramah ini menimbulkan keraguan mengenai kredibilitas Maulana Shamim. Bahkan jika klaim yang tidak masuk akal itu benar, apa yang memberi Maulana Saad hak untuk melawan Musyawarah dan terus menyebarkan buku tersebut? Haji Abdul Wahab secara jelas tidak menyetujui Muntakhab Ahadith dalam Musyawarah dunia.
Bayan Maulana Shamim di Markaz Sri Petaling, Malaysia
Berikut ini adalah transkrip Bayan Maulana Shamim di Markaz Sri Petaling, Malaysia – 7 DESEMBER 2016. Ini merupakan pembelaan yang paling banyak disebarluaskan untuk Maulana Saad.
Bayan Maulana Shamim di Markaz Sri Petaling, Malaysia – 7 DESEMBER 2016
[Awal Ceramah]
Semata-mata karena rahmat dan karunia ALLAH SWT, ALLAH SWT telah menganugerahkan kepada kita sebuah usaha yang besar, sebuah upaya yang mulia, usaha dakwah abad pertama. Bukan kita yang menempatkan diri kita sendiri dalam usaha ini, melainkan ALLAH SWT yang telah memilih kita dan menempatkan kita di dalamnya. Siapa pun yang dikehendaki ALLAH SWT, Dia akan memilihnya, meneguhkannya, dan melalui mereka, agama tersebar, dan orang-orang mendapat petunjuk. Ketika ALLAH SWT menghendaki, sebagaimana Dia menghendaki untuk menyingkirkan seseorang, Dia akan melakukannya kapan saja, dan hal ini tidak akan merugikan ALLAH SWT ataupun mengurangi perbendaharaan-Nya sedikit pun.
Jangan pernah sekali-kali terlintas dalam hati kita bahwa usaha ini berjalan karena perjuangan SAYA, karena ilmu SAYA, karena pengorbanan SAYA, sebab ketika pikiran ini masuk ke dalam hati kita, kita akan jatuh dari pandangan ALLAH SWT. ALLAH SWT tidak menghendaki usaha ini dikaitkan dengan individu mana pun, dengan pengorbanan seseorang, dengan harta seseorang, dengan ceramah-ceramah seseorang, dengan ilmu seseorang. Sebaliknya, ALLAH SWT-lah yang menggerakkan usaha ini dan akan selalu melakukannya. Usaha ini semata-mata dikaitkan dengan ALLAH SWT. Oleh karena itu, pada setiap saat, kita harus merasa butuh terhadap usaha ini. ALLAH SWT Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, yang menggerakkan usaha ini.
Kita harus meyakini bahwa ALLAH SWT-lah yang menjaga usaha ini, yang menggerakkan usaha ini. Mereka yang tidak merasa bahwa merekalah yang menggerakkan usaha ini, yang tidak merasa demikian karena pengorbanan mereka, maka ALLAH SWT akan menanamkan kecintaan kepada mereka di dalam hati orang-orang dan akan memuliakan mereka di hati orang-orang. Jika seseorang merasa bahwa usaha ini bergerak karena pengorbanannya, karena ceramahnya, atau karena ilmunya, maka ALLAH SWT akan melakukan salah satu dari dua hal: entah Dia akan menghilangkan pengaruh dari ceramah/pengorbanan orang tersebut, atau menyingkirkan orang tersebut dari usaha ini. Hingga semua orang meyakini bahwa ALLAH SWT-lah yang menggerakkan usaha ini. ALLAH SWT tidak suka melihat pekerjaan ini dikaitkan dengan siapa pun. ALLAH SWT hanya menghendaki usaha ini dikaitkan dengan Diri-Nya.
Dalam usaha ini, ALLAH SWT menyukai pengorbanan. Apa itu pengorbanan? Seseorang yang berkorban demi pengorbanan itu sendiri tetapi tidak merasakan apa pun untuk dirinya sendiri, maka ALLAH SWT akan mengambil kembali darinya pelayanan terhadap agama. Di sisi lain, ketika seseorang berkorban demi pengorbanan dan terlintas dalam hatinya bahwa usaha ini bergerak dengan pengorbanannya, lalu ia menyebut-nyebut pengorbanannya dan mulai merasa bahwa ia telah berjasa kepada orang lain, maka pada saat itu, ia akan menjadi hina di sisi ALLAH SWT, dan ALLAH SWT akan merendahkannya.
Pada Perang Badar, ada seseorang yang melakukan begitu banyak pengorbanan, memerangi musuh, memecah barisan musuh, dan membunuh banyak musuh. Banyak yang memujinya dan menganggap ia telah berjasa besar/berbakti kepada agama, mereka menceritakan keberaniannya, tetapi (sebaliknya) Nabi SAW mengatakan bahwa ia termasuk penghuni Neraka. Mengapa demikian? Orang-orang tidak mengetahui apa yang ada di dalam hatinya, bagaimana semangatnya dalam berperang, gairah apa yang ia bawa. Hanya ALLAH SWT yang mengetahui. ALLAH SWT mewahyukan kepada Nabi SAW apa yang ada di dalam hatinya. Dalam hatinya terdapat dua hal, ia ingin dikenal karena keberaniannya dan di dalam hatinya, tidak ada kesabaran dalam menanggung kesulitan. Ia terluka parah dan membunuh dirinya sendiri. Jangan pernah sekali-kali kita menyebut-nyebut pengorbanan dan jasa yang telah kita lakukan untuk orang lain. Ini adalah serangan terakhir Setan.
