Apakah non-muslim akan masuk neraka? Apa nasib non-Muslim dalam Islam? Apakah non-muslim yang baik akan masuk Jahannam? Ini adalah pertanyaan yang sering diajukan.
Sebagai jawaban singkat, kami telah membuat bagan alur berikut untuk merangkum apa yang dikatakan Ijma (Konsensus) para Ulama mengenai hal ini. Namun, terlepas dari bagan alur tersebut, pada akhirnya Allah SWT dengan kebijaksanaan, keadilan, dan rahmat-Nya yang tak terbatas adalah yang menentukan dan mungkin memiliki pengecualian.

Premis Utama adalah bahwa Tuhan Maha Adil/Maha Adil
Sebelum mempertanyakan nasib Non-Muslim, atau bahkan Muslim sekalipun, kita harus memahami bahwa dalam Islam, Tuhan (Allah SWT) menyebutkan bahwa Dia adalah Al-Hakim (yang paling adil). Tidak ada yang lebih adil daripada Penghakiman Allah SWT.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
Dan takutlah pada suatu hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa akan diberi balasan yang setimpal atas apa yang telah diusahakannya, dan mereka tidak akan dizalimi. (Quran 2:281)
'Bagaimana mungkin Allah akan melemparkan non-muslim yang baik ke dalam Api Neraka?'. Pertanyaan ini tidak valid karena mengandung asumsi tersembunyi bahwa Allah SWT tidak adil. Bacalah lebih lanjut untuk mengetahui alasannya.
Akan ada pengecualian bagi Non-muslim yang belum mendengar dan belum yakin dengan Islam
Allah berfirman dalam Al-Quran:
Kami tidak akan menghukum sampai Kami mengutus seorang Rasul
Dari ayat ini saja, terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Allah tidak akan menghukum siapa pun yang belum menerima risalah Islam.
Seorang ulama besar Islam, Imam Ghazali RA, telah menyebutkan sebuah pengecualian bagi non-muslim yang mendengar pesan Islam yang terdistorsi. Di zaman sekarang, hal ini dapat disebabkan oleh:
- Media yang menggambarkan Islam sebagai biadab dan penuh kekerasan.
- Satu-satunya Muslim yang dikenal seseorang menunjukkan citra negatif tentang Islam.
Menurut Imam Ghazali dalam bukunya "Faysal al tariqa, Majmu'a rasa'il al Imam al Ghazali, 3.96", ia menyebutkan bahwa orang-orang seperti itu dimaafkan sampai mereka memiliki kesempatan untuk mempelajari kebenaran Islam yang tidak terdistorsi.
Orang-orang seperti itu dimaafkan sampai mereka memiliki kesempatan untuk mempelajari kebenaran Islam yang tidak terdistorsi
Imam Ghazali, "Faysal al tariqa, Majmu'a rasa'il al Imam al Ghazali, 3.96
Non-Muslim mungkin akan dikenakan ujian khusus pada Hari Kiamat
Ada kemungkinan bahwa Non-Muslim yang belum menerima risalah Islam atau belum yakin bahwa Islam adalah agama yang benar (karena distorsi) akan dikenakan semacam ujian pada Hari Kiamat.
Hal ini dapat dibuktikan dalam Hadis Sahih berikut:
Diriwayatkan oleh Al-Aswad ibn Saree, yang mengabarkan bahwa Nabi SAW bersabda: Ada empat (golongan yang akan mengajukan protes) kepada Allah pada Hari Kebangkitan: orang tuli yang tidak pernah mendengar apa pun, orang gila, orang yang sangat tua, dan orang yang meninggal pada masa Fatrah (masa antara zaman Isa dan Muhammad SAW). Orang tuli akan berkata: Ya Allah, Islam telah datang tetapi aku tidak pernah mendengar apa pun. Orang gila akan berkata: Ya Allah, Islam telah datang tetapi anak-anak mengejarku dan melemparku dengan batu. Orang yang sangat tua akan berkata: Ya Allah, Islam telah datang tetapi aku tidak memahami apa pun. Orang yang meninggal pada masa Fatrah akan berkata: Ya Allah, tidak ada Rasul dari-Mu yang datang kepadaku. Dia akan menerima janji ketaatan mereka, kemudian diperintahkan kepada mereka untuk memasuki Api. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, jika mereka memasukinya, ia akan terasa sejuk dan aman bagi mereka.
Para ulama telah menafsirkan frasa 'Dia akan menerima janji ketaatan mereka, kemudian diperintahkan kepada mereka untuk memasuki Api' untuk berarti bahwa orang tersebut akan dikenakan ujian khusus di Akhirat.
Frasa kedua 'Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, jika mereka memasukinya, ia akan terasa sejuk dan aman bagi mereka' adalah sebuah metafora bahwa jika mereka berhasil dalam ujian-ujian ini, mereka akan diselamatkan dari api Neraka.
Non-Muslim yang menjalani hidup tanpa beban tanpa pernah mencari Tuhan tidak akan memperoleh keselamatan
Dalam Islam, kita percaya bahwa mencari tuhan adalah Fitrah (naluri alami) manusia. Artinya, jika seseorang tidak mencari tuhan, jiwanya akan merasa gelisah. Namun, terlepas dari semua peringatan ini, jika sepanjang hidupnya dia tidak pernah sekalipun berusaha mencari tuhan, orang seperti itu tidak akan memperoleh keselamatan.
Orang seperti itu tidak akan memperoleh keselamatan jika sepanjang hidupnya dia tidak pernah sekalipun berusaha mencari Tuhan
Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah Hadis Sahih (Otentik) oleh Aisyah RA sebagai berikut:
Aisyah RA bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, pada masa Jahiliyah, Ibn Jud'an biasa menjaga tali silaturahmi dan memberi makan orang miskin. Apakah itu akan bermanfaat baginya?" Beliau menjawab, "Tidak, itu tidak akan bermanfaat baginya, karena dia tidak pernah berkata 'Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku pada Hari Kiamat.'" (Sahih Muslim, 214).

