Habib Umar tentang Maulana Saad

Habib Umar bin Hafiz (حبيب عمر بن حفيظ) adalah seorang Ulama Islam dan seorang guru Tasawuf/Sufi yang terkenal dari Yaman.

Dalam sebuah pengajian di Indonesia, tanpa menyebut nama, beliau secara terbuka mengkritik seorang ‘tokoh besar‘ dalam Jamaah Tabligh, yang merupakan ‘pembicara yang mengesankan‘ tetapi ‘memutuskan hubungannya dengan para gurunya‘, dan kini ‘telah menipu dirinya sendiri‘.

Hal ini sangat kuat mengarah pada Maulana Saad. Alasannya:

  • Saat menyampaikan ceramah ini, Habib Umar secara khusus menyebut ‘Jamaah Tabligh’ dan ceramah itu disampaikan pada puncak Ikhtilaf (Krisis Jamaah Tabligh). Beliau juga duduk di samping Habib Sholeh Al Jufri, yang merupakan anggota (Syura) Jamaah Tabligh asal Indonesia

  • Habib Umar menyebut seorang ‘pembicara yang sangat berpengaruh dan baik’. Dalam Jamaah Tabligh, ini bisa merujuk pada nama-nama besar seperti Maulana Ibrahim Dewla, Haji Abdul Wahab Sahab, Maulana Saad, dan lain-lain

  • Habib Umar menyebut bahwa orang tersebut memutuskan hubungannya dengan para gurunya. Inilah petunjuk terbesar karena hanya Maulana Saad yang benar-benar memutuskan hubungannya dengan guru-guru langsungnya, Maulana Ibrahim dan Maulana Yaqub.

Kutipan audio [Arab/Indonesia]

Terjemahan:

Habib Umar: “Gerakan Dakwah sangat signifikan pada masa itu. Sebagai contoh, Jamaah Tabligh memiliki pengaruh yang besar karena keikhlasan dalam perjuangan mereka. Gerakan ini didirikan oleh yang mulia Syekh Muhammad Ilyas. Ada juga banyak Da'i Allah lain yang tulus dan jujur yang memberikan dampak signifikan di dalam masyarakat. Namun, jika dalam Dakwah tidak ada hubungan dengan seorang Syekh yang memiliki kesucian spiritual, jiwa dari dakwah itu akan hilang dan Dakwah tersebut tidak akan pernah membawa dampak positif.

Dikatakan bahwa beberapa tahun yang lalu, muncul seseorang yang sangat berpengaruh di dalam masyarakat. Karena Dakwahnya, banyak orang ingin dekat dengannya karena mereka merasakan kesan yang mendalam setiap kali ia berbicara. Namun, orang ini, karena memiliki banyak pengikut di hadapannya, mengembangkan rasa bangga dan merasa diri penting. Ia memutuskan untuk memutus hubungannya dengan gurunya dan pada akhirnya menipu dirinya sendiri.

Akibatnya, ceramah-ceramahnya kehilangan dampak dan jiwanya, tidak lagi menggetarkan hati para pendengarnya. Meskipun ia adalah orang yang sama, menyampaikan ceramah yang sama dengan materi yang sama, ia sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan gurunya.”