Oleh karena itu, seberapa besar pun pengorbanan kita, kita tidak boleh pernah merasa penting diri, atau sombong. Sebaliknya, kita harus selalu memiliki sifat rendah hati. Penyebaran agama, kemajuan agama, adalah melalui sarana pengorbanan Nabi SAW. Apa yang diperoleh para sahabat dari kebaikan agama adalah karena pengorbanan Nabi SAW. Bahkan pada peristiwa penaklukan Mekah, Nabi SAW datang dengan 10.000 pasukan, Nabi SAW memasuki kota dengan kerendahan hati hingga dada Nabi SAW menyentuh punuk unta. Memasuki kota dengan kerendahan hati. Kerendahan hati Nabi SAW pada saat itu belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada hingga hari kiamat.
Di akhirat kelak, semua Nabi AS akan dimintai pertanggungjawaban, tetapi Nabi SAW tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi SAW masuk dengan kerendahan hati yang penuh. Kata-kata yang dibaca Nabi SAW saat penaklukan Mekah adalah pelajaran bagi umat hingga hari kiamat, betapapun besar pengorbanan yang Anda lakukan sampai Allah memberikan cahaya di hati setiap orang, tetap saja kita semua harus mengembalikannya kepada ALLAH SWT. Tidak ada tuhan selain ALLAH SWT, ALLAH itu Esa, DIA adalah Sang Penolong, DIA adalah Yang Mengalahkan semua musuh dengan kekuasaan-Nya. Nabi SAW menyangkal apa yang telah Beliau lakukan, tetapi menisbahkannya semata-mata kepada ALLAH SWT.
Nabi SAW telah mengajarkan sesuatu yang agung. Bagi orang-orang yang menyangkal semua pengorbanan yang telah mereka lakukan, maka kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati mereka. Kita tidak mampu melakukan apa pun. ALLAH SWT-lah yang melakukan segalanya. Hasilnya datang dari ALLAH SWT. Orang-orang seperti ini akan mendapatkan penerimaan dari ALLAH SWT. ALLAH SWT akan menerima pengorbanannya. Mereka yang mengatakan bahwa merekalah yang melakukan (ini dan itu), maka akan menjadi hina di mata manusia.
Di zaman ini, ALLAH SWT telah memilih seseorang yang, secara lahiriah, sangat lemah, sangat kurus, dan memiliki banyak penyakit. Keturunan dari garis nasab yang mulia, keluarga yang terhormat, keluarga para ulama besar, tetapi sejak kecil kehidupannya sangat sederhana, dan rendah hati, senang melayani, berakhlak dan bersifat mulia.
Sejak usia muda, masyarakat dan para ulama mengatakan bahwa Beliau adalah seorang wali ALLAH. Hingga ibunya berkata, dari tubuh Ilyas, saya bisa mencium wangi para Sahabat RA. Beliau belajar dari ulama-ulama besar di India. Semua ulama menyayanginya. Setelah menuntut ilmu, Beliau mengajar di Saharanpur.
Ayahnya, Maulana Ismail RAH, adalah seorang wali ALLAH yang sangat agung. Sangat terkenal di India, dan apa pun yang beliau doakan akan dikabulkan. Banyak orang datang mengantre untuk meminta doa darinya. Karena beliau khawatir terlalu banyak orang yang datang, beliau melarikan diri dan pergi ke hutan di Nizamuddin. Kemudian beliau pergi ke Masjid Banglawali. Di sana, beliau melihat orang-orang dari Mewat, orang-orang miskin yang datang ke Delhi untuk mencari upah. Mendapatkan upah 2 Paisa (2 sen). Beliau mengajak mereka ke masjid, mengajarkan Kalimah kepada mereka, dan memberi mereka 2 Paisa. Setiap hari beliau mengajar, menyediakan makanan, dan memberi upah. Perlahan-lahan terbentuklah sebuah madrasah. Murid-muridnya adalah orang-orang dari Mewat. Upaya ini dimulai dengan pengorbanan.
Setelah Maulana Ismail RAH wafat, orang-orang dari Mewat pergi ke Saharanpur untuk mencari penggantinya. Mereka menemukan saudara Maulana Ilyas RAH, yaitu Maulana Muhammad RAH. Maulana Zakaria RAH adalah putra dari Maulana Muhammad RAH. Maulana Muhammad RAH setuju untuk pergi ke Nizamuddin guna mengajar penduduk Mewat. Setelah Maulana Muhammad RAH wafat, Maulana Ilyas RAH kemudian datang ke Nizamuddin untuk mengajar. Cara mengajarnya sungguh luar biasa.
Pikiran dan keprihatinan Maulana Ilyas RAH adalah bagaimana memperbaiki (memperbaharui) umat ini. Bagaimana 100% umat dapat mengamalkan agama. Bagaimana umat dapat datang ke masjid? Bagaimana di dalam hati umat ada kecintaan terhadap agama. Bagaimana di dalam hati umat ini ada keprihatinan seperti keprihatinan Nabi SAW. Inilah pikiran dan keprihatinan yang selalu ada dalam benak Maulana Ilyas RAH. Beliau selalu berdoa kepada ALLAH SWT. Ketika orang lain tidur, beliau pergi ke tengah hutan di Nizamuddin dan menangis sepanjang malam kepada ALLAH SWT.
Kemudian ALLAH SWT membukakan pintu upaya dakwah kepadanya. ALLAH SWT mengajarkan kepadanya cara melakukan dakwah. ALLAH SWT membukakan hikmah untuk melakukan dakwah. Begitu banyak cara berdakwah yang diberikan kepadanya oleh ALLAH SWT sehingga beliau tidak mampu menyampaikan kepada kita bahkan sepertiganya, karena Maulana Ilyas gagap. Satu kata pun sangat sulit keluar dari mulutnya. Sangat sulit untuk mengajar. Namun beliau sangat bersungguh-sungguh. Rela berkorban. Selalu sibuk dengan murid-muridnya. Beliau mempersiapkan murid-murid untuk melakukan upaya dakwah, tentang bagaimana menyatukan umat ini.
Beliau memulai upaya gasht (mengunjungi dari pintu ke pintu). Dengan gasht, orang-orang baru mulai datang ke masjid. Semakin banyak orang datang untuk shalat di masjid. Beliau sangat bahagia. Beliau bersyukur kepada ALLAH SWT. Beliau berdoa dengan sungguh-sungguh kepada ALLAH SWT agar upaya ini terus maju. Beliau membawa murid-muridnya ke Mewat untuk memulai upaya dakwah di sana. Orang-orang mulai tertarik dengan upaya ini.
Setelah itu, Maulana Ilyas RAH pergi menemui para ulama besar di India. Beliau mempresentasikan kepada mereka upaya yang telah beliau lakukan. Pada saat itu, ulama besar yang ada adalah Mufti Kifayatullah RAH. Ulama lainnya adalah Maulana Hussin RAH, Maulana Ahmad Madani RAH, Maulana Abdul Rashid Gangohi RAH, Maulana Shah Raipuri RAH, dan masih banyak ulama sejati lainnya yang hadir.
Beliau menjelaskan pekerjaan ini kepada mereka. Jika ini sesuai dengan Sunnah, mohon bantu dan doakan. Jika tidak, maka di sinilah saya akan berhenti. Mereka semua berkata upaya ini sangat baik. Ini sesuai dengan Sunnah Nabi SAW. Tetapi bagaimana caranya orang-orang akan melakukannya? Maulana Ilyas RAH berkata, melakukan itu adalah tugas saya, dan yang akan menggerakkan orang untuk beramal adalah ALLAH SWT. Tugas kita adalah, bagaimana kita diberi tahu, itulah yang kita lakukan. Jangan mengikuti pikiran kita sendiri. Jangan terpengaruh oleh suasana tempat kita. Jangan melihat manfaat menurut pikiran kita. Kita melakukan apa yang diperintahkan oleh para Elders kita. Sebagaimana mereka katakan, begitulah kita lakukan. Sebanyak apa pun yang mereka suruh kita lakukan, sebanyak itulah yang kita lakukan. Untuk menggerakkan, memajukan, dan meneguhkan, itu adalah pekerjaan ALLAH SWT.
Alhamdulillah, upaya ini mulai menyebar. Maulana Ilyas RAH pergi dan menunaikan Haji di Makkah al Mukarramah. Beliau mengumpulkan semua ulama besar di Makkah. Beliau bertanya, mengapa umat saat ini semakin tidak terhormat dan semakin kurang beragama. Apa alasannya?
Sebagian ulama berkata, itu karena kurangnya ilmu, karena kurangnya harta, dan sebagainya. Namun Maulana Ilyas membantah semua alasan ini dengan menceritakan keadaan para sahabat. Semua ulama pun terdiam. Maulana Ilyas berkata, hanya ada satu alasan, yaitu keyakinan yang ada di dalam hati para sahabat sudah tidak ada lagi di dalam hati umat saat ini. Bukan karena amalan yang kurang, bukan karena ilmu yang kurang, bukan karena harta yang kurang, bukan pula karena jumlah yang kurang. Yang kurang justru adalah keyakinan yang dipelajari oleh para sahabat RA dari Nabi SAW, dan mereka berjuang bersama-sama dengan Nabi SAW. Semua ulama dari seluruh dunia pada saat itu sepakat dengan Maulana Ilyas. Beliau mempresentasikan upaya dakwah yang telah beliau lakukan. Mereka berkata upaya ini adalah upaya yang benar dan tentu saja, kami akan membantu.
Hilangkanlah dari diri kita anggapan bahwa upaya ini berasal dari Nizamuddin. Upaya ini sesuai dengan Sunnah Nabi SAW. Maulana Ilyas memulai upaya ini di Nizamuddin, itulah sebabnya kita menisbahkan upaya ini kepada Nizamuddin. Upaya ini bukan milik Nizamuddin, bukan milik Raiwind, bukan milik Kakrail, bukan milik Malaysia, tetapi upaya ini adalah upaya Baginda SAW. Setiap bagian/tindakan dalam upaya dakwah ini sesuai dengan Sunnah Nabi SAW.
Oleh karena itu, sampai mati, kita harus melakukan upaya ini. Ini bukan pekerjaan yang hanya untuk 4 bulan, bukan hanya untuk 40 hari, tetapi 4 bulan, 40 hari, 10 hari, dan 3 hari hanyalah untuk mempelajari (upaya ini). Namun kita harus melakukannya sepanjang hidup kita. Dalam upaya ini, kita tidak menginginkan kedudukan, kita tidak menginginkan kemuliaan, kita tidak menginginkan harta, kita tidak menginginkan mayoritas, kita tidak menginginkan kekuasaan pemerintahan, kita tidak menginginkan kekuasaan, kita tidak menginginkan apa pun dari dunia ini. Kita hanya menginginkan ALLAH SWT semata.
Ingatlah, Allah tidak memberikan kemuliaan kepada mereka yang berjuang, Allah tidak memberikan harta, Allah tidak memberikan kedudukan, tetapi Allah akan memberikan hakikat diri-Nya kepada mereka yang berjuang. Mereka yang menempatkan Allah, Rasul-Nya, dan akhirat di hadapan mereka, adalah orang-orang yang benar-benar akan berjuang. Mereka yang tidak ikhlas, maka mereka berada dalam bahaya. Karena kedudukan dalam upaya ini datang melalui pengorbanan dan perjuangan. Allah telah menempatkan para Nabi dan Rasul dari awal hingga akhir dalam perjuangan. Orang yang paling banyak berjuang, paling banyak berkorban, dan paling banyak menahan kesulitan adalah Nabi Muhammad s.a.w.
Kesulitan besar menimpa Beliau SAW selama 3 hari berturut-turut tanpa mendapatkan makanan. Perutnya menempel ke tulang punggung. Selalu dalam keadaan lapar. Situasi yang sangat sulit. Kemudian Jibreel 'alaihis salam datang. Nabi SAW berkata, wahai Jibreel AS, engkau datang ketika aku belum makan selama 3 hari.
Tiba-tiba mereka mendengar sesuatu yang berat/besar jatuh dengan bunyi gedebuk yang sangat keras. Nabi SAW terkejut. Nabi SAW bertanya kepada Jibreel AS, apakah Kiamat telah terjadi? Jibreel AS berkata, belum, ini belum Kiamat. Jibreel AS berkata, engkau telah menunjukkan rasa lapar dan kesulitanmu kepadaku sehingga ALLAH SWT tidak menyukainya. ALLAH SWT mengirimkan seorang malaikat khusus kepadamu. Seorang malaikat yang belum pernah turun ke bumi. Ini adalah pertama kalinya ia turun. Suara keras tadi adalah suara kedatangan malaikat tersebut. Malaikat itu datang di hadapan Nabi SAW dan memberi salam serta menyampaikan salam dari ALLAH SWT kepada kekasih-Nya. ALLAH SWT bertanya, kenabian seperti apa yang engkau inginkan? Kenabian dengan harta, kenabian dengan kekuasaan, kenabian dengan kerajaan, maka putuskanlah sekarang. Nabi SAW membuat keputusan itu dengan Musyawarah.
Ingatlah, dalam usaha dakwah kita, kita harus mengikatkan diri pada Musyawarah. Apa pun yang ingin kita lakukan, kita harus melakukan Musyawarah. Jangan bertindak sesuka hati. Jika kita melakukan pekerjaan agama tanpa Musyawarah, meskipun pekerjaan itu besar, itu tidak akan menjadi sumber kemuliaan tetapi akan menjadi sumber aib. Dalam usaha ini, bukan soal kecerdasan seseorang. Jangan membuat tipu daya. Usaha ini dari awal hingga akhir adalah pengorbanan.
Nabi SAW memiliki 4 penasihat yang selalu diajak Musyawarah oleh Nabi SAW. Dua di langit dan dua di bumi. Jibril AS dan Mikail AS berada di langit. Abu Bakar dan Umar RA berada di bumi. Mereka inilah 4 anggota dewan istimewa Baginda. Jika ada keadaan darurat, kita bermusyawarah dengan siapa pun yang ada lalu menyampaikannya kepada orang lain. Perlu menyampaikan kepada orang lain. Jika tidak disampaikan kepada orang lain, setan akan menyelipkan keraguan dalam hati.
Hari ini, tanpa kita menghadiri Musyawarah dan mengambil keputusan, segala tipu daya dan propaganda tersebar di internet/WhatsApp/media Facebook. Apakah hati akan bersatu atau terpecah? Bisakah kita mencapai persatuan atau tidak? Di Nizamuddin, tidak ada satu pun hal yang dikirim melalui internet/WhatsApp/Facebook. Mereka yang melakukan hal itu karena ingin memecah persatuan/kekompakan yang ada di (Markaz) Nizamuddin. Saya meminta kepada Bapak-bapak sekalian untuk tidak mempercayai berita apa pun tentang Nizamuddin yang ada di internet, WhatsApp, dan Facebook sampai Anda menyelidiki masalah itu dengan Nizamuddin.
Hal terbaik adalah pergi ke sana sendiri dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ketika Anda sudah melihat sendiri, maka Anda akan melupakan semua kecurigaan yang ada di kepala Anda. Tidak ada perselisihan di sana. Pekerjaan berjalan seperti biasa seperti sebelumnya. Sebagian orang ingin terkenal dan menyebarkan berita bohong serta fitnah di media.
Usaha ini adalah usaha ALLAH SWT. ALLAH SWT akan melindunginya. ALLAH SWT tidak membutuhkan siapa pun, tidak membutuhkan pengetahuan siapa pun, ALLAH SWT tidak membutuhkan pengorbanan siapa pun, tidak membutuhkan ketenaran siapa pun. ALLAH SWT dengan kekuasaan-Nya akan melaksanakan pekerjaan ini.
Dalam hitungan menit, ALLAH SWT dapat memilih siapa yang bisa melakukan pekerjaan ini, dan dalam hitungan menit pula, ALLAH SWT dapat menghapus siapa pun yang tidak ALLAH SWT kehendaki. ALLAH SWT melakukan segalanya. Di setiap zaman, hal ini terjadi. Kebenaran tetap benar. Pada setiap masa ALLAH SWT akan memenangkan mereka yang benar. ALLAH SWT akan menghapuskan kebatilan. ALLAH SWT akan menghapuskan angin kebatilan. Sampai kapan pun kebatilan tidak akan menang bila berhadapan dengan kebenaran.
Hari ini kita berpikir dengan alat media, agama bisa tersebar. Hal-hal palsu bukan untuk menyebarkan agama tetapi untuk menghancurkan agama. Semoga ALLAH SWT melindungi kita. ALLAH SWT telah menetapkan bahwa agama tersebar dengan cara Nabi SAW dan para Sahabat. ALLAH SWT menyebarkan agama dengan perjuangan dan pengorbanan.
Kemudian, Nabi SAW bermusyawarah dengan Jibril AS. Jibril AS memberi isyarat kepada Nabi SAW untuk merendahkan diri (bersikap tawadhu). Nabi SAW memahaminya. Nabi SAW berkata bahwa beliau tidak menginginkan kenabian dengan kekuasaan dan harta, tetapi Nabi SAW menginginkan kenabian dan kefakiran, kenabian dan penghambaan, sekali mendapat makanan dan bersyukur kepada ALLAH SWT, sekali tidak mendapat makanan dan bersabar.
Hari ini usaha ini datang dalam keadaan yang berbahaya. Karena sekarang adalah masa penerimaan, orang-orang menyambut. Ketika berusaha dalam keadaan sulit, berjuang, atau berkorban, orang bahkan tidak menerima, tidak ada dana, dan barulah kualitas akan terbentuk. Di masa penerimaan, orang menyukai usaha ini dan mereka akan menumpuk harta mereka, tetapi orang yang berusaha itu salah paham, ia mengira orang-orang menyambut/menerima dirinya. Tidak! Orang tidak menyambut dirinya, tetapi orang menyambut usaha agama, ia telah tertipu.
Jika kita memisahkan diri dari usaha ini, maka kita tidak memiliki apa-apa sama sekali. Usaha inilah yang telah menempatkan kita pada kedudukan tertentu. Karena usaha ini, ALLAH SWT telah memberikan kecintaan orang-orang kepada kita, orang-orang menghormati kita, dan orang-orang rela mengorbankan nyawa mereka untuk kita. Semua ini karena usaha agama. Ketika kita meninggalkan usaha ini, tidak ada seorang pun yang bahkan mau menyapa kita. Oleh karena itu, kita harus selalu bersama usaha ini. Jangan mengikatkan diri kepada seseorang. Kita mengikatkan diri kepada usaha ini.
Pada hari wafatnya Nabi SAW, Abu Bakar RA berkata: "Barang siapa bekerja/berjuang untuk Muhammad SAW, maka ingatlah bahwa Muhammad SAW telah wafat. Mereka yang bekerja untuk ALLAH SWT, maka ALLAH SWT Maha Hidup, ALLAH SWT berdiri sendiri, ALLAH SWT tidak mati, ALLAH SWT yang memberi kematian dan kehidupan".
Usaha ini adalah benar. Usaha yang ALLAH SWT telah anugerahkan kepada umat ini. Setiap individu umat harus melakukannya. Bukan untuk kelompok tertentu. Bukan untuk orang dari Malaysia, Indonesia, India, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat, Inggris, Afrika, Eropa, Makkah, atau Madinah. Melainkan, usaha ini untuk setiap individu umat hingga hari kiamat. Mereka yang melakukan usaha ini dengan benar, ALLAH SWT akan menjaga dan memajukan mereka dalam usaha ini. Kita harus menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan kita.
Di mana usaha ini dimulai, di situlah Markaznya. Markaz global adalah Nizamuddin. Markaz-Markaz lain di seluruh dunia adalah anak-anaknya. Sama seperti Ka'bah, semua masjid adalah anak dari Ka'bah. Di mana pun berada, masjid akan menghadap ke arah kiblat/Ka'bah. Dalam hal pekerjaan agama, segala urusan merujuk kepada Nizamuddin, apa pun ditanyakan kepada Nizamuddin dan mematuhi (keputusan) Nizamuddin. Ketika patuh, semua Markaz di seluruh dunia akan mencapai persatuan. Kita adalah satu cabang/dari Nizamuddin. Jangan berpikir kita asing dari Nizamuddin. Kita harus menganggap diri kita sebagai pekerja dari Masjid Banglawali. Kita adalah pekerja/pembantu. Jika kita memahami ini, maka kita akan tetap berada dalam usaha ini. ALLAH SWT akan mengambil khidmat agama dari kita. ALLAH SWT akan menjaga kita dalam usaha ini. ALLAH SWT akan memberi kita hakikat usaha ini. ALLAH SWT akan menyelesaikan masalah kita, kecil maupun besar.
Setelah Maulana Ilyas, Maulana Yusuf mengambil tanggung jawab. Beliau menjadi Amir pada usia 29 tahun. Para ulama besar pada masa itu sepakat dan mengangkat Maulana Yusuf RAH sebagai Amir. Padahal pada masa itu ada ulama yang lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya. Sebuah nama besar, misalnya, Maulana Ehtishamul Hasan RAH, paman dari pihak ibu dalam keluarga Maulana Ilyas RAH.
Beliau menyusun kurikulum pembelajaran kita. Beliau tidak tinggal di Nizamuddin. Beliau melakukan pekerjaan lain. Namun, usaha ini terus berjalan di Nizamuddin meskipun para pekerja agama berganti. Jangan berpikir, bahwa ketika para pekerja agama berganti, pekerjaan ini berakhir. Tidak! ALLAH SWT yang memilih mereka yang melakukan usaha ini. Oleh karena itu, kita harus menghubungkan diri kita dengan usaha ini.
Alhamdulillah, seluruh dunia telah datang ke Markaz Nizamuddin. Sebagian besar orang dari Malaysia dan Indonesia berada di Nizamuddin sepanjang waktu. ALLAH SWT memberkahi usia mereka, dan semoga ALLAH SWT menjaga mereka dalam usaha ini. Dari negara-negara asing, orang-orang pertama yang memberikan waktu untuk usaha ini, orang-orang pertama yang merangkul usaha ini, yang menjadi bukti dalam usaha ini, yang memberikan waktu mereka bersama Maulana Ilyas RAH, Maulana 'Ubaidullah RAH, mereka adalah murid-murid madrasah terdahulu, mereka adalah orang-orang dari Malaysia dan Indonesia. Bapak-bapak sekalian sangatlah beruntung. Allah telah melibatkan keturunan Anda dalam usaha ini. Karena pengorbanan kakek-nenek Anda di masa lalu, usaha ini telah maju.
Pada suatu masa, tidak ada madrasah di Malaysia. Tidak ada penghafal Al-Qur'an. Pada tahun 1982, Hadratji Maulana Inamul Hasan RAH membuka madrasah pertama di Kubang Bujuk, Terengganu. Setelah 20-30 tahun, ratusan huffazh Al-Qur'an. Bahkan para wanita telah menjadi ratusan hafizhah. Mari kita renungkan. Berkah apa ini? Ini adalah berkah usaha agama. Jika kita jauh dari usaha agama, apa yang akan terjadi? Jika kita meninggalkan Markaz, apa yang akan terjadi pada kita? Bagaimana kita mendapatkan petunjuk? Apa yang didapatkan umat? Demi Allah, semua ini karena berkah usaha agama. Kita harus memutuskan untuk terus melakukan usaha ini hingga akhir hayat. Kita tidak memiliki perselisihan. Apa pun yang dikatakan oleh para Elders kita di Nizamuddin, kita patuhi.
Setelah Maulana Yusuf RAH wafat, timbul persoalan siapa yang akan menjadi Amir. Ada para ulama dan dai besar. Maulana 'Ubaidullah RAH, Maulana Sayyid Ahmad Khan RAH, Mufti Zainal Abidin RAH, dan lainnya. Mereka melakukan Musyawarah dan memberikan berbagai usulan. Sebagian besar berpendapat untuk mengangkat Maulana Harun RAH sebagai Amir, putra Maulana Yusuf RAH, ayah dari Maulana Saad. Maulana Zakaria RAH adalah pelindung usaha ini, semua yang melakukan usaha agama mematuhinya.
Dengan petunjuk dari Maulana Ilyas RAH, beliau menulis buku-buku Fadhail Amal, Fadhail Sedekah, Fadhail Haji, dan Fadhail Perdagangan, serta ribuan buku ditulis dalam bahasa Urdu dan Arab. Beliau mengangkat Maulana Inamul Hasan RAH sebagai Amir. Namun ketika orang-orang dalam hatinya ada kelicikan, tidak setuju dengan keputusan itu, mereka meninggalkan Markaz. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri keadaan mereka setelah meninggalkan usaha ini. Apa kedudukan mereka setelah meninggalkan usaha ini? Nol. Oleh karena itu, kita harus mengabdikan diri kita untuk pekerjaan ini.
Inilah yang disebut keikhlasan. Meskipun kita ditawari hal-hal besar dan kedudukan-kedudukan besar, kita tidak menginginkan semua itu. Sampai akhir hayat, kita akan melakukan usaha ini. Semoga Allah memberikan kita keteguhan dalam usaha ini.
Ceramah-ceramah Maulana Yusuf RAH sangat kuat. Banyak orang pingsan ketika mendengar ceramahnya. Ada yang siap memberikan seluruh hidupnya ketika mendengar ceramahnya. Bahkan ada yang merobek pakaiannya dan lari ke hutan ketika mendengar ceramahnya. Dikatakan bahwa setelah Syekh Abdul Qadir al-Jilani, orang yang memberikan ceramah yang kuat tentang Tauhid adalah Maulana Yusuf RAH. Saat tasykil, semua orang berdiri siap untuk keluar. ALLAH SWT menjadikan Amir setelahnya, Maulana Inamul Hasan RAH, yang sama sekali tidak pandai berbicara. Sampai ia wafat, ia tidak pernah berbicara lebih dari 5 menit. ALLAH SWT ingin menyampaikan, wahai orang-orang yang melakukan kerja agama, kerja ini tidak berjalan karena ceramah Maulana Yusuf. Justru, pada era Maulana Inamul Hasan, usaha ini telah menyebar luas 10-20 kali lipat. Usaha ini telah menjangkau seluruh dunia.
Ketika Hadratji Maulana Inamul Hasan sakit, ia menghidupkan kembali sunnah Sayyidina Umar RA. Pada era Sayyidina Umar RA, ketika beliau hendak wafat, beliau tidak mengangkat seorang khalifah secara khusus. Setelah Rasulullah SAW, yang paling layak adalah Sayyidina Abu Bakar RA. Pada era Abu Bakar RA, beliau secara khusus menyebutkan nama Umar sebagai penerus. Sayyidina Umar RA di sisi lain memilih 6 orang. Mereka melakukan Musyawarah di ruangan tertutup dan memilih satu orang untuk menjadi Amir. Untuk menggerakkan usaha ini tidak perlu Musyawarah dengan sendirinya, tetapi seorang Amir harus diangkat. Usaha ini berjalan dengan Musyawarah. Musyawarah hanyalah untuk membantu Amir, bukan untuk menggerakkan usaha itu sendiri.
Oleh karena itu, Hadratji Maulana Inamul Hasan mengangkat 10 orang Syura (Ahlul Hal wal 'Aqad) untuk mengangkat Amir. Setelah Hadratji RAH wafat, semua orang yang bertanggung jawab dari India, Pakistan, dan Bangladesh berada di Nizamuddin. Mereka melakukan Musyawarah di ruangan tertutup selama 3 hari. Sebagian besar berpendapat untuk mengangkat Maulana Saad sebagai Amir. Sebagian menyarankan Maulana Zubair yang seharusnya menjadi Amir. Sebagian dari Delhi berpendapat Maulana Izhar yang seharusnya menjadi Amir. Hanya 3 nama ini yang diusulkan untuk menjadi Amir dari 10 orang yang berada di ruangan itu. Namun tetap belum dapat memutuskan siapa yang seharusnya menjadi Amir. Mereka melihat manfaatnya. Agar tidak terjadi perselisihan, timbul fitnah dan kekacauan. Jangan sampai kerja ini menjadi seperti gerakan-gerakan lainnya.
Penentu Musyawarah adalah Miyanji Mehrab. Setelah 3 hari, ia mengumumkan kepada majelis. Di antara 10 orang, hanya 3 yang diangkat sebagai Pengambil Keputusan (Faisala) yaitu Maulana Zubairul Hasan, Maulana Izharul Hasan, dan Maulana Saad. Dalam waktu singkat, satu per satu wafat. Kemudian tersisa Maulana Saad dan Maulana Zubair. Keduanya membuat keputusan dalam hal apa pun. Kami orang-orang Nizamuddin duduk dalam Musyawarah setiap hari, tetapi kami tidak pernah tahu siapa yang memutuskan di antara mereka. Setelah meminta pandangan/saran, hanya juru tulis yang tahu siapa yang membuat keputusan. Kerja ini berjalan dengan baik. Tidak ada perselisihan. Syura asli yang masih hidup adalah Bhai Abdul Wahab di Raiwind, Pakistan.
Pada waktu itu, Maulana Saad mulai menyusun Muntakhab Ahadits. Bhai Abdul Wahhab dan Maulana Zubair RAH tidak melarang. Dengan Musyawarah, buku itu akan dicetak di Pakistan dan dibaca secara bersama-sama. Namun, ketika hendak dicetak, Bhai Abdul Wahhab meminta agar Mukasyafahnya dikumpulkan dan dicetak bersama dalam buku itu.
Namun Mufti Zainal Abidin tidak setuju dan tidak mengizinkannya karena itu hanyalah kitab hadis, dan tidak boleh dicampur dengan kisah-kisah lain. Bhai Abdul Wahhab tidak senang. Ia tidak membaca buku itu secara bersama-sama. Buku ini telah diberikan kepada orang-orang dari usaha lain yang menentang usaha ini. Setelah mereka membaca, mereka mengatakan buku ini seharusnya dibaca secara bersama-sama.
Buku ini bukan ditulis oleh Maulana Saad, melainkan ditulis oleh Maulana Yusuf RAH. Buku ini berisi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang dapat digunakan. Orang-orang Arab juga menggunakan buku ini.
Maulana Yusuf RAH wafat dan tidak sempat mencetak buku itu. Kumpulan buku Maulana Yusuf RAH disimpan oleh Maulana Inamul Hasan RAH. Setelah itu, kumpulan buku itu diberikan kepada Maulana Saad untuk disimpan sebelum ia wafat. Maulana Saad menjadi pemiliknya. Ia duduk di sana dan mempelajari buku-buku di dalamnya. Di antara banyak buku, ia menemukan buku Muntakhab Ahadits. Buku itu sudah usang. Ia membawa buku itu ke Markaz Raiwind dan melakukan Musyawarah di sana. 3-4 ulama memutuskan untuk memeriksa buku itu. Kemudian buku itu dicetak dan dijual di Ijtima Raiwind. Semuanya terjual habis. Tidak ada satu pun yang tersisa.
Kemudian setelah beberapa tahun, Maulana Saad menganjurkan agar buku itu dibaca bersama dengan kitab Fadhail Amal dan Fadhail Sadaqaat. Sebelum Muzakarah 6 Sifat, bacalah Muntakhab Ahadits agar ketika menyampaikan 6 poin menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis-hadis dalam Muntakhab Ahadits. Buku ini diizinkan untuk dibaca secara bersama-sama.
Ketika Maulana Zubair masih hidup, sudah ada usaha untuk memakmurkan masjid dan 5 Amal di rumah. Maulana Zubair tidak menolaknya. Setelah Maulana Zubair wafat, beberapa orang sibuk meminta untuk membentuk Syura. Sebagaimana Bhai Abdul Wahhab tidak setuju dengan kitab Muntakhab Hadits, demikian pula, Maulana Saad tidak menandatangani surat pengangkatan Syura Alami. Tidak ada Syura Alami yang baru dibentuk.
Di Raiwind ada Syuranya sendiri, di Bangladesh ada Syuranya sendiri, dan di Nizamuddin ada Syuranya sendiri. Setelah diangkat, sebuah amanah dikirim ke Raiwind dan Bangladesh. 9 anggota Syura di Nizamuddin di antaranya adalah Maulana Ahmad Laat, Maulana Yaakob, Meiji Azmat, Maulana Yusuf (putra Maulana Saad), Maulana Zuhair (putra Maulana Zubair), termasuk Maulana Saad. Syura sudah ada di sana.
Mengapa membentuk Syura Alami lagi? Ketika ada masalah, mereka duduk dan melakukan Musyawarah. Ketika ada masalah, Maulana Saad dan Bhai Abdul Wahhab akan duduk dan membicarakannya. Ketika salah satu wafat, salah satu akan menjadi Amir Alami. Inilah yang disebut Musyawarah. Dalam hal syariat, inilah caranya.
Semoga Allah melindungi kita. Marilah kita tidak menyibukkan diri dengan masalah fitnah. Marilah kita menjadi orang-orang yang ikhlas. Apa yang telah kita lakukan untuk kerja ini? Marilah kita menyibukkan diri dengan usaha ini. ALLAH SWT akan menyelesaikan masalahnya.
Hari ini kita tidak melakukan Kerja. Kita hanya melihat orang, melihat internet/WhatsApp, dan kita menghancurkan diri kita sendiri dan keluarga kita. Marilah kita tidak menghancurkan usaha ini. Marilah kita teguh dalam usaha ini. Untuk semua urusan, kita merujuk kepada Nizamuddin. Setiap kali ada Musyawarah di Nizamuddin, satu salinan dikirim ke Raiwind, dan satu salinan dikirim ke Kakrail, Bangladesh.
Maulana Yusuf mengatakan Anda perlu datang ke Nizamuddin berulang kali. Maka Anda akan berbicara apa yang kami bicarakan. Namun jika Anda tidak datang, Anda akan berbicara apa yang ingin Anda katakan. Oleh karena itu, perlu pergi ke Nizamuddin secara rutin selama 2 bulan. Alhamdulillah, orang-orang yang bertanggung jawab dari seluruh dunia telah datang ke Nizamuddin. Setiap saat, 70-80 negara berada di Nizamuddin. Pergi dan lihatlah sendiri apa yang ada di Nizamuddin. Jangan dengarkan orang lain. Semua keraguan akan hilang. Markaz Alami adalah Nizamuddin. Kita akan mengikuti ajaran mereka. ALLAH SWT akan memberikan persatuan. ALLAH SWT akan membuka kenyataan kerja ini kepada kita.
Bhai Abdul Wahhab juga setiap hari memberitahu orang-orang untuk pergi ke Nizamuddin, pergi ke Delhi, pergi ke Mewat, pergi ke Guava. Keluarlah ke sana. Di mana pun kita dapat melakukan kerja, tetapi visi/kebijaksanaan kerja ada di 4 tempat. Guava adalah tempat pertemuan 2 sungai (Saharanpur, Muzaffarnagar, Merab, Sheikh). Mewat adalah tempat Maulana Ilyas RAH melakukan usaha. Pergilah ke tempat-tempat itu dan lihat orang-orang di sana melakukan kerja. Allah SWT akan membuka kenyataan kerja ini. Semua sudah siap?
Jamaah 4 Bulan untuk Negara Jauh dan Jamaah Masturat 2 Bulan untuk Negara Jauh perlu mendapatkan persetujuan & rute dari Nizamuddin. Setiap 2 tahun kita mengadakan Musyawarah di Nizamuddin dan tahun berikutnya orang-orang dari Nizamuddin akan datang untuk membuat Jor di tempat kita. Tidak ada perubahan dalam perintah.
Mereka yang berpikir ada perubahan, itu adalah kesalahpahaman mereka. Ketika kembali ke mahallah, semua perintah yang disampaikan kepada kita, kita lakukan seperti biasa. Hidupkan kembali 5 Amal Masjid dan kebiasaan memakmurkan masjid. Hidupkan kembali 5 Amal di rumah agar ada hubungan antara masjid dan rumah kita. Banyak keutamaan. Semoga Allah menerimanya.
[Akhir Ceramah]
Maulana Shamim meminta para pengikutnya untuk menyabotase mereka yang tidak patuh kepada Nizamuddin
Bayan 2016 (yang disebutkan sebelumnya) tampak dipersiapkan dengan baik. Namun, pada 2017 di Markaz Sri Petaling, Malaysia, Maulana Shamim memberikan ceramah dengan jenis yang "berbeda".
[Awal Kutipan Ceramah]
Dengarkan apa yang harus saya sampaikan di sini! Mereka yang tidak patuh kepada Nizamuddin, bahkan jika mereka dari Syura, jangan berikan mereka posisi apa pun, jangan izinkan mereka menyampaikan Bayan dan halangi mereka.
Dan kepada siapa pun, jangan berikan mereka tugas apa pun dan jangan gunakan mereka (untuk usaha Dakwah). Jangan bergaul dengan mereka.
Jika mereka datang sendiri, mereka tidak diundang. Jika mereka ingin bertobat dan meminta maaf, katakan kepada mereka, pertama-tama mereka harus pergi ke Nizamuddin. Di sana mereka harus meminta maaf dan bertobat. Pergilah ke sana dan bertobat, baru kemudian mereka dapat bersama kita.
[Akhir Ceramah]

